Bagi saya, jalan-jalan itu bukan soal "apa" atau "di mana", tapi "dengan siapa".
Mungkin terkesan terlalu bergantung pada orang lain, manja, tapi menurut saya dengan siapa kita bertualang dan berbagi sepotong waktu dalam hidup kita, sangat penting.
Walau hanya sekadar ke lapangan lalu gelar tikar, minum air putih yang dibeli di perjalanan, pakai kendaraan umum pula; rasanya tetap lebih bahagia dan nikmat sekali ketika dijalani bersama orang-orang kesayangan yang tidak gemar mengeluh dan selalu hepi ceria; dibandingkan harus menghabiskan waktu di tempat mewah menggunakan kendaraan yang nyaman tapi bersama orang-orang toksik yang senang ngedumel, menggunjing, menyinggung ataupun mudah tersinggung dan pelaku drama tidak penting.
Serius.
Daripada menghabiskan waktu dengan orang-orang seperti itu, mendingan jalan sendiri. Tapi untuk tahu ketoksikan orang, ya memang harus jalan bareng dulu, ngalamin dulu, ngerasain dulu. Baru tahu.
Mungkin kita memang perlu ketemu orang-orang seperti itu, agar lebih menghargai orang-orang baik yang sering terlupa. Dan orang yang paling sering kita lupakan adalah diri sendiri.
Jadi, begitu lah maksudnya. Jalan-jalan itu bukan sekadar tentang apa dan di mana, tapi dengan siapa kita melakukan perjalanan itu juga menentukan kualitas dan pengalamannya.