Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan

5.31.2016

Hikmah Insiden Harambe

Pagi ini saya membaca berita mengejutkan tentang penembakan mati seekor gorila berusia 17 tahun lebih sehari bernama Harambe. Secara kebetulan, -oh, tidak ada yang kebetulan di dunia ini- malam ini, saya membaca sebuah catatan tentang pendidikan anak. Lalu apa hubungannya?

Catatan Kecil:
Sebagai seorang yang saat ini belum sempat  "menikmati" masa-masa merawat anak sendiri, mungkin tulisan ini akan terkesan seperti sok tahu. Tapi saya tidak menulis untuk memberi kesan. Terserah orang mau menilai saya seperti apa. Saya menulis ini murni untuk mengingatkan diri sendiri, dan saya bagikan ke khalayak umum dengan harapan dapat bermanfaat bagi orang lain. cmiiw

(credit: dailymail.co.uk)


Read more…

4.25.2016

Peliharaan Baru

Belakangan ini, nyamuk di rumah banyaak sekali. Selain banyak, mereka bandel. Biarpun tangan digoyang-goyang, kalau tidak ditepis dengan tangan mereka tidak akan kabur. Mana bekas gigitannya gatal. Benar-benar nyamuk nakal..

nyamuk nakal
nyamuk nakal..

Read more…

1.27.2016

Langit Biru

Dalam perjalanan keluar kota hari ini, saya menikmati langit yang biru, cerah tanpa awan.


Memang belakangan ini langit di tempat kami cepat berubah. Kadang cerah, lalu hujan. Biasanya sih hujan lokal. Setelah itu panas lagi. Kalau sudah mau hujan, gerahnya luar biasa, malah bisa terasa lebih gerah daripada kalau cuaca sedang terang alias cerah. Kalau kata kenalan yang alumni kimia sih, kondisi gerah yang kita rasakan di saat mendung-nyaris-hujan itu disebabkan oleh proses perubahan dari uap air (gas) menjadi air (cair), alias pengembunan atau kondensasi. Kondensasi merupakan kebalikan dari penguapan. Kalau penguapan memerlukan kalor atau energi panas untuk mengubah air (cair) menjadi uap air (gas), kondensasi justru melepas energi panas. Makanya jadi gerah. Fenomena alam ini yang mungkin mendasari orang-orang tua jaman dulu bisa memperkirakan cuaca secara tradisional: kalau merasa gerah berarti hari akan segera hujan. Semakin gerah, semakin lebat. Begitulah.

Oh ya. Ngomong-ngomong tentang langit yang biru cerah sepanjang jalan tadi, saya jadi teringat beberapa bulan lalu, waktu musim kemarau dengan kabut asap tebal (haze) melanda pulau kami. Waktu itu udara pekat oleh asap dan polutan berbahaya lain. Jangankan untuk melihat langit biru, untuk melihat beberapa meter ke depan saja sangat susah. Makanya waktu itu banyak yang rindu langit biru, termasuk saya.

Sekarang musim kabut asap tebal dan gila-gilaan sudah berlalu, alhamdulillah. Sayangnya, seperti perkiraan banyak orang, pihak yang harusnya bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh kabut asap itu justru dibebaskan oleh hakim di negeri ini, dengan alasan yang konyol. Tapi ya sudahlah, balasan tidak hanya dirasakan saat hidup.

Hari ini saya ingin mengingatkan diri sendiri untuk lebih ingat bersyukur atas nikmat yang dimiliki. Hal-hal yang seringkali kita lupakan atau abaikan atau kita anggap sepele, bisa jadi sangat diharapkan oleh orang lain. Seperti langit biru hari ini, atau cuaca Kota Khatulistiwa yang cenderung gerah di musim hujan dan panas di musim kemarau, atau waktu hujan turun deras agak lama yang membuat udara super duper sejuk untuk tubuh-tubuh yang terlalu terbiasa dengan suasana khatulistiwa yang panas dan gerah. Boleh cerita, komentar, atau mengeluh sedikit, tapi jangan berlebihan..

Semoga kita selalu ingat untuk bersyukur atas hal-hal sederhana yang bisa bikin bahagia. Bahagia itu memang sederhana, kan teman-teman? ;)


Read more…

11.27.2015

Pertemuan Para Penjaga Jantung Borneo

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan membantu Kanda dan kawan-kawan sekantornya yang mempersiapkan kegiatan pertemuan para pemuka adat wilayah Heart of Borneo (HoB). Sudah lama sekali tidak sibuk menjadi panitia penyelenggara kegiatan.


Acara pertemuan Masyarakat Adat wilayah HoB tersebut bertajuk "Visioning and Meeting of Local Community Leaders for the Heart of Borneo" yang diselenggarakan oleh PRCF-Indonesia dan didukung oleh WWF-Indonesia. Acara ini berlangsung selama dua hari, yaitu hari Senin dan Selasa (23-24 November 2015), dilaksanakan di ruang konferensi Hotel Aston Pontianak.

Sekitar 40 orang aktivis ikut hadir dalam pertemuan ini, termasuk 27 tokoh pemuka masyarakat adat yang mendiami kawasan sekitar HoB yang meliputi 3 negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam). Sayangnya, pemuka adat dari Brunei berhalangan hadir.


Malam sebelum pertemuan, peserta yang telah berada di Pontianak dijamu makan malam di salah satu restoran seafood di dekat hotel. Pada hari pertama, kegiatan diisi presentasi dan diskusi dengan pembicara dari Deputi Tata Kelola Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dilanjutkan diskusi dan presentasi kelompok mengenai kearifan lokal masyarakat. Setelah itu makan malam bersama (gala dinner) dilakukan setelah istirahat.

Usai makan malam, peserta dihibur oleh hiburan live musik Sape' yang dimainkan secara solo. Beberapa pemuka adat berusaha menikmati hiburan dengan menari tarian daerahnya masing-masing dalam iringan musik sape'. Suasana yang bersahabat.

** FYI, sape' adalah alat musik tradisional suku Dayak Iban yang dimainkan dengan cara dipetik. Bagi yang tertarik ingin mendengar suara petikan sape', silakan lihat di ig saya ya, @delyanetkarmoni. Ada beberapa video 15 detik yang bisa ditonton.


Hari kedua dibuka dengan presentasi dan diskusi bersama narasumber, dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Saya kurang menyimak presentasi dari narasumber karena sedang sakit dan kembali ke kamar hotel untuk beristirahat sebentar. Ketika kembali ke ruang konferensi, presentasi narasumber sudah berakhir. Yang saya ingat ada kenang-kenangan buku dan notes tenun dari PRCF untuk narasumber hari pertama maupun hari kedua.


Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan perumusan kesepakatan bersama mengenai tindak lanjut terkait HoB dan pertemuan lanjutan pada tahun 2016 nanti. Akhirnya, setelah surat kesepakatan siap, penandatanganan berkas dilakukan oleh seluruh pemuka adat masyarakat sekitar HoB yang hadir. Penutupan acara resmi dilakukan setelah proses penandatanganan dan makan malam selesai. Sekali lagi diiringi permainan musik duet sape' plus tarian adat Dayak.


Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dengan lancar. Alhamdulillah. Saya bahagia bisa menjadi bagian dan saksi kegiatan bersejarah ini.

Semoga ke depan, langkah awal kerja sama masyarakat adat di sekitar kawasan Heart of Borneo ini dapat berjalan dengan baik dan memberi andil penting dan nyata dalam upaya konservasi alam dan pengembangan potensi masyarakat adat yang selama ini hampir selalu dinomorsekiankan. Aamiin.


Read more…

9.06.2015

Kabut Bikin Ribut

Tadi siang waktu di bandara, ada sedikit insiden kecil. Ribut-ribut di gate yang akan kami masuki. Uwih, ada apakah gerangan?


Sebelumnya, kami bertemu dengan seorang teman kuliah yang akan pelatihan ke Jakarta. Maskapai kami sama. Teman kami itu seharusnya naik pesawat pagi tapi sampai tengah hari belum juga bertolak karena pesawatnya belum mendarat, sementara kami yang penerbangan siang sudah dipanggil ke gate tanda akan segera berangkat.

Aneh sih, tapi sebagai penumpang yang tidak tahu apa-apa, ya kami ikut saja, langsung menuju gate yang ditentukan. Gate masih ramai, riuh rendah malah. Padahal saya sekeluarga sudah telat beberapa menit karena saya dan Kanda singgah ke kamar kecil dulu. Saya yang memegang tiket segera mengantri di kerumunan depan gate.

Ternyata penumpang pesawat pagi melakukan protes kepada petugas bandara, meminta didahulukan. Alasannya karena mereka memesan pesawat pagi, harusnya didahulukan. Sementara itu petugas menjelaskan kondisinya bahwa pesawat yang harusnya datang pagi tidak dapat mendarat. Penumpang pesawat siang dipanggil duluan karena pesawat kode tersebut sudah duluan sampai. Kira-kira begitu.

Kalau saja saya berada di posisi penumpang pagi yang sudah lelah menunggu selama kurang lebih 5 jam, mungkin saya juga bisa bete. Dan bete itu memang bisa menular dengan mengerikan. Walaupun masih banyak juga sih yang terlihat sabar.

Yang membuat runyam adalah karena adanya oknum penumpang pagi yang memprovokasi suasana dengan berteriak-teriak kepada petugas bandara dan memaksa masuk ke pesawat siang apapun keadaannya. Ada juga oknum penumpang pesawat pagi yang malah bertengkar dan marah-marah dengan penumpang siang, padahal kami kan tidak tahu apa-apa. Bingung deh. Keterlambatan semacam ini kan termasuk dalam keadaan memaksa atau force majeure karena kabut asap tebal yang menutupi langit khatulistiwa. Bisa jadi kalau pilot pesawat pagi memaksa mendarat sesuai jadwal, keadaan malah tambah runyam. Tidak perlu saya sebutkan kemungkinannya karena terlalu mengerikan untuk dibayangkan. :(  Untungnya tidak, alhamdulillah. :)

Memang sih kabut asap hasil kerjaan manusia juga, kerjaannya orang-orang yang membakar lahan secara serampangan. Jadi kalau mau marah, saya pikir pihak tidak bertanggung jawab yang membakar lahan itulah yang harusnya diprotes keras. Iya nggak sih?

Kalau kata pepatah lama sih, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hanya karena segelintir orang membakar lahan, orang se-provinsi yang harus menanggung akibatnya. Atau bahkan lebih luas. Di cerita ini, contohnya adalah para penumpang pesawat pagi yang delay sampai 5 jam, petugas bandara, juga kami para penumpang pesawat siang yang dimarahi. Semua adalah korban. Belum ditambah penduduk yang mengalami ispa akibat kabut asap yang semakin tebal.

FYI. Saya pernah baca, kabut asap justru makin tebal di pagi hari. Jadi di musim kabut seperti ini, kalau tidak mendesak sebaiknya pilih penerbangan siang saja. Hanya saran.

Pelajaran lain dari cerita ini, marah itu wajar tapi cara dan kepada siapa melampiaskannya juga perlu jadi perhatian.

Semoga hujan segera turun dan kabut asap di kota kami dan kota-kota lain yang terdampak segera hilang, udara jadi bersih kembali, dan kejadian kabut asap tidak berulang lagi di tahun depan. Aamiin..


Read more…

6.02.2015

Hujan di Bulan Juni

Belakangan ini Bogor ikut-ikutan panas seperti Kota Pontianak. Begitu kata sahabat saya yang baru tiba dari Pontianak beberapa pekan lalu.

embun pagi


Read more…

5.25.2015

Nostalgia tentang Tempat yang Hilang

Sabtu malam. Setelah menyantap makan malam, Kanda duduk di atas motor di dekat teras rumah. Santai. Saya juga ikut-ikutan keluar untuk menikmati udara segar di luar rumah. Suasana kompeks rumah kontrakan sahabat saya itu memang tenang, ditambah keberadaan berbagai pepohonan rindang yang dihuni berbagai jenis burung, rasanya menenangkan. Saya berdiri di teras sambil berbincang kecil dengan Kanda. Tak lama, Mimil, sepupu Nhepa yang ikut ke Bogor juga keluar, disusul Nhepa yang baru selesai menidurkan anaknya.

Tanah yang hilang
credit: Bay Ismoyo/ Kompas

Read more…

5.09.2015

Nyanyian Ekskavator

Ini salah satu foto saya waktu penelitian di Desa Ensaid Panjang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Ekskavator ini digunakan untuk membuka lahan. Khawatir sih, karena ini dekaat sekali dengan kawasan berhutan Desa Ensaid Panjang. Apalagi memikirkan bahwa kawasan hutan di desa tersebut masih berstatus area penggunaan lain (APL) yang bisa berubah sewaktu-waktu. Bisa-bisa hutannya jadi kebun monokultur juga..

Bersama ekskavator
Saya dan ekskavator.
Foto diambil setelah mengunjungi Tawang Mersibung, salah satu hutan rawa Desa Ensaid Panjang 


Read more…

4.22.2015

Kuis Google di Hari Bumi Internasional

Hari ini tanggal 22 April, artinya Hari Bumi Internasional!

Yuk kita peringati hari bumi dengan mengintrospeksi apa saja yang sudah kita lakukan untuk bumi? Atau mungkin lebih tepatnya, apa yang sudah kita lakukan untuk hidup lebih harmonis dengan alam yang hanya satu-satunya ini? 

Kuis Google di Hari Bumi Internasional


Oke, memikirkan tentang perbaikan diri sendiri sebaiknya harus dilakukan dengan serius, tapi tetap santai ya. Nanti kerutnya bertambah lho! hihihi.  *ditimpuk duit*

Read more…

11.15.2014

Selamat Jalan, Pak Ilong...

Baru saja beberapa hari lalu saya membahas tentang Ensaid Panjang (lokasi penelitian saya dan suami) saat seminar hasil, hari ini saya dikejutkan oleh berita meninggalnya Pak Laurensius Ilong, salah seorang yang pengurus hutan desa di desa tersebut, salah satu responden penelitian saya.

Seingat saya, Pak Ilong adalah sosok yang tenang dan enak diajak berbincang. Usianya sekitar 50-an. Kabarnya beliau meninggal karena tekanan darah tinggi yang menyebabkan pembuluh darahnya pecah. Innalillahi wa innailaihi rojiun. :'(

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan semoga sepeninggalnya, kesadaran dan semangat pak Ilong dalam menjaga hutan selalu dikenang dan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua, aamiin ya Rabbal alamin... :'(

Selamat jalan, Pak Ilong...
(Dokumentasi oleh Imanul Huda)

Read more…

10.19.2014

Tanah Untuk Dijual


Bapak saya baru saja pulang dari Sambas.

Read more…

6.05.2014

100 Persen Indonesia ~ Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!

Sebelum malam tanggal 5 Juni ini berakhir, saya ingin mengucapkan selamat hari lingkungan hidup sedunia. Telat memang. Harusnya diposting di awal hari, tapi berhubung baru online di malam hari dan sempat lupa juga, jadi biarlah postingan kali ini saya dedikasikan untuk memperingati lingkungan hidup tidak hanya di tanggal 5 Juni saja melainkan juga di hari-hari selain itu juga. Dimulai dengan hal-hal kecil, yang sering kita anggap remeh.

Oh ya,

Read more…

6.02.2014

Hikmah Pertemuan Hari Ini

Hari ini Bu Nunung, dosbing saya, mengadakan pertemuan dengan anak-anak bimbingannya, termasuk saya. Dari 25 yang diundang, 17 yang hadir. Pertemuannya singkat, tapi memberikan arti bagi saya.

Yang hadir.. :)
Tidak dapat dipungkiri,

Read more…

3.10.2014

Keberanian Burung

Burung
mereka terbang melanglang buana
bertualang atau sekedar bercengkrama
hanya berbekal intuisi dan kepakan sayap di udara yang kosong

Mereka berkelana dengan perkasa
memperjuangkan kehidupan
tanpa ketakutan akan jatuh atau tersesat
berpegangan pada ketetapan Tuhan

Mengapa manusia sulit menjadi seperti itu?

Remembering my cute bird, Tama.. :)
(dok pribadi)

Read more…

3.03.2014

10 Binatang Ikonik Versi Saya

Coba jawab..

Beberapa hari lalu Kanda bertanya kepada saya, apa saja 10 binatang ikonik yang dapat saya sebutkan. Saya menjawab:

Read more…

Tanahku, Kalimantan

Tanahku, Kalimantan

Saya kembali melihat dokumentasi pemandangan menyedihkan, lagi. Kali ini oleh Greenpeace yang melakukan survei di Kotawaringin, Kalimantan Tengah pada tanggal 23-24 Februari 2014. Mungkin ada teman-teman yang sudah lama tahu, tapi mungkin ada juga yang belum..

Read more…

2.05.2014

Khatulistiwa Menanti Hujan

Hari ini facebook saya diramaikan oleh status teman-teman kampung halaman yang bertemakan kabut asap. Demikan pula kabar dari keluarga, katanya kabut asap kembali melanda Kalimantan Barat ~ entahlah bagian Kalimantan lainnya..

Menantikan hujan..
(sumber gambar: photo.net)
Kabarnya,

Read more…

1.17.2014

Jalan Rusak


Apa yang kira-kira akan teman-teman rasakan jika setiap hari harus mengalami perjalanan seperti gambar di atas? Kalau saya pribadi, tak terbayangkan, tak percaya... Bukannya kita sudah merdeka ya? :(

Read more…

12.21.2013

Kerbau Rawa

Dua tahun lalu, saat saya dan suami melihat kerbau di kota hujan, suami saya berkata bahwa ada kerbau yang dapat berenang. Saya hanya tertawa saja. Dalam hati tidak percaya dengan pernyataannya.

Masak, ada kerbau bisa berenang? Kenapa tidak sekalian beruang terbang atau buaya meloncat? :D

Read more…

12.11.2013

Langit

Memandang langit begitu menenangkan
terkadang mengerikan jika ia terlalu kelam

Memandang langit barang lima menit mungkin bukan hal yang biasa dilakukan orang kota
Sesak, sempit, atau terlalu sibuk tak sempat berleha-leha
hingga mata tak mampu memandang bintang di balik kabut polutan

Melihat langit, bagiku begitu menyenangkan
Menikmati biru wajahnya yang semburat memerah
atau bentuk awan yang tiap detik berubah
Menikmati langit
Sederhana namun membahagiakan
Apalagi bersama orang tersayang

Di atas itu semua
langit mengingatkanku kepada kekerdilan diri
pada kuasa Tuhan yang selalu mengawasi

Read more…