Tampilkan postingan dengan label IUFD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IUFD. Tampilkan semua postingan

3.14.2016

IUFD dan Keguguran, Serupa Tapi Tak Sama

Sudah 2 tahun lebih dari kepulangan Weissar ke hadirat Illahi, beberapa pekan belakangan Saya baru tahu kalau kejadiannya dulu ternyata bukan termasuk keguguran (misscarriage), melainkan IUFD (Intra Uterin Fetal Death).

(sumber gambar: www.multigfx.com)


Read more…

12.07.2015

Ujian Lisan

Semalam saya mendengar cerita yang selama 2 tahun belakangan disimpan oleh Mama' dan Kakak. Benar-benar tak disangka, mengejutkan, dan penuh pelajaran.


Awalnya Mama' keceplosan tentang salah satu kerabat kami yang sepertinya meninggalkan kesan negatif di hati Mama' dan Kakak (dan abang juga) ketika saya keguguran dulu. Saya pun bertanya penasaran, karena selama ini saya mengenal kerabat kami itu sebagai orang yang alim. Pun waktu masa berat itu, saya tidak ingat bertemu dengannya. Saya yakin kalau orang tersebut memang hanya bertemu keluarga saya di rumah, bukan saya. Mungkin waktu menghadiri pemakaman alm Weissar.

Mulanya Mama' terdiam dan terlihat tidak ingin membicarakan lebih lanjut. Sepertinya sesuatu yang dirasa akan sangat menyakiti saya jika saya mendengarnya. Saya tahu Mama' dan Kakak ingin melindungi saya, tapi karena saya desak akhirnya Mama' dan Kakak menceritakannya. Setelah 2 tahun lebih memendam di hati mereka!

Tak pernah saya sangka, kerabat yang selama ini saya anggap alim dan tahu agama, berkata bahwa anak saya memang sebaiknya meninggal saat itu, daripada menjadi anak durhaka nantinya.

Astagfirullah..

~~
Saya langsung teringat dengan cerita keponakan saya yang tahun lalu harus merelakan kedua orang tuanya berpulang ke Rahmatullah secara berturut-turut dalam setahun. Walaupun kedua orang tuanya adalah orang tua angkat, tapi sang anak tahu kalau orang tuanya sangat menyayanginya. Dan dia tahu siapa yang sering menceritakan miring keluarganya dan keluarga saya.

Anehnya, saat berkabung itu, ada kerabat jauh yang suka ikut campur tapi tidak pernah mengkonfirmasi cerita yang diterimanya, berkata bahwa kematian ayah bundanya itu terjadi karena sang anak durhaka kepada seorang adik angkat bundanya. Padahal kami tahu pasti, hanya malas berkoar-koar, bahwa adik angkat bundanya itulah yang sering membicarakan buruk keluarga kakak angkatnya dan keluarga kami, sehingga ada orang asing bodoh yang percaya dan dengan teganya bicara tidak-tidak kepada orang berkabung.
~~

Mendengar itu, tentunya saya agak syok, timbul sedikit sakit hati, tapi anehnya, lebih banyak perasaan iba kepada orang yang berkomentar tentang kepulangan anak saya, orang yang berkomentar tentang kepulangan ayah bunda keponakan saya, dan terlebih kepada penghasut mereka itu. Bukannya apa-apa, anak mereka memang banyak. Dua dari mereka punya lebih dari 2, semuanya sudah besar, sehat, berprestasi pula.

Tapi siapa di dunia ini yang bisa menjamin seseorang akan selamanya hidup lurus dan bisa berakhir dengan khusnul khotimah? Bagaimana kalau tuduhannya tentang anak yang besar menjadi anak durhaka, berbalik pada dirinya? Padahal itu hanya selentingan tanpa konfirmasi berita. Bahkan untuk anak saya, itu adalah tuduhan tak berdasar kepada orang yang sudah meninggal. Mereka tidak dapat sekalipun meminta maaf kepada anak saya.

Naudzubillahi min dzalik. Ini pelajaran yang penting untuk saya sendiri.

Beriman memang perlu kebanggaan dan kepercayaan diri yang tinggi bukan berarti merendahkan orang lain. Dalam berdakwah dan nasihat-menasihati, kita harus tetap ingat firman Allah dan nasihat Rasul bahwa manusia tidak boleh sombong, yaitu menolak kebenaran dan menjatuhkan orang lain. Tanyakan selalu di dalam hati, Siapa yang bisa jamin ujung kehidupan kita seperti apa, kecuali Dia, sementara Dia mendengarkan doa-doa orang teraniaya?

Berbuat baiklah tapi jangan pernah menganggap perbuatan baik kita cukup untuk mendapat syahid dan masuk surga. Karena bisa jadi, perasaan puas yang menghanyutkan itu bisa membuat kita ringan mengatakan hal-hal yang menyakiti hati orang lain. Dakwah islam punya etika. Berhati-hati dengan lisan karena cepat atau lambat ia akan menjadi ujian bagi diri kita sendiri. What goes around comes around. 

Saya bersyukur saya tidak menangis walaupun perasaan saya masih tersakiti dengan sangat saat menulis ini. Sakit karena mengetahui ternyata ada yang menyukuri kematian orang yang saya sayangi. Sekali lagi tidak, saya tidak menangis, atas kebaikan-Nya. Hati saya sudah beku, untuk orang-orang seperti itu.


Read more…

8.30.2015

Beberapa Hal yang Sebaiknya Tidak Diucapkan Kepada Wanita yang Keguguran dan IUFD

Pagi hari sebelum saya mengetahui bahwa anak saya meninggal dalam kandungan (IUFD), semuanya berjalan dengan normal. Walaupun saya tidak dapat banyak mengerjakan pekerjaan rumah karena mengalami beberapa keluhan ala wanita hamil tua, mood saya sangat baik pagi itu, terutama setelah kedatangan suami dari luar pulau sehari sebelumnya. Saya tambah bahagia karena di pagi itu saya flek, tepat di hari perkiraan lahirnya. Darah yang keluar membuat saya berasumsi bahwa kami akan segera bertemu dengan si kecil yang telah kami beri nama, Hanif Edelweissar.




Sekarang sudah 2 tahun lebih 1 hari setelah hari itu, hari ketika kami sekeluarga dikejutkan oleh kenyataan pahit bahwa bayi saya yang cukup umur untuk lahir itu ternyata sudah tidak berdetak jantungnya. Bayi yang sudah kami nantikan selama 2 tahun 1 bulan pernikahan ternyata harus kembali kepada penciptanya, tanpa bisa kami melihatnya lebih dulu.

Dokter menyuruh saya pulang dulu untuk menenangkan diri jika ingin persalinan normal (karena kondisi fisik saya masih memungkinkan), walaupun opsi operasi tetap terbuka jika saya dan suami menginginkan.

Sikap dokter saya tersebut sangat berkesan bagi saya. Ucapannya penuh simpati tanpa menghakimi kesalahan saya yang fatal: kelelahan dan salah mengira kram perut sebagai tendangan bayi. Itu sungguh kesalahan bodoh, tapi ibu mana yang sengaja melakukan kesalahan itu. Dan bu dokter tahu itu.

Sampai sekarang, rasa bersalah masih terus mengganggu mata menahan airnya atau hati menahan sedihnya. Ketika bayi saya pergi rasanya setengah diri saya pun ikut pergi. Ada yang hampa. Rindu. Kalaulah tidak ingat Tuhan dan tidak didukung oleh orang-orang kesayangan, mungkin saya sudah gila karena terus menerus menyalahkan diri sendiri. Mungkin saya tak pernah bangkit dari rasa keterpurukan.

Sekarang, rasa bersalah tetap ada, mungkin tak pernah pergi. Peristiwa ini sedikit banyak membuat saya berubah, tapi saya bersyukur dapat menjalani hari dengan lebih sadar. Pengalaman lama hamil, IUFD, dan kembali pada fase penantian, membuat saya belajar agar lebih menjaga lisan. Berikut ini beberapa hal yang sebaiknya tidak diucapkan kepada wanita yang mengalami IUFD ataupun keguguran, menurut saya. 


1. Bagaimana perasaanmu?

Di malam hari pasca persalinan, seseorang bertanya kepada saya mengenai perasaan saya. Apakah saya harus menjawabnya?

Terus terang, sejak proses persalinan selesai, saya dan Kanda bersepakat tidak membicarakan hal tersebut untuk sementara waktu. Setidaknya sampai kami sama-sama siap untuk membicarakannya. Yang pasti tidak saat itu. Saya tidak tahu apa yang mungkin terjadi kalau Kanda tidak mengusulkan itu. Mengingat fisik yang sedang lemah serta perasaan yang sedang rapuh, mungkin saya berteriak-teriak histeris dan pingsan.

Ketika bangun dari tidur usai melalui malam yang panjang, saya kedatangan para karib kerabat yang menjenguk, bergantian sepanjang hari. Saya masih berharap kejadian itu sebagai mimpi. Sepanjang hari saya tersenyum dan tertawa. Kanda dan keluarga kami juga. Senyum kami tentu bukan karena tidak sedih. Tak perlu ditanya, yang paling sedih akan kematian bayi tentu adalah orang tua, terlebih saya ibu yang mengandung.

Jadi ketika ada yang menanyakan bagaimana perasaan seorang wanita yang baru kehilangan anaknya, itu benar-benar terasa keterlaluan. Alangkah lebih baik jika ingin berbasa-basi, cari topik lain saja. Jika tidak ada, lebih baik diam.


2. Kok bisa?

Mulai dari kejadian tersebut baru terjadi sampai 2 tahun sudah lewat, banyak sekali karib kerabat yang bertanya tentang kejadiannya. Bagaimana mungkin, kandunganmu kan sudah besar, kok bisa?

Saya tahu orang-orang yang mendengar berita tersebut terkejut, sebagaimana juga saya sendiri. Mungkin mereka ingin mengekspresikan belasungkawa dan tidak menyangka akan kabar duka. Namun sejauh yang saya perhatikan, hanya orang-orang yang kurang memperhatikan saya saat hamil yang berkata demikian. Kok bisa? Kok bisa? membuat saya berpikir, "kok bisa saya mengalami ini, harusnya tidak. Betapa bodohnya saya", lalu menangis dalam hati.

Pertanyaan itu benar-benar mengganggu. Daripada kok bisa, ada banyak cara mengekspresikan belasungkawa. Pelukan hangat tanpa kata bahkan lebih kuat dari apapun.


3. Ceritakan padaku bagaimana ini bisa terjadi..

Ini 11-12 dengan poin sebelumnya. Sebab musabab meninggalnya seseorang, termasuk bayi dalam kandungan, memang selalu menarik rasa penasaran. Tapi tolong jangan terlalu kepo tentang itu. Apalagi menanyakannya detilnya langsung pada sang ibu. Ingat bahwa kita bukanlah satu-satunya manusia kepo di dunia.

Pengalaman saya dulu, hampir semua yang datang menanyakan hal yang sama kepada saya, tentang kenapa dan bagaimana kejadiannya. Kalau hanya satu atau dua orang dekat yang datang awal, mungkin tidak terlalu masalah. Saya juga tidak keberatan kalau yang bertanya adalah sahabat dokter saya dengan asumsi bahwa pengalaman saya mungkin bisa menyelamatkan kehamilan lain yang mereka tangani.

Tapi kalau semua orang bertanya mengenai hal yang sama sepanjang hari sepanjang bulan sepanjang tahun, itu terus berulang-ulang, rasanya sangat mengganggu. Bertanya tentang detil kejadian membuat wanita yang baru kehilangan anak terpaksa membuka lembaran kelamnya berkali-kali, seperti mengorek luka. Melelahkan dan menguras perasaan.

Saya beruntung mendapatkan media pengalihan yang efektif untuk menyalurkan cerita saya agar orang yang kepo berhenti bertanya tentang ini: blog. Kepulangan anandan ke haribaan Ilahi merupakan momen yang mendorong saya untuk terus menulis di blog. Saya ingin merekam kenangan anak saya dan mengingat kebaikan orang-orang yang mendukung saya selama ini. Selain itu saya ingin orang-orang membaca tanpa perlu bertanya terlalu banyak di dunia nyata. Saya lelah menjawab, saya ingin bercerita 1 kali dan didengarkan. Itu saja.

Jadi, daripada bertanya langsung tentang detil kejadian dan sebab musabab kejadian iufd ataupun keguguran, alangkah baiknya jika rasa penasaran itu disimpan dulu. Pikirkan apakah bertanya ini-itu lantas membantu menghidupkan bayi yang sudah meninggal. Jika tidak, lebih baik diam. Tapi kalau benar-benar tak mampu menahan kepo, tanyakanlah pada orang dekatnya di ruangan terpisah. Cerita yang didapat itu pasti tidak seakurat dan sedetil cerita langsung dari sang ibu, tapi setidaknya kamu tidak menyakiti perasaan wanita tersebut.

Kalau beruntung, mungkin ia akan membagikan ceritanya kepada dunia lewat blog. Seperti saya. Dengan begini, rasa penasaran akan terbayarkan tanpa bertanya. Tinggal kepo-in blognya saja. Kalau tidak, lebih baik diam. Tidak ada yang lebih penasaran mengenai kematian sang bayi melainkan sang ibu.


4. Harusnya kamu tidak ...

Buat saya, tidak ada yang lebih mengganggu daripada orang sok tahu yang ngeyel. Oke, mungkin ada: orang yang tidak tahu diri. Eh tapi orang yang sok tahu kan juga termasuk orang tak tahu diri: sudah tahu tidak tahu tapi sok tahu, malah ngeyel seperti paling tahu. Sebal kan?

Bahkan dokter saya yang notabene lebih tahu tentang seluk beluk kehamilan bla-bla-bla tidak serta-merta menunjuk dan menghakimi saya karena melakukan kesalahan. Jadi begitu ada yang mengatakan "harusnya kamu tidak kelelahan, harusnya kamu menjaga kesehatan, harusnya kamu bisa merasakan kalau ada apa-apa dengan bayimu, harusnya kamu memeriksakan kehamilanmu, harusnya begini-harusnya begitu", sementara perintah itu sama sekali tidak bisa membangunkan anak saya dari tidurnya yang panjang, saya merasa sangat tersakiti.

Lucunya, orang-orang seperti ini biasanya baru muncul di saat semuanya sudah terlambat. Atau tidak punya andil sama sekali sewaktu kehamilan saya. Mungkin itu juga sebabnya kenapa orang seperti ini bisa dengan mudah menghakimi orang lain, karena orang seperti ini tidak tahu apa-apa. Apa penyebab saya kelelahan, berapa kali saya periksa ke dokter, dan apa hasilnya, belum tentu tahu.

Alih-alih bertingkah paling tahu tapi sama sekali tidak membantu, lebih baik diam. Empati lah bahwa kejadian serupa bisa kita alami, setahu apapun kita tentang hal itu. Bukankah jika Allah berkehendak "jadilah" maka jadilah?


5. Kamu masih beruntung, ada banyak orang yang bahkan belum pernah hamil..

Perlu diketahui, menangis ketika ditinggalkan orang kesayangan tidak hanya berarti kesedihan yang mendalam, tapi bisa juga bercampur dengan bahagia karena pernah merasakan kebersamaan, rasa kehilangan, juga kerinduan yang mendalam karena tidak pernah bisa bertemu lagi. Untuk kasus seperti keguguran apalagi IUFD, rasa rindu seringkali lebih membuat frustasi: merindukan seseorang yang selalu bersama tapi tidak pernah berjumpa, merindukan seseorang yang tidak pernah dilihat padahal sangat dekat, merindukan seseorang yang tak pernah dikenal orang lain kecuali sang ibu sendiri. Itu sungguh perasaan yang menyakitkan.

Dan ketika ada yang membandingkan hal yang tidak dapat dibandingkan itu, rasanya menyakitkan. Seolah-olah wanita yang baru kehilangan anak lupa bersyukur atas keadaannya yang pernah hamil. Itu bisa jadi benar, tapi tidak selalu seperti itu. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, tangisan punya banyak arti dan alasan.

Daripada membanding-bandingkan, akan lebih baik jika mendoakan hal penting ini, "semoga kamu tidak pernah kehilangan prasangka baik atas ketetapan Tuhan".

Ingatlah bahwa komparasi (membanding-bandingkan) akan selalu melukai salah satu pihak yang dibandingkan. Lagipula siapa yang tahu berapa lama ia menanti dulu dan berapa lama ia akan menanti setelah kejadian tersebut? Jika nanti setelah keguguran/IUFD ia lama menanti momongan berikutnya, bukankah itu malah membuat lebih sedih?

Setiap orang punya ujiannya sendiri-sendiri, jadi jangan mudah membandingkan orang lain. Hidup ini bukan kompetisi.


6. Lebih baik sekarang..

Serupa dengan poin sebelumnya, orang-orang berusaha membuat agar lebih suportif bahwa wanita yang kehilangan anaknya yang sudah besar lebih menyakitkan daripada saya yang tidak pernah menjaga bayi saya. Padahal bukan itu intinya. Walaupun anak saya meninggal sebelum dilahirkan, tetap saja kepulangannya ke hadirat Ilahi meninggalkan jejak besar di hati saya. Apalagi usianya sudah cukup bulan. Weissar kecil meninggal dalam kandungan sehingga beberapa orang menganggap saya terlalu berlebihan jika merasa sedih.

Nyatanya, sejak saya tahu saya hamil, sama seperti calon ibu lainnya, saya punya banyak keinginan atas anak saya. Banyak rencana untuk anak saya. Masalahnya, anak saya meninggal duluan.

Daripada berkomentar siapa yang lebih sengsara dari siapa, lebih baik katakan bahwa seorang ibu tetaplah seorang ibu. Pasti takkan pernah lupa dengan bayinya meskipun tak pernah berjumpa. Saya jadi ingat pesan seorang kawan dekat saya, bersedihlah, menangislah, tapi tetap kuat ya, net.


7. Ini bukan rejekimu..

Saya tidak mengerti apa yang dimaksud rejeki bagi orang-orang seperti ini. Mungkin saya memang tidak sampai merawat bayi saya, tapi kehadiran anak yang meninggal itu bukan berarti sia-sia dan tak jadi rejeki kami sebagai orang tuanya.

Ketika mendengar orang berkata bayi kami bukan rejeki kami, saya ingin marah kepada yang berbicara, tapi tak kuasa. Saya terlalu lelah untuk melakukannya. Capek hati. Jadi daripada berbicara seperti itu, alangkah lebih baik cukup berkata, saya ikut berduka.


8. Surga itu ganjaran bagi orang tua yang kehilangan setidaknya 3 anak, atau 2 anak. Bukan 1 anak..

Mungkin teman-teman pembaca tidak percaya kalau ada yang berkata seperti ini kepada saya, tapi nyatanya ADA. Dan notabene keluar dari lisan seorang alim.

Saya memang sering mendengar hadist ini, mengenai janji surga kepada orang tua yang kehilangan tiga atau dua anak, dan inilah yang diungkit oleh orang yang berkomentar waktu itu. Satu anak tidak berarti apa-apa, apalagi yang belum lahir, kira-kira seperti itu, dan ini membuat hati saya hancur. Saya dan suami syok, sekejam itukah Tuhan dan Rasul kami? Tidak. Setelah kami pikirkan lagi, bukan itu maksud hadist tersebut. Orang yang berkata seperti itu mungkin salah tafsir dan berorientasi kuantitas (jumlah). Tuhan menghargai semua usaha hamba-Nya, termasuk usaha bersabar atas apapun cobaan yang dihadapi. Berapapun, 3 atau lebih, 2, 1, ataupun belum ada, semuanya dihargai Allah. Jangan terlalu dangkal. Allah lebih tahu. Alangkah lebih baik tidak berkomentar apapun daripada menghancurkan hati orang lain.

Dulu saya beruntung, ada seorang teman Mama' yang meminjamkan buku kumpulan hadist shahih waktu kami di rundung duka. Selama 2 tahun ini, saya dan Kanda dihibur oleh sebuah hadist Rasul lain yang menjanjikan surga kepada seorang pria yang anaknya meninggal. Hadist sahih atau hasan, tepatnya saya lupa. Yang pasti tidak dhoif. Pernah saya salin di blog ini dengan judul "kisah yang menghibur". Silakan cari dengan kolom search jika ingin tahu hadist mana yang saya maksudkan.

Daripada itu, alangkah lebih baiknya jika mendoakan agar wanita yang ditinggalkan, serta suaminya, menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.


9. Mungkin karena kamu melakukan bla-bla-bla / tidak melakukan bla-bla-bla...

Bla-bla-bla yang saya maksud adalah menyebutkan hal tertentu seperti amalan agama tertentu seperti doa, sedekah, sholat malam, dan lain-lain. Bisa juga mengenai makanan, minuman, atau obat. Ada juga yang menyinggung hal-hal berbau tahayul.

Sama seperti saran saya sebelumnya, sebaiknya jangan sok tahu. Kita tidak pernah tahu amalan baik apa yang orang lain usahakan.

Tentang yang menghubung-hubungkan kematian pada hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya (tahayul), apalagi di saat duka, membuat saya marah. Itu seperti mengolok-olok kedukaan yang sedang orang lain alami. Menyalahkan wanita yang mengalami keguguran/IUFD dengan hal yang masuk akal saja sudah keterlaluan, apalagi dengan hal yang tidak masuk akal.


10. Tiga bulan ke depan bisa dapat lagi kok..

Optimis sih, tapi kalau sudah lewat 3 bulan malah bikin jadi kepikiran. Komentar ini membuat gigi saya sakit. Mungkin saking mudahnya orang yang berkomentar dapat anak, sampai lupa kalau mendapatkan anak bukan ujian tengah semesteran.


11. Semoga segera diberikan kepercayaan oleh Tuhan..

Anak memang amanah besar tapi entah mengapa saya selalu merasa risau ketika mendengar ucapan ini. Apalagi biasanya ini diucapkan oleh mereka yang sudah mendapat kepercayaan itu.

Setiap rumah tangga halal yang normal pasti merindukan kehadiran anak-anak. Jika kepercayaan Tuhan hanya berorientasi pada jumlah dan keberadaan anak, maka pasti tidak ada penjelasan memuaskan tentang mengapa Tuhan menangguhkan memberikan seorang anak kepada seorang nabi sedangkan orang biasa bisa mudah mendapat anak. Termasuk abg ababil yang pacaran sembarangan yang langsung hamil. Apakah mereka ingin berkata kalau Tuhan tidak percaya kepada nabi-Nya dibanding abg ababil?


12. Kamu sangat kuat. Kalau saya jadi kamu, mungkin saya memilih mati..

Antara pujian dan hinaan. Untungnya, komentar ini hanya pernah saya dapati di sebuah forum online.

Tapi mari berpikir positif. Mungkin yang berkata seperti ini ingin menunjukkan empati yang mendalam. Sayangnya malah jadi berlebihan. Dalam keterpurukan, bisa jadi ada wanita yang pernah berpikiran seperti ini. Jujurnya, saya pernah walaupun hanya sebatas pikiran dan tidak pernah berniat melakukan perbuatan bodoh dan tidak bertanggung jawab itu. Jadi tolong, jangan pernah membuat pikiran konyol tersebut muncul dan terdengar normal bagi orang yang sedang terpuruk. Daripada berkata seperti itu, lebih baik hibur dengan berkata bahwa ujian ini memang berat namun Tuhan Maha Tahu kemampuan hamba-Nya. Tetaplah tegar.


Begitulah beberapa ucapan yang sebaiknya tidak diucapkan kepada wanita yang keguguran dan IUFD, menurut pengalaman saya selama 2 tahun ini. Semoga postingan kali ini bisa mewakili perasaan wanita yang mengalaminya. Setegar apapun seorang manusia pasti punya perasaan, apalagi jika baru mengalami kedukaan. Memang sih, diucapkan atau tidak, yang namanya orang sedang sensitif itu serba salah. Tapi mudah-mudahan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang ingin mengunjungi kenalan yang mengalami keguguran ataupun IUFD. Terima kasih..

Read more…

8.29.2015

Nama dan Bunga

Tidak terasa sudah tepat 2 tahun sejak kepulangan ananda keharibaan-Nya. Saya dan Kanda berkunjung ke rumah terakhir anak pertama kami yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah orang tua saya.


Read more…

8.08.2015

Baju Biru

Hari ini, ya, hari ini, tepatnya malam ini. Usai mandi sore, saya memberanikan diri melakukan sesuatu yang selama ini saya hindari: memakai baju dress katun berwarna biru. Hal yang sederhana dan mungkin terlalu berlebihan bagi orang lain, tapi ini merupakan langkah besar untuk saya.


Baju ini adalah pemberian kakak sekitar 2 atau 3 tahun lalu. Waktu itu kakak masih berdomisili di kota Sambas, Kalbar. Bahan ataupun modelnya tidak terlalu istimewa: gaun kembang payung tanpa lengan dari kain katun bermotif abstrak dengan pengikat yang bisa disesuaikan di bagian pinggang. Meski begitu, saya yang pencinta rok model kembang sangat suka memakai baju ini untuk sehari-hari. Apalagi bahan katun kan menyerap keringat dengan baik.

Yang membuat baju ini istimewa buat saya adalah momennya. Baju ini adalah baju yang sangat sering saya pakai di rumah saat hamil dulu. Dengan tubuh yang makin hari makin melar karena hamil, bahan dan model nya membuat saya merasa nyaman menggunakannya untuk sehari-hari. Tak jarang juga saya menerima tamu dengan baju rumah ini. Tinggal ditambah cardigan katun dan celana panjang hamil, plus jilbab tentunya.


Sejak melahirkan hampir 2 tahun lalu, saya tak lagi mengenakan baju ini. Pernah beberapa kali, tapi segera saya ganti karena rasanya tak kuat. Memakai baju yang sangat sering digunakan hanya saat hamil mengingatkan saya kepada momen-momen indah yang saya rindukan, kepada dia yang lama dinanti namun tak pernah dapat saya peluk. Memakai baju tersebut membuat saya sedih. Bukan karena tak bersyukur, saya hanya tak mampu menahan rindu.

Sejak hampir 2 tahun, momen kehamilan yang sampai hari ini belum berulang, masih cukup rapi di ingatan. Bebauan, suara, foto, dan batang-barang remeh seperti baju biru yang sudah buram warnanya karena keseringan dicuci ini, bisa serta merta membuat saya biru. Bukan di tubuh, tapi di hati.

Tapi hari ini saya berusaha. Meski baju lain sudah dicuci wangi dan disetrika rapi, saya beranikan memakainya. Saya rindu ananda. Ia mungkin tak di sisi, kami bahkan tak sempat merawatnya, tapi kenangan kehadirannya akan selalu ada di hati saya.

Lewat baju biru ini, saya bernostalgia.


Read more…

12.22.2014

Sembilan Bulan Penuh Rasa

(sumber gambar: www.multigfx.com)
Hamil dan melahirkan adalah fitrah wanita. Ada wanita yang tidak perlu menunggu lama untuk merasakannya, ada pula yang perlu waktu lebih panjang menantikannya. Saya sendiri, alhamdulillah, bisa merasakan kehamilan setelah 1,5 tahun berumah tangga.

Read more…

12.05.2014

Welcome, Babies!

(sumber gambar: www.ebay.com)

Pagi ini saya dapat 2 kabar dari 2 teman baik di 2 kota berbeda: Reny (Pontianak) dan mbak Roosna (Kupang). Alhamdulillah keduanya sudah melahirkan anak dengan selamat. Kebetulan, anak ketiga mba Roosna dan anak pertama Reny itu sama-sama anak perempuan. Waa, senangnyaa... ^^ alhamdulillah..

Read more…

12.04.2014

A Self Reflection: Mengapa Harus Berjumpa?

Penghujung tahun masehi semakin dekat. Berlalunya satu tahun bisa terlewat begitu saja tanpa makna jika tidak kita sendiri yang mengambil pelajaran.



Read more…

3.18.2014

Puisi Bayi

Tak pernah kusangka aku pernah seperti mereka
Senyum polos, mata bulat, pipi merah
Selalu berhasil meluluhkan hati sedih Ayah dan Bunda
Mengurangi kelelahan tubuh setelah seharian bekerja

Bayi mungil
Semoga engkau segera hadir

:)

#terinspirasi dari foto-foto bayi teman di facebook. Jadi ingat Mama, Bapak, dan (alm) Weissar... ^^   Love them so much

Read more…

2.13.2014

Setiap Kehamilan Spesial

Pagi ini sarapan ketoprak di depan apotek terdekat Kampus. Selesai makan, saya dan Kanda singgah ke apotek untuk membeli asam folat dan vitamin penambah darah. Saya menyempatkan diri menaiki alat timbang badan di samping etalase obat karena penasaran dengan berat badan saya. 50 kg, turun 5 kilo dari pengukuran sebelumnya saat masih di Kota Khatulistiwa dulu. Alhamdulillah tetap dikaruniai kesehatan jiwa dan raga.. :)

Usai dari apotek, saya dan Kanda berjalan menuju Kampus. Selama perjalanan saya berpikir.. Ya Allah, betapa tidak bijaknya saya dulu, membandingkan diri dengan orang lain..

Read more…

12.04.2013

Makam

Makam. Begitu banyak  pelajaran untuk kami di sana. Terutama tentang kehilangan, tentang kematian, tentang kehidupan setelah kematian, dan takdir.

Hingga detik ini saya masih sering teringat kepada ananda. Rasanya mustahil melupakannya, dan saya pun tidak pernah ingin mencobanya. Rindu yang menyiksa karena tidak akan mungkin terpuaskan oleh pertemuan mengingat kemustahilan bertemu dengannya lagi. Namun di balik itu, saya jadi mengingat Tuhan jauh lebih sering daripada sebelum kejadian itu menimpa kami.

Dan alhamdulillah sore hari ini saya dan Kanda diizinkan Allah untuk mengunjungi makam ananda Weissar. Bahagia karena kesempatan dan usia, dan bersyukur karena pernah dititipi makhluk imut oleh-Nya..

Tak banyak yang dapat saya bagikan dari artikel pendek ini. Saya hanya ingin bercerita, itu saja. Syukur-syukur kalau dapat menolong orang yang mengalami hal serupa... 

Merasakan kehilangan memang berat dan menguras air mata, tapi mau apa lagi. Semua kejadian adalah yang terbaik menurut Allah, in sya Allah..

Read more…

11.25.2013

Ikhlas itu bukan melupakan, sayang... Ikhlas itu menerima yang terjadi meskipun berat, meskipun selalu teringat. Ikhlas itu belajar menarik hikmah dan menguatkan hati, melewati kenyataan yang menghancurkan mimpi. Ikhlas itu bentuk kesabaran pada cobaan dan keyakinan bahwa segala kejadian adalah bentuk kasih sayang Tuhan..

Ikhlas itu bukan pekara mudah. Tapi itulah hidup, sayang, kita harus belajar sepanjang waktu..

Read more…

11.16.2013

Tomorrow Will Be Kinder

Dua hari yang lalu, untuk pertama kalinya saya mendengarkan lagu dari laptop saya. Sebelumnya, saya selalu mendengarkan murottal maupun musik dari laptop. Tapi keberanian untuk menyalakan musik, terutama musik instrumental yang biasa saya putar setiap pagi untuk diperdengarkan kepada ananda, tiba-tiba menghilang sejak saat itu... Setelah sekian lama akhirnya pada dua hari yang lalu, rasa penasaran mengalahkan kekhawatiran gara-gara Kanda mengirimkan sebuah lirik lagu yang belum pernah saya dengar via pesan facebook. Menurut saya, lirik lagu tersebut positif. Begitu... kami...

Read more…

11.15.2013

Mimpi yang Ingin Diulang

Siang tadi saya sempat terlelap. Mungkin lelah karena tidur kemalaman semalam. Rapel.

Dalam lelap, saya mengalami mimpi. Mimpi yang ingin selalu saya ulangi..

Read more…

11.07.2013

Penawar Hati

Membuka akun facebook itu begitu mudah, tapi yang saat ini "agak" sulit bagi saya adalah ketika melihat beranda. Banyak sekali teman-teman yang hamil seangkatan dulu sudah melahirkan dan kemudian memajang foto ananda-anandanya yang imut dan lucu di profil atau kronologi masing-masing. Ananda-ananda manis yang tanggal kelahirannya kurang lebih dengan almarhum ananda saya.. They're sooo cute!

Read more…

11.05.2013

Candu

Hari ini saya proklamirkan bahwa saya sudah tidak kecanduan facebook lagi... *baru sadar*  ^^ Alhamdulillah..

Read more…

10.28.2013

Finally I Face It, again...

Ada perasaan khawatir, akankah saya sanggup membuka akun fb pribadi tanpa air mata? Pertanyaan yang mengganggu, tapi saya lebih memilih mencoba lagi daripada terus memiliki keengganan tanpa alasan.

Read more…

Face it

Dua bulan sengaja tidak mengecek facebook, akhirnya semalam saya beranikan diri juga. Memang bukan akun utama yang saya buka. Baru berani buka yang satunya -yang untuk publikasi tulisan blog- mengingat grup yang saya ikuti dan jumlah teman di akun tersebut belum terlalu banyak. Untuk akun yang satunya, yang lebih pribadi, saya belum sanggup deh kayaknya... >.<  Sebenarnya ke fb juga agak terpaksa, ada yang perlu dilakukan, tapi saya anggap ini sebagai salah satu langkah perbaikan mental (mental recovery) setelah ditinggal ananda dua bulan lalu... Menghadapi momok.. Fight!

Buka akun, alhamdulillah notifikasi tidak terlalu banyak. Tapi setelah itu bingung juga mau ngapain di fb. Udah kemalaman. Tak sampai 7 menit kali ya, tulis status singkat yang diperuntukan bagi teman-teman, lalu log out.  Walau tidak lama, setidaknya saya sudah mencoba.  :D Iyeeey!

I did it, i did it, i did it. Hurray!    \(^0^)/

Read more…

10.22.2013

Sepuluh Menit

Telah lama bersama, baru kali itu akhirnya berjumpa
Hanya sekali, sepuluh menit yang berharga

Kepergiannya diantarkan hujan
Diantarkan angin
Diantarkan awan
Tapi bukan aku
Tanpa aku..

Tangis tak membawanya kembali
Sadarku, tapi tak jua berhenti

Dua yang kusyukuri
Sepuluh menit tak terganti
Dan Tuhan
TanpaNya, aku bisa gila

Read more…

10.11.2013

Ziarah Pertama

Setelah sekian lama, hari ini sampai juga hajat saya menziarahi makam ananda Hanif Edelweissar. Alhamdulillah :')

Read more…