5.25.2016
5.07.2016
- In: Culture, Putussibau
- Posted By: Delyanet
Burung Bubut dan Burung Ruai [Cerita Rakyat]
*Cerita fabel ini diceritakan kembali, mohon koreksi jika ada kekeliruan
![]() |
| Burung Bubut (kiri) dan Burung Ruai (kanan) [sumber gambar: omkicau.com dan ceritadayak.blogspot.com] |
4.05.2016
- In: Culture, Lovely Family, Sambas
- Posted By: Delyanet
Simberapian di Rumah Mak Ngah
![]() |
| Hasil simberapian |
12.08.2015
Cerita Gula Aren
11.28.2015
- In: Culture
- Posted By: Delyanet
Selimut dan Sarung Bantal Tenun
Setelah menghabiskan makan malam usai penutupan acara pertemuan para tetua adat di wilayah HoB, kami -panitia acara- kembali ke kamar hotel yang khusus di-booking untuk panitia. Cukup banyak barang yang diangkut kembali ke kamar, terutama barang dan perlengkapan dari stand pameran kain tenun yang sengaja ditempatkan di dekat pintu masuk ruang pertemuan selama acara.
Barang-barang yang dipamerkan di stand ada banyak jenis. Ada blus, kemeja, rok, tas, kain, syal, dompet, buku catatan daur ulang, sepatu wanita, dan lain-lain. Yang pasti, semuanya berhiaskan kain tenun ikat Dayak asli, bukan hanya motif. Cantik dan etnik. Sayangnya saya benar-benar lupa untuk memotret masing-masing produk.
Dari semua produk, ternyata ada 1 yang luput dipamerkan, yaitu selimut tenun tebal plus 4 buah sarung bantal kepala dan 2 buah sarung bantal guling dengan warna dan motif senada. Berhubung sedang berada di kamar hotel yang berdesain interior apik dan elegan, termasuk tempat tidurnya, selimut dan sarung bantal pun dipasang untuk keperluan mengambil contoh gambar produk untuk pameran yang akan datang.
Saya pun tidak mau kalah. Walaupun hanya relawan kegiatan, saya juga ikut mengambil foto selimut tenun yang cantik itu. Kenang-kenangan sekaligus untuk membantu promosi produk buatan masyarakat lokal di lokasi penelitian saya dulu, via akun media sosial saya. Saya sadar tidak bisa membantu dengan membeli (karena tidak ada budget nya), jadi semoga bantuan kecil ini bisa bermanfaat buat masyarakat Dayak Desa.
Untuk membuat satu set yang terdiri dari selimut katun yang cukup untuk tempat tidur ukuran 180 cm x 200 cm (king size), 4 sarung bantal kepala (4 pcs pillow case), dan 2 sarung bantal guling (2 pcs bolster case), diperlukan waktu yang cukup lama. Maklum, semuanya dibuat dengan tangan (handmade) seperti layaknya kerajinan tenun tradisional di daerah lain.
Selimut tebal berukuran besar ini memang jarang diproduksi oleh penenun, kecuali sudah dipesan terlebih dahulu (sistem pre-order). Selimut tenun yang kami foto ini pun punya cerita sendiri. Awalnya selimut ini dipesan langsung ke wanita penenun Dayak Desa oleh turis Belanda yang berkunjung ke Desa Ensaid Panjang. Namun karena merasa kurang cocok dengan motif yang dibuat, ia tidak jadi membeli yang ini dan memesan (dan membeli) selimut dengan motif lain yang disukainya. Begitulah akhirnya selimut ini dititipkan untuk dijual secara lebih luas. Siapa tahu ada yang suka.
Kepada teman-teman pembaca yang berminat dengan selimut ini, silakan kontak saya ya. Insyaallah nanti akan saya kirim detil secepatnya. Yang pasti, dengan membeli produk etnik buatan dalam negeri (seperti selimut ini) kita telah membantu mempertahankan eksistensi budaya dan memperkuat ekonomi masyarakat lokal.
11.27.2015
- In: Culture, Environment
- Posted By: Delyanet
Pertemuan Para Penjaga Jantung Borneo
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan membantu Kanda dan kawan-kawan sekantornya yang mempersiapkan kegiatan pertemuan para pemuka adat wilayah Heart of Borneo (HoB). Sudah lama sekali tidak sibuk menjadi panitia penyelenggara kegiatan.
Acara pertemuan Masyarakat Adat wilayah HoB tersebut bertajuk "Visioning and Meeting of Local Community Leaders for the Heart of Borneo" yang diselenggarakan oleh PRCF-Indonesia dan didukung oleh WWF-Indonesia. Acara ini berlangsung selama dua hari, yaitu hari Senin dan Selasa (23-24 November 2015), dilaksanakan di ruang konferensi Hotel Aston Pontianak.
Sekitar 40 orang aktivis ikut hadir dalam pertemuan ini, termasuk 27 tokoh pemuka masyarakat adat yang mendiami kawasan sekitar HoB yang meliputi 3 negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam). Sayangnya, pemuka adat dari Brunei berhalangan hadir.
Malam sebelum pertemuan, peserta yang telah berada di Pontianak dijamu makan malam di salah satu restoran seafood di dekat hotel. Pada hari pertama, kegiatan diisi presentasi dan diskusi dengan pembicara dari Deputi Tata Kelola Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dilanjutkan diskusi dan presentasi kelompok mengenai kearifan lokal masyarakat. Setelah itu makan malam bersama (gala dinner) dilakukan setelah istirahat.
Usai makan malam, peserta dihibur oleh hiburan live musik Sape' yang dimainkan secara solo. Beberapa pemuka adat berusaha menikmati hiburan dengan menari tarian daerahnya masing-masing dalam iringan musik sape'. Suasana yang bersahabat.
** FYI, sape' adalah alat musik tradisional suku Dayak Iban yang dimainkan dengan cara dipetik. Bagi yang tertarik ingin mendengar suara petikan sape', silakan lihat di ig saya ya, @delyanetkarmoni. Ada beberapa video 15 detik yang bisa ditonton.
Hari kedua dibuka dengan presentasi dan diskusi bersama narasumber, dilanjutkan dengan diskusi kelompok. Saya kurang menyimak presentasi dari narasumber karena sedang sakit dan kembali ke kamar hotel untuk beristirahat sebentar. Ketika kembali ke ruang konferensi, presentasi narasumber sudah berakhir. Yang saya ingat ada kenang-kenangan buku dan notes tenun dari PRCF untuk narasumber hari pertama maupun hari kedua.
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan perumusan kesepakatan bersama mengenai tindak lanjut terkait HoB dan pertemuan lanjutan pada tahun 2016 nanti. Akhirnya, setelah surat kesepakatan siap, penandatanganan berkas dilakukan oleh seluruh pemuka adat masyarakat sekitar HoB yang hadir. Penutupan acara resmi dilakukan setelah proses penandatanganan dan makan malam selesai. Sekali lagi diiringi permainan musik duet sape' plus tarian adat Dayak.
Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung dengan lancar. Alhamdulillah. Saya bahagia bisa menjadi bagian dan saksi kegiatan bersejarah ini.
Semoga ke depan, langkah awal kerja sama masyarakat adat di sekitar kawasan Heart of Borneo ini dapat berjalan dengan baik dan memberi andil penting dan nyata dalam upaya konservasi alam dan pengembangan potensi masyarakat adat yang selama ini hampir selalu dinomorsekiankan. Aamiin.
11.21.2015
Bubbor Paddas Buatan Mama'
Baiklah. Cerita yang hari ini akan saya tulis adalah tentang Bubbor Paddas atau Bubur Pedas. Ada yang sudah pernah makan bubur pedas?
![]() |
| Bubbor Paddas (photo by Janiarto Paradise) |
8.27.2015
Kaing Sambas, Kaing Bannang Ammas
Kaing Sambas atau kain Sambas adalah kain tenun benang emas yang berasal dari daerah Sambas, Kalimantan Barat. Beberapa daerah di Indonesia menyebut kain tenun semacam ini sebagai songket, jadi bisa dikatakan kaing sambas adalah semacam songket dari daerah Sambas. Tapi itu penyederhanaan, karena orang Sambas tidak menyebutnya sebagai songket melainkan kaing sambas atau kaing bannang ammas.
Seperti yang saya sebutkan di awal, kain sambas menggunakan bannang ammas atau benang emas. Benang-benang emas tersebut disusun menjadi pola-pola tertentu yang khas Melayu, salah suku bangsa mayoritas Sambas. Sebagaimana kain tradisional lain, pola-pola yang ada pada kain sambas terinspirasi dari alam, seperti pola puccok rabbong atau pucuk rebung pada kain sambas berwarna pink milik saya pada gambar di atas. :)
Dalam kehidupan Melayu Sambas, kain sambas biasanya dipakai pada hari-hari besar dan spesial seperti hari raya ied fitri (raye puase), hari raya ied adha (raye aji), undangan pernikahan, serakkalan (salawat nabi), acara resmi kerajaan, dan lain-lain. Kain sambas juga merupakan barang yang nyaris wajib ada di hantaran (paket hadiah pernikahan dari pengantin pria kepada pengantin wanita) dalam budaya pernikahan Melayu Sambas. Mungkin karena kesan benang emas yang mewah, kain ini hanya digunakan pada acara spesial atau diberikan untuk orang spesial saja.
Dulu kain sambas hanya berupa kain yang dijahit menjadi sarung, digunakan oleh para wanita sebagai bawahan kebaya atau baju kurung. Biasanya ada pasangannya berupa selendang besar berpola dan berwarna sama untuk disampirkan di bahu. Para pria juga menggunakan kain sambas, yaitu sebagai sabok atau kain pelengkap pakaian telo' belanga' (pakaian tradisional Melayu). Karena inilah ukuran kain untuk wanita dan kain untuk pria berbeda (cmiiw). Kain untuk wanita lebih lebar daripada kain untuk pria, tapi saya kurang tahu ukuran pastinya. Semoga lain kali bisa bertanya lebih lanjut secara langsung ke pembuat kain sambas.
Sekadar info, harga kain sambas sesuai dengan kesan yang diberikan: berkelas. Beberapa tahun lalu saja, sebelum saya menikah (tahun 2010 an), sehelai dihargai minimal 500 ribu-an untuk motif sederhana atau benang emas tidak penuh dan warna dasar 1 warna. Harga ini bervariasi untuk tiap kain tenun karena disesuaikan dengan kerumitan pola, ukuran kain, dan jumlah warna dasar kain. Saya kurang tahu harga sekarang berapa, soalnya belum punya budget untuk beli lagi walaupun ingin (curcol, hhihi). Yang jelas sudah dapat bayangan kan berkelasnya kain ini?
Eh, tapi kalau dipikir-pikir, harganya sepadan kok, karena selain terkesan mewah oleh benang emas, kain sambas memakai benang yang tebal (tahan lama jika dirawat dengan baik). Selain itu juga ini sebagai bentuk apresiasi atas nilai budaya, keahlian, ketelatenan, dan kesabaran pengrajin kain sambas. Soalnya sepengetahuan saya, kain ini masih dibuat dengan mesin tenun biasa, jadi untuk membuat 1 kain cantik diperlukan waktu, tenaga, dan ketelitian tinggi. Satu kain saja pengerjaannya bisa berbulan-bulan. Duh..
Mungkin karena harganya itu, sekarang kain sambas banyak diaplikasikan sebagai aksen agar lebih terjangkau semua kalangan. Ada baju koko, selendang kecil, songkok atau peci, sajadah, hiasan dinding, dan lain sebagainya. Harganya tentu lebih tinggi daripada baju koko, selendang, songkok, atau sajadah biasa, tapi pasti jauh lebih terjangkau jika dibandingkan dengan harga kainnya.
Berminat dengan kain sambas? Hubungi saya via email yaa. Siapa tahu saya bisa membantu. ;) Bye!
8.21.2015
- In: Culture, Lovely Family
- Posted By: Delyanet
Rumah Radakng
Kanda baru saja pulang dari mengantar teman kuliah kami yang berkunjung ke Pontianak. Mobil sewaan dibawa ke rumah. Seperti rencana sebelumnya, kami ingin jalan-jalan sebentar sekeluarga sebelum mobil sewaan dikembalikan keesokan paginya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 kurang 15 menit. Sudah malam, memang. Tapi demi memenuhi keinginan jalan-jalan itu, kami tetap nekad turun dari rumah, tanpa tujuan jelas. Pokoknya jalan-jalan. Itu saja.
Awalnya saya dan Kakak mengusulkan ke Alun-alun Kapuas, tapi Kanda dan Abang bilang Alun-alun Kapuas sedang ditutup untuk umum karena ada persiapan acara nasional "Karnaval Khatulistiwa" yang akan digelar tanggal 22 Agustus. Kami sempat kebingungan, namun kemudian memutuskan ke Rumah Radakng saja. Kebetulan sudah lama saya dan Kanda belum sempat ke rumah besar bernuansa tradisional Dayak ini. Waktu di Bogor, kami menargetkan harus ke Rumah Radakng.
Eh, ternyata semuanya juga belum pernah ke sana, paling-paling cuma sekadar lewat saja. Dari serumahan, hanya Isna (keponakan) yang pernah ke Rumah Radakng. Itupun dalam rangka membawa teman seangkatan KKN Kebangsaan-nya yang berasal dari luar pulau Kalimantan. Tapi berhubung ia mudah mabuk perjalanan, ia menolak ikut karena khawatir muntah. Padahal sudah dipaksa-paksa tuh.. -_- Memang kan biasanya begitu ya. Seperti saya sendiri, lahir dan besar di Pontianak tapi di usia 27-an baru mengunjungi Tugu Khatulistiwa yang jadi ikon Kota Pontianak a.k.a Kota Khatulistiwa. Itupun karena ikut suami bawa teman dari Denmark dan Amerika. Apa-apaan itu. Sungguh ter~la~lu, kata oom Oma..
Ya sudah. Karena belum ada seorangpun dari kami (yang pergi) yang pernah mengunjungi Rumah Radakng, kami pakai modal nekad.
Sekadar info singkat, Rumah Radakng adalah rumah adat Dayak yang dibangun di kawasan budaya, bertetangga dengan rumah melayu. Rumah ini dibangun sebagai pusat kegiatan budaya Dayak. Menurut beberapa info sih, rumah adat ini adalah rumah adat Dayak terbesar. Panjangnya sekitar 138 meter dan lebar 5 meter.
Rumah Radakng diresmikan oleh Drs. Cornelis MH (Gubernur Kalimantan Barat) pada tahun 2013. Jadi hitung-hitung, tahun ini baru berusia sekitar 2 tahunan. Yah, kalau begini, wajar kan kalau saya baru sampai ke rumah besar ini (ngeles, hhehe).
Masuk halaman Rumah Radakng, mobil diparkir di dekat semacam tugu kecil atau apalah. Kurang jelas karena malam. Tapi malam tak menyurutkan nadi di Rumah Radakng. Entah ini terjadi tiap malam atau tidak, saya kurang tahu. Tapi yang jelas malam itu banyak orang yang mempersiapkan mobil hias untuk
karnaval khatulistiwa. Kota kami memang sedang semangat menyambut event besar tersebut. Maklum, acara puncak dirgahayu RI ke 70 sekaligus acara karnaval nasional pertama. Itu benar-benar kepercayaan besar untuk Kota Seribu Parit, Pontianak. Apalagi kan orang ibukota banyak yang datang, termasuk orang nomor satu Indonesia saat ini.
Kesan pertama waktu melihat bangunan ini: Rumah Radakng ini memang besar, dan tinggi! Kolongnya saja tinggi, khas rumah-rumah tradisional Dayak, Betang. Terdapat ukiran khas Dayak di tiang-tiang kayunya. Memukau.
Selanjutnya kami naik tangga ke atas. Tingginya kurang lebih 7 meter. Nah lho! Saya sudah pernah bilang kalau saya takut ketinggian (acrophobia) belum? Kalau belum, ini saya kasih tahu. Hehe.. Pas naik tangga, di pertengahan kaki saya bergemelutuk ngeri. Tinggi euy.. Untung yang kami naiki adalah tangga dengan pegangan di kiri dan kanannya, jadi walaupun bergerak seperti siput, saya masih bisa menguat-nguatkan diri dengan memegang erat-erat pegangan kayu di kedua sisi tubuh. Tak terbayangkan kalau harus naik kayu dari belian bulat besar yang dijadikan tangga. Bisa-bisa saya bertingkah bak lintah makan: tak bergerak dan menempel erat di anak tangga. Khusyuk.. :p
Pas sampai atas, alhamdulillah, senaang sekali hati saya. Bukan hanya karena bisa lepas dari ketakutan pada ketinggian waktu naik tangga, tapi juga karena bisa jalan-jalan bersama keluarga, walaupun dengan mobil sewaan alias belum punya mobil sendiri. Bahagia memang sederhana.. ^^
Sepanjang menyusuri rumah adat, kami sempatkan berfoto, tapi sayang hasilnya kurang memuaskan karena penerangan kurang. Kan malam.. (ngeles lagi)
Kami juga sempat mengintip ke dalam ruang aula. Kebetulan ruang aula sedang dibereskan untuk acara keesokan harinya. Menurut info yang diperoleh, kapasitas aula utama rumah adat ini mencapai 600 orang lho!
Jalan-jalan sampai ujung satunya, kami cukup lama foto-foto dan bersenda gurau. Apalagi ada si kecil Ara (keponakannya Abang) yang lucu dan menggemaskan, jadi tambah asyik. Tapi karena malam semakin larut, akhirnya kami pulang. Sebelum pulang, kami singgah makan mie ayam dan bakso dulu! Review-nya, nanti deh. Sudah dulu ya. Tak terasa postingan kali ini saya cukup bawel. Tulisannya jadi panjang, sepanjang Rumah Radakng, Pontianak. Hhihi. Salaam.. ^_*
8.20.2015
Laksamana Mengamuk
Kemarin kakak mengolah beberapa buah bacang atau embacang yang dibawa Isna sebagai oleh-oleh dari kampung halamannya. Buah jenis mangga-manggaan yang berbau harum ini dibuat menjadi minuman segar bernama sangar: laksamana mengamuk. Serem nggak tuh?! :p
Laksamana mengamuk adalah minuman khas masyarakat Melayu, jadi tidak heran kalau melayu Kalimantan Barat familiar dengan minuman ini sebagaimana melayu di pulau seberang, Sumatera, terutama di daerah yang dimayoritasi oleh suku Melayu: Riau. Kenapa? Karena saudaraan dan lanskapnya pun menyediakan bahan yang sama: buah embacang. ^^
Cara membuatnya cukup mudah. Kulit buah embacang dikupas lalu isinya dicincang dan dipisah dari bijinya. Setelah itu direbus dengan santan yang sudah mendidih dan ditambah gula secukupnya. Mirip cara membuat kolak, ya, tapi santan yang kemarin kakak buat sengaja tidak kental dan gula yang digunakan adalah gula pasir sehingga minuman ini tidak sekental dan seberat kolak. Manisnya manis buah dan teksturnya tipis. Eh, tapi ada juga sih yang membuat dengan menggunakan santan yang banyak atau menggunakan gula merah sehingga teksturnya tebal dan kental. Itu tergantung selera di rumah masing-masing.
Sejarah kenapa minuman ini disebut laksamana mengamuk masih perlu saya cari tahu. Kalau sudah dapat, akan saya ceritakan lain waktu di blog ini, insyaallah. Untuk sementara ini dulu. Buat yang punya pohon embacang, silakan mencoba minuman segar dan harum ini ya. Tapi hati-hati karena laksamana mengamuk bisa membuat perut orang yang memakannya jadi mengamuk, minta lagi. Hehehe. ^^
8.19.2015
Buah Pinang dan Beras Kampung
Beberapa hari lalu, waktu mengunjungi rumah keluarga (insanak), ada satu hal yang menarik perhatian saya. Di rumah insanak kami itu, ada beberapa pohon pinang. Melihat itu Bapak saya meminta beberapa buah pinang untuk dibawa pulang. Buat apa, coba? O.o
Yang saya tahu, buah pinang digunakan sebagai teman makan sirih di jaman dulu. Tapi bahan campuran nya apa saja saya tidak ingat karena belum pernah melakukannya sendiri. Cuma lihat dari jauh waktu kecil dulu. :p *ngeles..
Setelah wawancara singkat ke Bapak, ternyata buah pinang yang diambil itu akan digunakan untuk mengusir kutu beras di rumah. Konon beras kampung lebih wangi daripada beras biasa di pasar, tapi kutu berasnya lebih banyak. Makanya orang kampung sering memanfaatkan buah pinang untuk mengusir kutu beras tanpa mengubah rasa beras kampung.
Sebelumnya saya hanya tahu kalau buah pala yang bisa mengusir kutu beras, ternyata buah pinang juga bisa.. hmm
Kebetulan di rumah ortu ada beras kampung wangi yang memang punya kutu beras berjumlah bombastis (bikin susah dicuci, heuheu), sepertinya sudah saatnya mencoba lagi tips jaman baheula. ^^
Cara memanfaatkan buah pinang untuk mengusir kutu beras cukup mudah. Tinggal pilih buah pinang tua, kupas, lukai bagian luarnya (kikis), lalu benamkan di kontainer beras yang ada berasnya, niscaya kutunya akan pergi karena tidak tahan dengan aroma pinang. Insyaallah.
Murah dan cukup mudah, ya, mengusir kutu beras. Apalagi di sini pohon pinang lumayan banyak, ini seperti kearifan lokal: Tuhan menyediakan lewat alam, kita memanfaatkan. ^^ Oh ya, waktu mengupas kulit pinangnya hati-hati ya. Don't cut yourself. Akhir kata, selamat mencoba!
8.18.2015
Putu Piring
Kue putu adalah salah satu camilan khas dan tradisional dari Indonesia. Di Pontianak, ada beberapa jenis kue putu. Ada putu bulloh/ putu buluh atau putu bambu (seperti yang saya ceritakan), ada putu piring, ada juga putu mayang. Tapi untuk kali ini saya mau cerita sedikit tentang putu piring..
Di Kalimantan Barat, putu piring punya beberapa nama lain. Ada yang menyebutnya putu piring, ada yang menyebutnya putu mangkok, ada juga yang menyebutnya putu cangkir. Semua itu terinspirasi dari wadah cetakannya. Jaman dulu, kue yang berwarna putih ini dibuat dengan cetakan mangkok kecil, piring kecil, ataupun cangkir kecil. Jadi deh namanya lucu-lucu.
Berhubung dari kecil saya memang suka kue putu piring, jangan ditanya rasanya karena saya pasti akan jawab: enak! Hehe..
Rasa putu piring kurang lebih saudaranya, putu buluh. Keduanya terbuat dari tepung beras, diisi gula merah dan dibalut kelapa yang gurih. Meskipun serupa, tapi warna dan rasanya agak berbeda. Kalau putu piring berwarna putih, putu buluh berwarna hijau. Ukuran dan bentuknya juga mudah dibedakan.
Penjual putu piring biasanya menjual dagangannya dengan gerobak dorong tapi mangkal (menetap) di satu tempat. Di Pontianak, sejauh ini, ada satu tempat penjual putu piring yang paling saya dan keluarga sukai, yaitu di Sungai Jawi dekat simpang Pancasila. Adonan putunya pas, isi gula merahnya banyak sampai meluber-luber, kelapanya gurih. Hmmm, yummy.. ^^
8.17.2015
- In: Culture
- Posted By: Delyanet
Sape'
Siang hari ini, saya dan keluarga mengunjungi rumah salah seorang saudara yang terletak di kawasan Pontianak Timur. Karena kami berdomisili di Pontianak Tenggara, maka kami melewati jalan raya A Yani. Pas di lampu merah simpang 4 Jalan A Yani itulah, di bawah teriknya matahari khatulistiwa, saya dan suami melihat sebuah alat musik tradisional yang dibawa oleh salah seorang pengendara di depan kami.
FYI teman-teman, alat musik ini bernama sape'. Sape' adalah alat musik tradisional Dayak. Bentuknya mirip kecapi dan gitar. Cara memainkannya dengan dipetik. Bunyi yang dihasilkan oleh alat musik ini sangat unik.
Menurut saya pribadi, bunyi alat musik sape' hampir selalu membuat saya merasa bahwa saya berada di kedalaman hutan tropis yang sejuk, dengan dedaunan hijau yang basah dan air sungai yang mengalir di riam kecil, menabrak bebatuan kali. Seperti dibelai angin hutan dan diperciki air sungai yang segar. Membuat kita merasa dekat dengan alam, menenangkan..
Mungkin pendapat saya di atas terkesan berlebihan, tapi saya yakin saya tidak sendiri. ^^ Kalau kamu, teman, apakah sudah pernah mendengar bunyi alat musik tradisional ini?
Indonesia memang tak hanya kaya kekayaan alam, yaa, tapi juga kaya budaya. Sekalian deh, dirgahayu 70 tahun Republik Indonesia!
8.13.2015
Putu Buluh
Sore ini kami sekeluarga sibuk membolak-balik album-album foto berisi foto-foto lama. Gara-gara kemarin saya iseng mengirimi Kakak beberapa foto masa kecilnya yang lucu via bbm dan pamer beberapa foto kecil saya sendiri, Kakak jadi terilhami untuk meregenerasi foto lama yang negatif atau klisenya entah ada di mana. Kami melihat foto di teras karena penerangannya lebih alami. Sip lah. ^^
Nah, pas asyik ketawa-ketiwi di teras itulah, dari jauh terdengar suara sempiong yang mirip bunyi siulan panjang ceret air yang isinya sedang mendidih. Ini adalah ciri khas penjual putu buloh/putu buluh alias putu bambu. Karena suata jeritan sempiong yang unik itu juga lah, putu buluh juga dikenal dengan sebutan kueh sempiong di kota saya, Pontianak. Kurang tahu kalau di tempat lain.
Kue tradisional ini sepupuan dengan kelepon atau klepon pancit, dan saudaraan dengan putu piring atau putu mangkok: sama-sama ada isi gula merah di dalamnya dan kelapa gurih di luarnya. Bedanya, kalau kelepon terbuat dari tepung beras ketan yang direbus, sedangkan kue putu (baik putu piring maupun putu buluh) terbuat dari tepung beras yang diuapi sampai matang, alias dikukus. Kelepon berbentuk bulat sedangkan putu sesuai bentuk cetakannya. Putu buluh berbentuk tabung karena dicetak di ruas bambu atau buluh.
Oh ya, waktu di Bogor, kami sempat kangen sekali mencicip kue manis gurih ini. Kebetulan ada mamang-mamang penjual putu buluh. Entah apakah buluh kecil seukuran putu buluh susah ditemukan di sana atau bagaimana, tapi saya kecewa karena beberapa kali beli putu buluh, ternyata putunya dicetak di pipa paralon. Duh.. Saya tidak menyamaratakan semua penjual putu buluh atas kelakuan penjual putu paralon sih, karena kami hanya beli beberapa kali, jadi itu belum tentu merepresentasikan kan. Saya hanya prihatin karena paralon kan plastik bukan untuk makanan, tidak baik untuk kesehatan.
Eh, Saya tiba-tiba teringat dengan kebiasaan mamang putu buloh. Kalau di rumah orang tua saya, biasanya mamang lewat tiap petang, menjelang maghrib seperti kemarin. Rasa-rasanya tidak pernah lewat di pagi atau siang hari, tak pernah juga lepas isya. Memang sih ini hanya di kompleks rumah kami saja jadwalnya seperti itu, tapi tetap saja berkesan. Soalnya dari kecil sih. Kata orang kenangan masa kecil memang mengesankan. Ya kan? ;)
7.20.2015
Malam Takbiran di Kota Pontianak
Alhamdulillah, lebaran tahun ini saya lalui di kota kelahiran, Pontianak. Di kota khatulistiwa ini, sebenarnya ada tradisi unik setiap jelang bulan syawal. Konon ini ada hubungannya dengan sejarah kota.
Sekadar info bagi yang belum pernah berkunjung atau kurang tahu tentang sejarah kota Pontianak, tradisi unik kota kami setiap jelang idul fitri adalah festival meriam karbit. Sebelumnya sih tidak pakai festival, tapi untuk lebih menertibkan pelaksanaan dan menarik minat wisatawan, maka tradisi lama masyarakat pinggir sungai pun diorganisir.
Seingat saya, dulu meriam karbit sering dinyalakan tanpa jadwal yang jelas dan biasanya tengah malam. Suara yang menggelegar dari meriam bisa terdengar jauh. Dari rumah orang tua saya yang tidak dekat dengan sungai saja bisa terdengar, apalagi dari rumah masyarakat yang tinggal di riparian sungai kapuas. Uwih. Saya jadi ingat cerita salah seorang teman yang rumahnya di salah satu gang yang rutin setiap tahun ber-meriam karbit ria. Katanya, selain suara yang membuat kaget (apalagi dinyalakan di malam hari), kaca rumah pun kadang retak atau pecah karena getarannya.
Ah, saya hampir lupa. Sebenarnya tidak hanya teman saya yang berkata demikian. Kedua orang tua saya juga pernah berkata demikian. Itu karena pengalaman sewaktu masih tinggal di rumah pinggir sungai selama beberapa tahun sebelum menempati rumah kami yang sekarang. Cuma karena saya terlalu kecil untuk mengingat hal tersebut, jadi saya hanya dengar ceritanya saja. :D Tidak ingat sama sekali dengan sensasinya, walaupun penasaran.
Nah, mungkin karena itu juga, saya oke-oke saja ketika Kanda mengajak saya menyaksikan festival meriam karbit yang diadakan di sepanjang Sungai Kapuas di Kota Pontianak saat malam takbiran di penghujung bulan suci ramadhan tahun ini. Saya ingin membuktikan sendiri. Hihihi. Telat sih, karena ini adalah pertama kalinya dari seumur hidup saya, sengaja menyaksikan kemeriahan meriam karbit di lokasinya langsung. Maklum, selama ini kan hanya mendengar dari kejauhan, sedangkan memori tentang itu waktu kecil dulu, sudah hilang. Jadi harus deh. Sebagai orang yang lahir dan besar di Pontianak, lucu juga rasanya mengingat saya tidak pernah lihat penyulutan meriam karbit. Kebetulan karena tahun ini lebaran di Pontianak, plus ada mahram yang ngajak, jadi saya pun mengiyakan walaupun awalnya agak malas-malasan karena harus melakukan 2 hal yang kurang saya sukai (keluar malam dan berada di keramaian). :p
Sekitar pukul 9 malam, kami dan beberapa teman suami (Agri, Kojay, Pian) berkumpul sekalian bersilaturahmi karena sudah lama tidak berjumpa. Apalagi dua orang dari teman Kanda tersebut pernah membantu saya waktu penelitian skripsi di Gunung Passi dulu. Seru saja. Sayangnya hanya Agri yang membawa istri ikut serta.
Sekitar pukul 10 malam kami menuju ke Gang Kamboja, salah satu gang yang jadi pintu masuk ke pinggiran sungai. Sebenarnya ada banyak lagi gang lain, tapi berhubung yang pernah nonton mengajak lewat gang tersebut, jadi ya begitu.
Benar perkiraan saya, gertak di gang-gang pinggir sungai sudah padat dipenuhi orang-orang yang sama dengan kami. Sebenarnya di jalan raya pun sudah terlihat. Untuk standar jam istirahat seperti itu, kemacetan adalah suatu hal yang tidak terlalu lumrah di kota ini. Kecuali di persimpangan lampu merah atau sekolah saat jam masuk kerja dan sekolah.
Setelah masuk gang, yang bagian ujung dekat sungainya bersambungan dengan gang lain oleh gertak yang sejajar sungai, suasana seru mulai terasa. Degum meriam makin kuat, beriringan dengan kumandang takbir kemenangan. Sayangnya, banyak juga saya lihat sendiri pemandangan kurang baik, seperti anak-anak muda yang berpakaian dugem (tahu kan maksudnya?) masuk ke cafe kayu pinggir sungai yang lampunya remang dan kelap-kelip mirip lampu disko. Ada juga yang memutar lagu house music ala diskotik, mengalahkan suara takbir di masjid seberang. Miris, apalagi ini terhitung masih ramadhan (hanya saja sudah sangat di penghujung) dengan takbir mengantar kepergiannya. :| Untungnya banyak juga yang normal. Hanya tempat makan tanpa musik. Kami sendiri memilih singgah di salah satu perahu galaherang yang masih tertambat namun sudah siap berangkat. Tak menunggu lama, perahu galaherang yang sudah penuh penumpang pun berangkat, mengantarkan kami menyusuri sungai kapuas yang meriah dengan takbir kemenangan dan meriam yang bersahutan. Sungai malam terlihat gelap, misterius, dan hanya terlihat riaknya. Jujur, saya sempat khawatir. Alhamdulillah, sampai kembali ke lokasi awal di dekat gang kamboja, tiada kurang apapun kecuali 15 ribu per orang dan telinga yang agak nguing~nguing karena "ditembak " beberapa jejer meriam karbit yang dilewati. Benar-benar pengalaman yang mengesankan. ^^
Saking serunya, saya tidak bisa mengambil gambar dengan cukup baik, selain karena keterbatasan kamera dan gelapnya sungai.
Setelah turun dari perahu, kami ke salah satu jejeran meriam karbit terdekat, ke arah jembatan kapuas. Saya kurang tahu itu di muara gang apa. Yang jelas di situ lebih ramai lagi. Rupanya orang banyak yang mengantri ingin menyulut meriam karbit. Agri yang awalnya ingin mencoba, urung. Jadinya kami hanya menikmati suasana di dekat situ.
Sekadar info, hanya menonton pun seru lho! Suara meriam karbit dari dekat memiliki sensasi yang luaaar biasa. Belum dihitung angin yang berhembus dengan kencang yang dihasilkan ledakan karbit. Karena ini, tiba-tiba saya teringat dengan saudara-saudara muslim di Palestina yang ditembaki bom dan peluru. Apa kabar mereka ya? :'
7.14.2015
Ce Kwe
Ce kwe adalah salah satu kuliner enak dari daerah saya, Kalimantan Barat. Mungkin bisa ditemukan di tempat lain, tapi sayangnya sulit sekali ditemukan tanah rantau kami dulu, makanya berkesan. Apalagi rasanya yang enak, bikin ketagihan. Hmm.. Yummy!
Orang yang tinggal di Pontianak mungkin sudah familiar dengan kue yang kental budaya china nya ini. Maklum, Kalimantan Barat kan didominasi oleh 3 etnis (Dayak, Melayu, China) jadi tidak heran kalau saling mempengaruhi.
Dulu, waktu saya kecil, makan ce kwe kadang ragu-ragu. Soalnya kebanyakan pembuat kue ini adalah orang china sangat terbiasa menggunakan minyak babi yang notabene dilarang di agama islam. Ada sih pembuat kue dari etnis lain yang muslim, tapi biasanya hasilnya beda. Terutama dari ketebalan kulit yang mempengaruhi tampilan. Ya, namanya juga beda tangan, beda pula hasilnya.
Beruntung di tahun belakangan, pembuat ce kwe muslim sudah mulai banyak yang lihai membuat ce kwe halal. Artinya, tanpa minyak babi. Makan ce kwe pun bisa tenang.
Sekadar info singkat. Ce kwe itu mungkin bisa dikategorikan semacam dimsum. Kulit ce kwe terbuat dari tepung beras sedangkan isiannya berupa tumisan. Setelah tumisan dimasukkan ke kulit, kue dikukus. Untuk penyajiannya, bawang putih goreng ditaburkan di atasnya, plus sambal sesuai selera. Ah, ya, :
.
Semalam, alhamdulillah, dapat rejeki ce kwe dari rekan kerja mama' bernama tante Tina. Tidak seperti ce kwe pada umumnya (yang berbentuk setengah lingkaran seperti korket), ce kwe pemberian tante Tina berbentuk bulat pipih. Tapi itu tidak masalah karena rasany normal: yummy! :D Isian ce kwe ada beberapa macam, misalnya bengkoang, kucai, dan talas. Saya paling suka ce kwe dengan isian bengkoang. Kalau kamu, teman, pernah coba ce kwe? Kalau sudah, apa rasa favoritmu? Kalau belum, jangan lupa dicoba kalau berkunjung ke pontianak yaa. ^~*
7.13.2015
Kerupuk Basah
Setiap daerah punya kekhasan tersendiri. Salah satunya dari kuliner. Nah, ada nih kuliner dari Kalimantan Barat. Tepatnya dari daerah Putusibau, Kapuas Hulu.
Namanya temet, atau lebih dikenal dengan sebutan kerupuk basah. Cemilan ini terbuat dari daging ikan. Biasanya dari jenis ikan air tawar seperti belidak dan toman, tapi ada juga yang terbuat dari ikan laut seperti tenggiri. Kalau saya tidak keliru, cara membuatnya seperti membuat adonan kerupuk atau pempek, tapi tanpa dijemur (seperti kerupuk biasa) ataupun digoreng (seperti pempek). Daging ikan dicampur bumbu dan tepung, dibentuk, lalu dikukus. Setelah matang, dipotong sesuai selera dan diberi sambal kacang. Dapat langsung dikonsumsi.
Rasanya, menurut saya sih enak. Mak nyos. Tapi tergantung rasa sambalnya sih. Hehe. Bumbu dan komposisi antara daging dan tepung, jenis ikan juga menentukan. Sayangnya saya belum pernah membuatnya sendiri. Jadi jangan tanya resepnya, hhihi :p Saya angkat tangan.
Ah ya. Di ramadhan tahun ini, kami ketemu penjual kerupuk basah yang rasa kerupuk basah maupun sambal kacangnya pas di lidah. Buat yang tinggal di Pontianak, mungkin ada yang pernah coba beli di dekat masjid muhtadin, Pontianak tenggara. Sayangnya pas kemarin bertanya ke penjualnya, dia sudah akan pulang kampung hari ini. Jadi mulai hari ini sudah tidak jualan lagi. Heuheu. Tapi saya bersyukur sempat mencicip kerupuk basah yang enak itu, kemarin, bersama orang-orang yang disayang. Itu kan namanya rejeki? Alhamdulillah :D



