![]() |
| Ini foto lama, diambil Mei tahun lalu waktu pertama kali datang. ^^ |
6.01.2017
- In: Food, Married Life
- Posted By: Delyanet
Bubur Pedas Pertama
5.31.2017
- In: Food, Married Life
- Posted By: Delyanet
Belanja dan Masak Perdana
Untuk kegiatan memasak perdana di kontrakan baru ini, saya memilih menu yang sederhana saja demi menyesuaikan peralatan dapur yang juga seadanya (dan sebenarnya menyesuaikan kemampuan dan minat saya juga sih, hihi). Pilihan menu pun jatuh kepada bihun saus pedas. Ini salah satu menu kesukaan Kanda waktu kami di Bogor dulu. Sudah lumayan lama juga kami tidak makan menu tersebut, jadi sekalian dalam rangka mengobati rindu lah.. ^^
![]() |
| Penampakan bihun saus pedas ala chef Yanet :D (credit photo: Janiarto Paradise) |
5.25.2016
Kueh Talam Belaok [+ Resep dan Foto Step by Step]
4.26.2016
Snack Ikan Dahfa
*non-sponsored review, please read my disclosure policy
![]() |
| salah satu camilan favorit nih.. |
3.05.2016
Snack Nori Triple-M Rasa Pedas
1.05.2016
Snack Nori Triple-M Rasa Cumi Bakar
1.03.2016
- In: Food, Married Life, Tips
- Posted By: Delyanet
Rendang Daging Penuh Cinta [Resep]
![]() |
| Rendang nyam nyam |
12.09.2015
Kue Selamatan
Hari ini libur nasional karena pilkada serentak. Kakak, Abang, dan Isna kemarin berangkat ke Sambas untuk mencoblos hari ini. Eh, tapi bukan masalah pemilu yang mau saya ceritakan kali ini. Politik benar-benar bukan ranah saya, jadi mari saya ceritakan hal yang lain..
Misalnya kue ini. Ini adalah kue selamatan yang diberikan oleh rekan kerja Mama', tadi. Beliau rencananya besok akan berangkat umroh bersama keluarganya, termasuk anaknya yang dulu pernah les privat dengan saya, M. Furqon Kautsar atau biasa dipanggil Kokon.
Teringat dulu Kokon sering membuat komik strip lucu untuk dipamerkannya kepada saya, bercerita apa saja, atau bergurau dengan adik-adik les saya yang lain sambil makan semangkuk bubur kacang hijau buatan Mama' saya sebelum mereka pulang usai belajar bersama. Waktu tak bisa diulang. Senang rasanya memiliki kenangan manis seperti itu.
Sekarang adik-adik les sudah besar-besar, sudah bujang dan dare. Termasuk Kokon. Ia sekarang mahasiswa tahun kedua fakultas teknik sipil yang sedang sibuk-sibuknya dengan tugas. Sekarang kami jarang ketemu meskipun jarak rumah hanya beberapa blok. Untuk berkomunikasi paling-paling via whatsapp atau bbm saja, itupun saya yang mulai percakapan. Adik-adik les yang lain juga sama. Maklum sih, mereka sibuk. Mengingatkan saya jaman kuliah dulu. :)
Besok Kokon dan keluarga akan berangkat ke tanah suci untuk umroh. Alhamdulillah. Ehem. Dalam hati saya agak iri juga sih, di umur yang masih belia ia sudah akan mengunjungi tanah suci, bersama keluarga pula. Tapi tentunya itu tidak mengurangi perasaan saya yang ikut bersuka cita atas kebahagiaan keluarga Kokon yang akan beribadah di tanah suci. Senangnyaa.. ^^ Saya dan keluarga mendoakan yang terbaik untuk Kokon dan keluarga, semoga perjalanannya lancar dan ibadahnya di sana dimudahkan dan diberkahi Allah, aamiin.
Dan akhir kata, semoga suatu saat saya dan orang-orang terkasih juga bisa umroh atau haji bersama. Entah kapan itu, saya belum tahu, heuheu. Tolong aamiin-kan ya teman-teman. Dalam hati juga tidak apa-apa. Insyaallah doa baiknya berbalik kepada teman-teman juga. Insyaallah.
Oke. Sekian dulu yaa. Saya mau makan kuenya dulu, hehe. Salaam! ^^
12.08.2015
Cerita Gula Aren
11.21.2015
Bubbor Paddas Buatan Mama'
Baiklah. Cerita yang hari ini akan saya tulis adalah tentang Bubbor Paddas atau Bubur Pedas. Ada yang sudah pernah makan bubur pedas?
![]() |
| Bubbor Paddas (photo by Janiarto Paradise) |
10.27.2015
Bubbor Ambo'
Baru-baru ini, saya kepincut salah satu makanan tradisional khas Melayu Sambas. Namanya bubbor ambo' atau bubur ambo'. Ada lagunya lho:
Bubbor ambo', saddapnye do'.. bubbor ambo', saddapnye do'.."
Dari terminologinya, bubbor adalah bubur, atau jenis makanan dari beras yang dimasak lama dengan air yang banyak sehingga menghasilkan tekstur yang lebih lembut dari nasi. Sedangkan ambo', hehe, saya kurang tahu artinya apa. Nanti deh kalau sudah tahu saya update. *alinea sok penting, hhihi
Jujur saja, untuk kuliner bubur khas Sambas, selama ini saya hanya familiar dengan bubbor paddas / bubur pedas saja. Malah saya dan Kakak sudah biasa bantu Mama' membuatnya. Sementara bubbor ambo', duh, jangankan tahu bentuknya seperti apa, mendengar kata bubbor ambo' untuk pertama kali saja dari lirik lagu yang ada di album lagu daerah Sambas. Hehe.
Sampai ketika Kakak saya menikah dengan abang yang asli Melayu Sambas...
Di awal pernikahan mereka, Kakak sempat tinggal di Kota Sambas mengikuti Abang yang membuka usaha selama beberapa tahun. Di kota kecil itu, Kakak mulai belajar membuat bubbor ambo' sendiri. Dari situ akhirnya kami yang di Pontianak jadi tahu dengan kuliner khas ini setelah dibuatkan oleh Kakak. Saya sendiri baru resmi mencicip bubbor ambo' untuk pertama kali pada akhir bulan Agustus tahun ini, atau sekitar 2 bulan lalu.
Cara membuat bubbor ambo' bisa dikategorikan jauh lebih mudah dan cepat daripada bubbor paddas. Ini bisa jadi karena sayur-mayur yang digunakan untuk bubbor ambo' tidak sebanyak yang digunakan untuk bubbor paddas, jadi tidak banyak yang perlu disiangi. Bumbu yang digunakan lebih sedikit. Membuatnya pun cepat, tinggal cemplung. Yang lama paling-paling merendam berasnya, yaitu dari semalam sebelumnya supaya tekstur bubur lebih halus dan lembut.
Ah ya. Kalau saya tidak keliru, campuran sayur untuk bubbor ambo' hanya midding (pakis) dan jagung manis pipil. Kata Kakak, aslinya malah hanya midding tanpa sayuran lain, mengingat dulu di lanskap Sambas berlimpah sayur pakis. Jagung manis adalah sebagai bahan tambahan supaya lebih menarik tanpa merusak rasa.
Yang pasti, bubbor ambo' buatan Kakak enaaak sekali. Sama enak dengan bubbor paddas buatan Mama' (dengan citarasa yang berbeda, pastinya, karena kan bahan bumbunya beda). Ini menurut saya lho yaa.
Yang membuat saya terkesan, Kanda yang berlidah Padang juga bisa ketagihan bubbor ambo', lho. Satu mangkuk tidak cukup, ditambah tapo'an (pelengkap) udang ebi di atasnya, hmm, nyam nyam. Bubbor ambo' buatan kakak memang top.
Terima kasih Kakak sayang, yang sudah membuatkan bubbor ambo' yang nikmat. Juga untuk siapapun yang sudah mengajarkan Kakak membuat bubbor ambo' yang enak. Dan puji syukur kepada Sang Pemberi Rejeki yang mengizinkan saya menyicip bubur nikmat warisan budaya Melayu Sambas ini. Alhamdulillah.. ^^
8.20.2015
Laksamana Mengamuk
Kemarin kakak mengolah beberapa buah bacang atau embacang yang dibawa Isna sebagai oleh-oleh dari kampung halamannya. Buah jenis mangga-manggaan yang berbau harum ini dibuat menjadi minuman segar bernama sangar: laksamana mengamuk. Serem nggak tuh?! :p
Laksamana mengamuk adalah minuman khas masyarakat Melayu, jadi tidak heran kalau melayu Kalimantan Barat familiar dengan minuman ini sebagaimana melayu di pulau seberang, Sumatera, terutama di daerah yang dimayoritasi oleh suku Melayu: Riau. Kenapa? Karena saudaraan dan lanskapnya pun menyediakan bahan yang sama: buah embacang. ^^
Cara membuatnya cukup mudah. Kulit buah embacang dikupas lalu isinya dicincang dan dipisah dari bijinya. Setelah itu direbus dengan santan yang sudah mendidih dan ditambah gula secukupnya. Mirip cara membuat kolak, ya, tapi santan yang kemarin kakak buat sengaja tidak kental dan gula yang digunakan adalah gula pasir sehingga minuman ini tidak sekental dan seberat kolak. Manisnya manis buah dan teksturnya tipis. Eh, tapi ada juga sih yang membuat dengan menggunakan santan yang banyak atau menggunakan gula merah sehingga teksturnya tebal dan kental. Itu tergantung selera di rumah masing-masing.
Sejarah kenapa minuman ini disebut laksamana mengamuk masih perlu saya cari tahu. Kalau sudah dapat, akan saya ceritakan lain waktu di blog ini, insyaallah. Untuk sementara ini dulu. Buat yang punya pohon embacang, silakan mencoba minuman segar dan harum ini ya. Tapi hati-hati karena laksamana mengamuk bisa membuat perut orang yang memakannya jadi mengamuk, minta lagi. Hehehe. ^^
8.18.2015
Putu Piring
Kue putu adalah salah satu camilan khas dan tradisional dari Indonesia. Di Pontianak, ada beberapa jenis kue putu. Ada putu bulloh/ putu buluh atau putu bambu (seperti yang saya ceritakan), ada putu piring, ada juga putu mayang. Tapi untuk kali ini saya mau cerita sedikit tentang putu piring..
Di Kalimantan Barat, putu piring punya beberapa nama lain. Ada yang menyebutnya putu piring, ada yang menyebutnya putu mangkok, ada juga yang menyebutnya putu cangkir. Semua itu terinspirasi dari wadah cetakannya. Jaman dulu, kue yang berwarna putih ini dibuat dengan cetakan mangkok kecil, piring kecil, ataupun cangkir kecil. Jadi deh namanya lucu-lucu.
Berhubung dari kecil saya memang suka kue putu piring, jangan ditanya rasanya karena saya pasti akan jawab: enak! Hehe..
Rasa putu piring kurang lebih saudaranya, putu buluh. Keduanya terbuat dari tepung beras, diisi gula merah dan dibalut kelapa yang gurih. Meskipun serupa, tapi warna dan rasanya agak berbeda. Kalau putu piring berwarna putih, putu buluh berwarna hijau. Ukuran dan bentuknya juga mudah dibedakan.
Penjual putu piring biasanya menjual dagangannya dengan gerobak dorong tapi mangkal (menetap) di satu tempat. Di Pontianak, sejauh ini, ada satu tempat penjual putu piring yang paling saya dan keluarga sukai, yaitu di Sungai Jawi dekat simpang Pancasila. Adonan putunya pas, isi gula merahnya banyak sampai meluber-luber, kelapanya gurih. Hmmm, yummy.. ^^
8.13.2015
Putu Buluh
Sore ini kami sekeluarga sibuk membolak-balik album-album foto berisi foto-foto lama. Gara-gara kemarin saya iseng mengirimi Kakak beberapa foto masa kecilnya yang lucu via bbm dan pamer beberapa foto kecil saya sendiri, Kakak jadi terilhami untuk meregenerasi foto lama yang negatif atau klisenya entah ada di mana. Kami melihat foto di teras karena penerangannya lebih alami. Sip lah. ^^
Nah, pas asyik ketawa-ketiwi di teras itulah, dari jauh terdengar suara sempiong yang mirip bunyi siulan panjang ceret air yang isinya sedang mendidih. Ini adalah ciri khas penjual putu buloh/putu buluh alias putu bambu. Karena suata jeritan sempiong yang unik itu juga lah, putu buluh juga dikenal dengan sebutan kueh sempiong di kota saya, Pontianak. Kurang tahu kalau di tempat lain.
Kue tradisional ini sepupuan dengan kelepon atau klepon pancit, dan saudaraan dengan putu piring atau putu mangkok: sama-sama ada isi gula merah di dalamnya dan kelapa gurih di luarnya. Bedanya, kalau kelepon terbuat dari tepung beras ketan yang direbus, sedangkan kue putu (baik putu piring maupun putu buluh) terbuat dari tepung beras yang diuapi sampai matang, alias dikukus. Kelepon berbentuk bulat sedangkan putu sesuai bentuk cetakannya. Putu buluh berbentuk tabung karena dicetak di ruas bambu atau buluh.
Oh ya, waktu di Bogor, kami sempat kangen sekali mencicip kue manis gurih ini. Kebetulan ada mamang-mamang penjual putu buluh. Entah apakah buluh kecil seukuran putu buluh susah ditemukan di sana atau bagaimana, tapi saya kecewa karena beberapa kali beli putu buluh, ternyata putunya dicetak di pipa paralon. Duh.. Saya tidak menyamaratakan semua penjual putu buluh atas kelakuan penjual putu paralon sih, karena kami hanya beli beberapa kali, jadi itu belum tentu merepresentasikan kan. Saya hanya prihatin karena paralon kan plastik bukan untuk makanan, tidak baik untuk kesehatan.
Eh, Saya tiba-tiba teringat dengan kebiasaan mamang putu buloh. Kalau di rumah orang tua saya, biasanya mamang lewat tiap petang, menjelang maghrib seperti kemarin. Rasa-rasanya tidak pernah lewat di pagi atau siang hari, tak pernah juga lepas isya. Memang sih ini hanya di kompleks rumah kami saja jadwalnya seperti itu, tapi tetap saja berkesan. Soalnya dari kecil sih. Kata orang kenangan masa kecil memang mengesankan. Ya kan? ;)
7.14.2015
Ce Kwe
Ce kwe adalah salah satu kuliner enak dari daerah saya, Kalimantan Barat. Mungkin bisa ditemukan di tempat lain, tapi sayangnya sulit sekali ditemukan tanah rantau kami dulu, makanya berkesan. Apalagi rasanya yang enak, bikin ketagihan. Hmm.. Yummy!
Orang yang tinggal di Pontianak mungkin sudah familiar dengan kue yang kental budaya china nya ini. Maklum, Kalimantan Barat kan didominasi oleh 3 etnis (Dayak, Melayu, China) jadi tidak heran kalau saling mempengaruhi.
Dulu, waktu saya kecil, makan ce kwe kadang ragu-ragu. Soalnya kebanyakan pembuat kue ini adalah orang china sangat terbiasa menggunakan minyak babi yang notabene dilarang di agama islam. Ada sih pembuat kue dari etnis lain yang muslim, tapi biasanya hasilnya beda. Terutama dari ketebalan kulit yang mempengaruhi tampilan. Ya, namanya juga beda tangan, beda pula hasilnya.
Beruntung di tahun belakangan, pembuat ce kwe muslim sudah mulai banyak yang lihai membuat ce kwe halal. Artinya, tanpa minyak babi. Makan ce kwe pun bisa tenang.
Sekadar info singkat. Ce kwe itu mungkin bisa dikategorikan semacam dimsum. Kulit ce kwe terbuat dari tepung beras sedangkan isiannya berupa tumisan. Setelah tumisan dimasukkan ke kulit, kue dikukus. Untuk penyajiannya, bawang putih goreng ditaburkan di atasnya, plus sambal sesuai selera. Ah, ya, :
.
Semalam, alhamdulillah, dapat rejeki ce kwe dari rekan kerja mama' bernama tante Tina. Tidak seperti ce kwe pada umumnya (yang berbentuk setengah lingkaran seperti korket), ce kwe pemberian tante Tina berbentuk bulat pipih. Tapi itu tidak masalah karena rasany normal: yummy! :D Isian ce kwe ada beberapa macam, misalnya bengkoang, kucai, dan talas. Saya paling suka ce kwe dengan isian bengkoang. Kalau kamu, teman, pernah coba ce kwe? Kalau sudah, apa rasa favoritmu? Kalau belum, jangan lupa dicoba kalau berkunjung ke pontianak yaa. ^~*
7.13.2015
Kerupuk Basah
Setiap daerah punya kekhasan tersendiri. Salah satunya dari kuliner. Nah, ada nih kuliner dari Kalimantan Barat. Tepatnya dari daerah Putusibau, Kapuas Hulu.
Namanya temet, atau lebih dikenal dengan sebutan kerupuk basah. Cemilan ini terbuat dari daging ikan. Biasanya dari jenis ikan air tawar seperti belidak dan toman, tapi ada juga yang terbuat dari ikan laut seperti tenggiri. Kalau saya tidak keliru, cara membuatnya seperti membuat adonan kerupuk atau pempek, tapi tanpa dijemur (seperti kerupuk biasa) ataupun digoreng (seperti pempek). Daging ikan dicampur bumbu dan tepung, dibentuk, lalu dikukus. Setelah matang, dipotong sesuai selera dan diberi sambal kacang. Dapat langsung dikonsumsi.
Rasanya, menurut saya sih enak. Mak nyos. Tapi tergantung rasa sambalnya sih. Hehe. Bumbu dan komposisi antara daging dan tepung, jenis ikan juga menentukan. Sayangnya saya belum pernah membuatnya sendiri. Jadi jangan tanya resepnya, hhihi :p Saya angkat tangan.
Ah ya. Di ramadhan tahun ini, kami ketemu penjual kerupuk basah yang rasa kerupuk basah maupun sambal kacangnya pas di lidah. Buat yang tinggal di Pontianak, mungkin ada yang pernah coba beli di dekat masjid muhtadin, Pontianak tenggara. Sayangnya pas kemarin bertanya ke penjualnya, dia sudah akan pulang kampung hari ini. Jadi mulai hari ini sudah tidak jualan lagi. Heuheu. Tapi saya bersyukur sempat mencicip kerupuk basah yang enak itu, kemarin, bersama orang-orang yang disayang. Itu kan namanya rejeki? Alhamdulillah :D
7.02.2015
6.03.2015
Ngerujak Sore-Sore
5.23.2015
Cara Mudah Menghilangkan Kepedasan
| Ini salah satu kesukaan saya dan suami, Mie Aceh Selera Pedas! ^^ |
2.09.2015
- In: Food, Married Life, Tips
- Posted By: Delyanet
Bihun Saus Pedas [Resep]
![]() |
| Mie Bihun Jamur Saus Pedas (sumber gambar: JParadise di www.cemaru.com) |








