Tampilkan postingan dengan label Funny. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Funny. Tampilkan semua postingan

9.29.2022

Tentang Nama

Hai. Perkenalkan, nama saya Delyanet. Akrab disapa "Yanet". Kalau di rumah, saya biasa dipanggil "adek". Itu panggilan sayang oleh Mama, Bapak, dan Kakak. Tapi terus terang, meskipun itu panggilan sayang, saya sebenarnya tidak suka dipanggil "adek" oleh orang lain, kecuali jika ditambah nama saya, yaitu "Adek Yanet". Lengkap. Sepupu-sepupu saya sebelah Bapak dan abang ipar saya selalu memanggil saya demikian. Saya merasa lebih dihargai seperti itu. Ada identitas nama di belakangnya. Bukan cuma "adek".

Cuma "adek" itu seringkali bikin rancu. Pertama, belum tentu saya "adek"nya yang manggil, dalam artian, belum tentu pangkat kekeluargaan saya lebih rendah dari yang manggil. Kalau masalah usia sih bisa saja saya lebih muda. Itu karena mama saya bungsu dan nenek saya bukan anak sulung, sehingga banyak saudara sepupu saya (dari saudara kandung mama maupun saudara sepupunya mama) yang usianya jauh lebih tua bahkan punya anak yang usianya seumuran/lebih tua dari saya. Artinya, ada keponakan saya yang lebih tua. Ketika panggilan "adek" tidak diiringkan dengan nama saya, nih keponakan-keponakan jadi bingung manggil saya siapa. Alhasil, keponakan saya yang lebih tua memanggil saya "adek" juga. Kan minta kualat hihihu

Kedua, kebingungan lain yang paling sering muncul adalah ketika pangkat disematkan ke saya. Misal, kakak jadinya Kak Adek (harusnya Kak Yanet); mak usu jadinya Mak Su Adek (harusnya Mak Su Yanet); tante jadinya Tante Adek (harusnya Tante Yanet), dst. Aneh kan? Padahal jelas-jelas nama saya Yanet. Kinipi jidi bigitii

Ketiga, karena jelas, panggilan "adek" itu terlalu umum, alias pasaran. Jadi ceritanya pernah nih, ada senior jaman SMA dulu mau main ke rumah. Saya kasih lah alamat saya. Tapi berhubung waktu itu saya belum punya hp, jadi ybs cuma bisa nanya tetangga saya waktu belum yakin sama rumah yang mana. Pas senior itu nanya, "Pak, rumahnya Delyanet yang mana ya?", lha tetangga saya malah jawab "ndak tau". Menurut cerita senior saya itu, ybs akhirnya memberanikan diri ngetuk rumah saya, dan alhamdulillah benar. Pas ketemu, dia langsung protes "tak tekenal kau ni, Net". Wkwk. Ember!

Itu masih belum apa-apa sih. Ada lagi cerita yang lebih kocak dari nama saya ini. Jadi entah sejak kapan, nama saya tiba-tiba dianggap macho oleh sebagian orang. Mungkin karena mirip Del Piero dan Herjunot Ali. Alhasil, kenalan baru --yang dulunya suka bola atau suka nonton atau kurang survei atau murni lagi khilaf-- akan menyapa saya dengan sebutan "pak", "abang", atau "mas". 

Dulu, saya mudah sensi kalau disapa begitu. "Bang Yanet", kata seseorang di fb. Dih, kagak kenal manggil gue abang, apaan tuh. Padahal udah jelas-jelas foto profil pakai wajah sendiri: berjilbab, senyum-senyum, sambil bawa payung. Kurang feminin apa lagi cobaa. Saking emosinya, langsung hapus pertemanan, plus kasih kata "binti" sekalian di nama profil. Pokoknya kalau ada yang salah lagi, bener-bener dah.. (gara-gara dulu kelewat ramah, cuma karena kuliah di satu tempat yang sama, main tambah pertemanan aja)

Pernah juga, diundang acara apaa gitu, oleh organisasi yang dulu aktif saya ikutin pas kuliah. Diundangannya ditulis "kepada "Bapak Delyanet"". Pas ngantar sebenarnya udah dikasih tau oleh Bapak saya (waktu itu saya sedang tidak di rumah). Jadi yang ngantarin undangan nanya, "Bapak Delyanet ada?" Dijawab Bapak saya, "Bapaknya Delyanet itu saya. Delyanet itu anak perempuan saya", lah undangannya tetap dikasihkan tanpa dikoreksi. Dicoret kek, kata "Bapak"nya. Duh gregetan. Plus, perasaan di buku alumni ada foto deh. Akhirnya acaranya tidak saya hadiri. Ya, kan ngundang "Bapak Delyanet"

Tapi itu dulu sih. Cerita lama. Sekarang lebih santai. Paling ya ketawain aja lah. Kan kasian, mereka belum tahu arti nama saya. Bagus loh artinya. Kapan-kapan deh saya cerita tentang itu. Sekarang mau cerita tentang ini dulu.

Jadi sebenarnya tulisan ini terpicu dari kejadian kemarin, waktu dihubungi oleh nomor asing yang meminta konfirmasi kelengkapan berkas kerjaan. Oh, ini bukan yang pertama kali. Saya pun dipanggil "Bapak". Yes, Bapak Delyanet, katanya. Padahal udah jelas-jelas pakai foto profil feminim di akun kerja. Hihi. Tapi berhubung ini urusan kerjaan dan belum tentu juga ketemu sama orangnya, jadi saya iyain aja biar tidak terlalu awkward. Saya maklum sih, kerjaan banyak bikin mata siwer. Udah sering ngalamin. Lagian yang penting infonya nyampai, insyaAllah. No hurt feeling, cuman jadi tergelitik pengen nulis, hehe

Last but not least. Ini ada juga cerita berkesan tentang mahasiswa terkait nama saya. Kejadiannya tahun lalu. Jadi ceritanya nih dia ketua kelas. Niatnya sih bagus, mau silaturahmi dulu sama dosennya sebelum ngajar. Beramah tamah gitu lah. Bahasanya sebenarnya sopan dan cukup luwes. Cuma yaa, itu, kurang survei. Masak saya dipanggil "Pak" dong. Terus, waktu saya bilang, "saya bukan bapak-bapak, ya" (ya maksudnya, saya ibu-ibu), eh ybs malah jawab, "oh baik, maaf ya bang". Jederrrr!! 🤣  


Read more…

9.30.2017

Obrolan Pasutri #3 - Kemaso'an di Danau Sentarum

Sebenarnya ini adalah sambungan dari obrolan pagi kemarin, tapi karena suasananya agak beda jadi sengaja dipisah, supaya lebih nyes.


Ini bukan Danau Sentarum, hanya ilustrasi
(Credit foto: Nikos Koutoulas/ Flickr.com)

Read more…

9.29.2017

Obrolan Pasutri #2 - Bapaknye Ariel

Pagi ini, saya dan Kanda ngobrol santai sambil rebahan di tempat tidur. Waktu melihat dinding rumah kontrakan kami, saya menemukan ide obrolan baru. Maka terjadilah dialog berikut ini

*Maaf saya tetap menuliskannya dalam bahasa daerah. Bagi yang bukan native speaker, tenang, bahasanya bahasa Melayu Pontianak, mirip bahasa Indonesia kok. *Ya iyalah, bahasa Melayu kan akarnya Bahasa Indonesia.. ;)

Read more…

8.11.2017

Obrolan Pasutri #1 - Mobil dan Pemandangan

Gara-gara melihat postingan lucu di beranda facebook, pagi kemarin saya mencoba meniru percakapan yang diawali dengan teka-teki itu.


Read more…

8.10.2017

Nge-gembel di Kondangan

Malam ini, Saya, Kanda, dan seorang teman kantornya menghadiri undangan khitanan anak tetangga. Sebenarnya saya agak enggan ikut serta karena lupa bawa perlengkapan kondangan dari rumah Pontianak. Saya tidak bawa gaun terusan (dress), tidak bawa sepatu undangan (cuma bawa sepatu lari dan sandal jepit), tidak bawa tas cantik, juga tidak bawa alat make up yang mumpuni. Ah, jangankan eye liner atau eye shadow. Bedak saja ketinggalan..

Tapi demi menghormati tetangga yang baik sekali mau mengundang, kami tetap pergi..

pakai foto ini saja deh, hehe

Read more…

5.28.2017

Tak Disangka

Hari kedua Ramadhan tahun ini. hidup saya diwarnai oleh beberapa cerita yang tak disangka tak diduga. Ada yang bernada sendu, ada juga yang lucu. Pokoknya, berkesan deh..

#Tak Disangka 1


Read more…

8.05.2016

Pikiran 3 Wanita

Di suatu hari yang cerah, 3 wanita berjalan bersama di pinggir kolam. Di tengah perjalanan, mereka melewati seorang pria yang sedang berbicara dengan temannya di ujung telpon, "Motor itu sudah pernah turun mesin, kalau terendam air pasti makan uang".

Sambil lewat, ketiga wanita itu sempat diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Pikiran 3 Wanita


Read more…

6.25.2016

Pencarian Masjid Terdekat dan Hilangnya Johny

Setelah menerima kenyataan bahwa kami ditinggalkan bis di Teluk Suak, kami semua berjalan kaki ke arah Pontianak sambil membawa seluruh barang pribadi maupun kelompok. Bukan pulang ke Pontianak dengan berjalan kaki, ya, melainkan dalam misi mencari masjid terdekat. Soalnya permukiman di sekitar pelabuhan didominasi oleh etnis china non-muslim, jadi mustahil menumpang sholat.



Read more…

Kenangan Jurit Malam Rasa Kematian

Jurit malam rasa kematian, mungkin itu judul yang cocok untuk tema jurit malam yang saya rasakan waktu mengikuti acara Tafakur Alam (TA) tahun 2005 lalu..

[Baca cerita sebelumnya di sini]



Read more…

4.14.2016

Petualangan Mencari Bakmi Kering Haji Aman Cabang Pontianak

Kamis pekan lalu, saya mengajak Mama', Kakak, dan Isna untuk makan di luar bersama. Tujuannya, Bakmi Kering Haji Aman Cabang Pontianak. Iya, berdasarkan keterangan salah seorang teman saya di pekan sebelumnya, Rinda, Bakmi Kering Haji Aman Singkawang sekarang sudah buka cabang di Pontianak. Uwih, enak kan kalau bisa menikmati kenikmatan bakmi kering tanpa perlu jauh-jauh ke Singkawang. Keinginan untuk makan bakmi kering kembali muncul dengan segera. Ngiler euy..

bakmi kering haji aman
Ini lho penampakan bakmi kering-nya Haji Aman Singkawang
Masalahnya, kami tidak tahu dimana lokasinya..


Read more…

2.23.2016

Cerita Tentang si Kocek

Ini cerita waktu Mama' masuk rumah sakit beberapa pekan lalu, tentang seorang gadis remaja yang lucu bernama Kocek.


Read more…

6.04.2015

Dikira Lelaki

Apa perasaanmu ketika buka pemberitahuan sosmed kalau ada yang memanggilmu mas, bang, atau bro? Untuk kamu yang lelaki pasti biasa saja, tapi buat kamu yang perempuan cantik seperti saya, pasti langsung syok. Sungguh ter~la~lu.. huks!

dikira lelaki
tadi kamu panggil saya apa?
(credit: Douglas Woods/flickr)


Read more…

3.17.2014

Kehujanan di Kota Hujan

Pagi ini cuaca cerah. Pukul 10.30 kami berangkat dari rumah. Kanda yang biasanya tetap menggunakan jaket berwarna merah-hitam miliknya saat keluar rumah tadi meninggalkan jaketnya di ruang tamu. Saya sebenarnya juga malas menggunakan jaket berwarna serupa yang saya punya, tapi entah mengapa badan ini tetap saja memakainya. Tangan saya pun santai saja membawakan jaket Kanda keluar. Pintu sudah dikunci baru saya sadar ternyata Kanda sengaja meninggalkan jaketnya di rumah. Malas balik lagi membuka kunci pintu yang agak macet, saya membawa serta jaket Kanda. Simpan di tas saja, katanya kepada saya.

Read more…

2.27.2014

Cerita Makan Siang

Makan siang, alhamdulillah saya dan Kanda masih bisa melewatkan waktu makan bersama. Yang paling saya suka dari makan bersama adalah momen berbagi cerita. Dulu di rumah ortu, Kakak lah yang paling banyak bercerita. Cerita ini lah, itu lah. Adaa saja ceritanya. Kadang bikin tersedak karena tertawa.

Kalau berdua saja dengan Kanda, kami bergantian bercerita. Kadang saya, kadang Kanda. Seringnya bersahutan. Kalau tidak bersahutan biasanya karena saya sedang ngambek. :p

Hari ini, kami berdua membicarakan tentang rencana pendidikan dan pengasuhan anak.

Read more…

2.19.2014

Olah Raga Malam

Pulang dari latihan GSP pukul 9, saya turun ke lantai satu. Hari ini Kanda menunggu saya sambil internetan, mungkin kapok karena sehari sebelumnya lama menunggu saya di motor. Kasihan. :(
*masih merasa bersalah*

Setelah mengemaskan laptop dan tetek bengeknya, Kanda dan saya lalu ke tempat parkir motor kami. Keluar dari gerbang kampus, Kanda bilang setelah ini kami tidak langsung pulang dulu. Bensin motor perlu diisi.

Read more…

2.06.2014

Ojek

Tidak seperti biasanya, saya langsung turun ke lantai 1 setelah beberapa menit sebelumnya mengirim pesan singkat kepada Kanda, minta dijemput. Biasanya sih, saya ngobrol dulu dengan teman-teman, setelah Kanda tiba baru saya turun dari lantai 3..

Saat Kanda tiba, saya sudah di lantai satu untuk naik tangga lagi ke arah parkiran. Dari jauh saya melihat ada seorang gadis berjalan ke arah Kanda. Di belakang gadis itu seorang laki-laki mengajaknya bicara.

Read more…

2.02.2014

Pinguin Terbang

Kadangkala kita dihadapkan pada suatu fakta unik yang bahkan tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Ketika fakta-fakta tersebut bertentangan dengan pengetahuan yang kita ketahui sebelumnya, kita cenderung menolaknya; persis seperti yang dulu saya lakukan waktu diberi tahu tentang kerbau yang bisa berenang. Antara percaya dan tidak, tapi itulah kenyataan yang harus diterima. Nah, ngomong-ngomong soal aneh tapi nyata, saya punya cerita satu lagi. Kali ini tentang pinguin terbang...

Cuplikan video pinguin terbang dari BBC
(sumber gambar: bbc.co.uk)

Read more…

1.31.2014

Pisang Ijo dan Bubur Sumsum (bukan resep)

"Assalamualaikum..." terdengar suara di luar kontrakan kami yang mungil. Kanda segera keluar, ternyata tetangga kami, Mama Bagus yang memberi salam. Beliau hanya sebentar, mengantarkan sebuah kuliner khas tanah asalnya, Makassar: semangkuk bubur sumsum dan tiga buah pisang ijo. Alhamdulillah..

Read more…

2.28.2013

Cerita Hantu #3

Senin malam yang lalu, 25 Februari 2013, listrik di komplek perumahan kami padam. Saat itu saya sedang berbaring dan bercerita dengan Mama di kamar Mama. Karena malas bergerak dalam gelap, kami diam saja di kamar sambil tetap bercerita banyak hal, sedang Bapak dengan cekatan menyalakan lampu darurat di dekat dapur. Adanya cahaya dari lampu darurat yang melewati ventilasi kamar cukup membantu pengelihatan di kamar, walaupun samar.

Read more…

Cerita Hantu #2

Suatu Kamis di semester dua tahun 2012 lalu, saya dan beberapa teman lain yang mengambil mata kuliah permodelan lanskap praktikum sampai sore. Karena itu hampir setiap kamis -jika praktikum- kami sholat ashar di mushola mahasiswa ARL, mushola yang paling dekat dengan kelas pasca ARL.

Read more…