1.23.2025

Drastis yang Tak Menyenangkan

Dalam kehidupan pribadi sehari-hari, kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan adalah salah satu skill penting yang harus dikuasai. Hal ini karena perubahan adalah kepastian. Suka tidak suka, siap tidak siap, perubahan pasti terjadi, sehingga untuk bertahan, kita harus menyesuaikan diri. Beradaptasi.

Namun, dalam kehidupan berorganisasi, perubahan harusnya disikapi dengan bijak oleh manajemen organisasi tersebut. Ini karena para anggota organisasi adalah manusia, yang memiliki berbagai latar belakang yang berbeda. Jika perubahan dilakukan secara serampangan, terlalu terburu-buru, drastis dan tanpa pertimbangan matang; tentu itu dapat membahayakan organisasi. Ditambah minimnya sosialisasi atas perubahan tersebut, para anggota bisa berontak. Wibawa pimpinan bisa jatuh bebas di mata orang-orang yang dipimpinnya. 

Kadangkala pemberontakan yang terjadi bukan hanya berbentuk teriakan frustasi atau tindakan fisik yang terlihat mata. Lebih sering malah, pemberontakan berwujud doa-doa lirih dari para anggotanya yang terzalimi. Bukankah doa tulis dan menghiba dari orang yang terzalimi kepada Tuhannya lebih mengerikan daripada teriakan frustasi yang tersuarakan ataupun pukulan di muka? Bukankah harusnya para pemimpin, yang beriman kepada hari akhir, lebih takut dengan itu?

Yah, setidaknya itulah yang saya pikirkan. 

Read more…

12.01.2024

POV Anak Bungsu

Sampai kini saya bertanya-tanya, siapa gerangan yang menempelkan steriotipe pertama kali, bahwa anak bungsu itu (selalu) manja? Karena menurut saya itu tidak (sepenuhnya) benar. Manja kan masalah pengasuhan dalam keluarga dan kepribadian masing-masing, jadi urutan lahir manapun (sulung, tengah, bungsu, tunggal) bisa-bisa saja punya sifat manja. Sama seperti sifat mandiri.

Banyak kok bungsu mandiri. Terutama jika itu adalah anak bungsu dengan gender sama dengan saudara/i nya yang lebih tua, yang lahir di keluarga biasa, yang usiany tertaut tidak terlalu jauh dari saudara/i nya. Tipe bungsu seperti ini bisa jadi justru cepat dewasa, meski sulit dapat pengakuan terkait mandiri, karena sekali lagi, steriotipe bahwa bungsu pasti manja. 

Padahal, tidak masuk di akal saya. 
Bagaimana mungkin menjadi bagian dari pengalaman kedua lebih diingat dan berkesan daripada pengalaman pertama?
Bagaimana mungkin yang memakai barang bekas dianggap lebih manja dan makan uang daripada yang memakai barang baru?
Bagaimana mungkin menangis dianggap lebih cengeng daripada saudaranya ketika seusianya?

Bahkan seringkali si bungsu bisa merasa begitu tidak spesial karena ingatan orang tua bercampur antara kelakuannya dengan kelakuan saudara yang segender denganĺnya. Jika si bungsu ini pendiam, maka rugi besarlah dia, karena yang akan diingat --terutama tentang kejadian-kejadian lucu dan mengesankan-- akan lebih banyak ditempelkan kepada saudaranya, meskipun jika itu keliru. Alhasil, cerita dan kenangan si bungsu akan memudar dan hilang. Apalagi jika orang tuanya senang mengulang-ulang dan tidak senang mencatat. 

Semakin menyedihkan ketika orang tua masih merasa belum lengkap tanpa anak dengan gender berbeda. Maka si bungsu ini mungkin akan dapat adik. Iapun akan digelari bungsu tak jadi. Begitulah si bungsu berevolusi menjadi si anak tengah.

Read more…

8.18.2024

Berawal dari Bulan

Chia sore ini main-main di teras rumah. Lalu dia memanggil saya..


C: Bunda, lihat, ada bulan!
B: (melihat ke luar jendela sambil tetap duduk di ruang tamu) Iya ya, bulannya udah keluar ya nak. Awal keluarnya

Tiba-tiba anak tetangga teriak, "kamu tu b*d**, mana ada bulan! Dasar, ndak ada yg mau bekawan sama kamu!". Terus jari tengahnya diacung-acungkan ke Chia. Chia bengong. Bunda syok.

C: abang kenapa, Bunda?
B: (rada emosi liat kelakuan anak org, tapi harus tetap tenang di depan anak) Ooh, itu abangnya lg ndak punya teman. Kasian. Biarin jak ya.
C: ya, Bunda
B: yang dilakukannya tidak baik. Jangan ditiru ya, sayang.
C: ya, Bunda, nanti ndak punya teman.
B: iya nanti ndak punya teman..
C: Chia sih ada teman. Teman Chia tu bunda, aki.. (lalu meluk saya)
B: aww, masyaAllah anak bunda 🥰

***
Terus terang saya masih syok sama kejadian tadi. Di depan mata saya, anak saya di-bully oleh anak tetangga. Memang si anak tetangga ini tidak melihat saya melihatnya, tapi dengan etika buruk seperti itu, ngeri juga. Umurnya sekitar 7 tahun, kelas 1 SD. Etikanya minus sekali. Entah mengadopsi kelakuan buruk dari mana dia. Saya hanya bisa prihatin. 

Ada sih keinginan untuk meneriaki anak orang. Tapi di depan anak saya sendiri, aduh, khawatirnya ditiru. Belum lagi kalau ortu si anak tetangga tersinggung. Bukan apa, orang tersingging tuh susah, ngomongnya bisa nyakitin ati mau sehalus apapun kita menegur anaknya. 

Soalnya dulu pernah, saya negurkan anak orang yang mukul adiknya. Si adik yang dipukul ini seumuran anak pertama saya (lahir di tahun yang sama, beda bulan saja) sementara si anak yang mukul berusia sekitar 4 atau 5 tahunan, selisih sekitar 2 tahunan dengan adiknya tadi. 

Merasa melihat kekerasan terjadi di depan nata, jiwa keibuan saya pun bergejolak, maka saya tegurlah si anak yang mukul, supaya tidak kasar sama sodara sendiri. Tapi karena ortunya lihat dan tersinggung, mereka pun bersikap defensif. Di tengah saya ngomong ke si anak, bapak si anak ngomong gini, pura-pura bicara dengan istrinya, "anak umur segitu tuh raja, jadi tidak boleh dimarahi. Mana dia ngerti dinasihatin apa. Susah sih kalau belum punya anak". Iya, waktu itu posisinya saya memang belum punya anak (Eh, sudah, tapi anak pertama saya kan meninggal, jadi tidak dihitung sama mereka). Karena merasa dibela ortunya, si anak yang tadi dengarin saya menasihatinya pun langsung berani mengejek saya "blablabla", katanya, lalu pergi melengos.

Traumatis kan?! Haha..

Begitulah. Memang lisan tuh bahayaa. Ndak yang kecil, ndak yang tua. Tapi memang susah sih jaman sekarang. Masih banyak yang suka berdalih namanya juga anak kecil. Padahal anak kecil itu pintar. Harusnya kita tidak meremehkan kecerdasan anak. Bayangkan, kalau sudah besar jadi apa anak pembully..

Sulit untuk mengatur orang, apalagi kalau kita tidak dianggap siapa-siapa. Ya sudah. Yang penting kita harus pastikan bukan kita orangnya. Dan tak kalah penting, banyak-banyakin berdoa supaya anak-anak kita tidak menjadi korban maupun pelaku bullying. Tantangan anak-anak jaman sekarang memang beda dengan jaman ortunya dulu..

Catatan Bunda di hari kemerdekaan. 17 Agustus 2024.

Read more…