Tampilkan postingan dengan label Sambas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sambas. Tampilkan semua postingan

5.23.2017

Bermain Kano di Sungai Sambas

Setelah tahu kalau bermain kano itu seru, saya jadi agak ketagihan dengan aktivitas air ini. Jadi kalau ada kesempatan main kano, rasanya sayang kalau disia-siakan. Seperti waktu kakak mengajak saya main kano di Sambas waktu kami berlibur bulan lalu. Rasanya penasaran dengan sensasi berkano di sungai yang membelah kota kecil yang kental dengan budaya melayu itu.

credit: kak Lia

Read more…

4.05.2016

Simberapian di Rumah Mak Ngah

Sudah beberapa waktu ini keluarga kami penasaran ingin menikmati sayur pucuk simpur. Dengan mempertimbangkan ketersediaan waktu, akhirnya rasa penasaran akan sayur pucuk simpur akan dijawab dengan acara simberapian dengan keluarga lain yang juga penasaran atau rindu makan sayur unik ini. *nyari teman Maka disepakatilah simberapian dengan keluarga sepupu kami dan ipar kakak hari Selasa ini.

Hasil simberapian

Read more…

10.27.2015

Bubbor Ambo'

Baru-baru ini, saya kepincut salah satu makanan tradisional khas Melayu Sambas. Namanya bubbor ambo' atau bubur ambo'. Ada lagunya lho:

Bubbor ambo', saddapnye do'.. bubbor ambo', saddapnye do'.."


Dari terminologinya, bubbor adalah bubur, atau jenis makanan dari beras yang dimasak lama dengan air yang banyak sehingga menghasilkan tekstur yang lebih lembut dari nasi. Sedangkan ambo', hehe, saya kurang tahu artinya apa. Nanti deh kalau sudah tahu saya update. *alinea sok penting, hhihi

Jujur saja, untuk kuliner bubur khas Sambas, selama ini saya hanya familiar dengan bubbor paddas / bubur pedas saja. Malah saya dan Kakak sudah biasa bantu Mama' membuatnya. Sementara bubbor ambo', duh, jangankan tahu bentuknya seperti apa, mendengar kata bubbor ambo' untuk pertama kali saja dari lirik lagu yang ada di album lagu daerah Sambas. Hehe.

Sampai ketika Kakak saya menikah dengan abang yang asli Melayu Sambas...

Di awal pernikahan mereka, Kakak sempat tinggal di Kota Sambas mengikuti Abang yang membuka usaha selama beberapa tahun. Di kota kecil itu, Kakak mulai belajar membuat bubbor ambo' sendiri. Dari situ akhirnya kami yang di Pontianak jadi tahu dengan kuliner khas ini setelah dibuatkan oleh Kakak. Saya sendiri baru resmi mencicip bubbor ambo' untuk pertama kali pada akhir bulan Agustus tahun ini, atau sekitar 2 bulan lalu.

Cara membuat bubbor ambo' bisa dikategorikan jauh lebih mudah dan cepat daripada bubbor paddas. Ini bisa jadi karena sayur-mayur yang digunakan untuk bubbor ambo' tidak sebanyak yang digunakan untuk bubbor paddas, jadi tidak banyak yang perlu disiangi. Bumbu yang digunakan lebih sedikit. Membuatnya pun cepat, tinggal cemplung. Yang lama paling-paling merendam berasnya, yaitu dari semalam sebelumnya supaya tekstur bubur lebih halus dan lembut.

Ah ya. Kalau saya tidak keliru, campuran sayur untuk bubbor ambo' hanya midding (pakis) dan jagung manis pipil. Kata Kakak, aslinya malah hanya midding tanpa sayuran lain, mengingat dulu di lanskap Sambas berlimpah sayur pakis. Jagung manis adalah sebagai bahan tambahan supaya lebih menarik tanpa merusak rasa.

Yang pasti, bubbor ambo' buatan Kakak enaaak sekali. Sama enak dengan bubbor paddas buatan Mama' (dengan citarasa yang berbeda, pastinya, karena kan bahan bumbunya beda). Ini menurut saya lho yaa.

Yang membuat saya terkesan, Kanda yang berlidah Padang juga bisa ketagihan bubbor ambo', lho. Satu mangkuk tidak cukup, ditambah tapo'an (pelengkap) udang ebi di atasnya, hmm, nyam nyam. Bubbor ambo' buatan kakak memang top.

Terima kasih Kakak sayang, yang sudah membuatkan bubbor ambo' yang nikmat. Juga untuk siapapun yang sudah mengajarkan Kakak membuat bubbor ambo' yang enak. Dan puji syukur kepada Sang Pemberi Rejeki yang mengizinkan saya menyicip bubur nikmat warisan budaya Melayu Sambas ini. Alhamdulillah.. ^^


Read more…

8.27.2015

Kaing Sambas, Kaing Bannang Ammas

Kaing Sambas atau kain Sambas adalah kain tenun benang emas yang berasal dari daerah Sambas, Kalimantan Barat. Beberapa daerah di Indonesia menyebut kain tenun semacam ini sebagai songket, jadi bisa dikatakan kaing sambas adalah semacam songket dari daerah Sambas. Tapi itu penyederhanaan, karena orang Sambas tidak menyebutnya sebagai songket melainkan kaing sambas atau kaing bannang ammas.


Seperti yang saya sebutkan di awal, kain sambas menggunakan bannang ammas atau benang emas. Benang-benang emas tersebut disusun menjadi pola-pola tertentu yang khas Melayu, salah suku bangsa mayoritas Sambas. Sebagaimana kain tradisional lain, pola-pola yang ada pada kain sambas terinspirasi dari alam, seperti pola puccok rabbong atau pucuk rebung pada kain sambas berwarna pink milik saya pada gambar di atas. :)

Dalam kehidupan Melayu Sambas, kain sambas biasanya dipakai pada hari-hari besar dan spesial seperti hari raya ied fitri (raye puase), hari raya ied adha (raye aji), undangan pernikahan, serakkalan (salawat nabi), acara resmi kerajaan, dan lain-lain. Kain sambas juga merupakan barang yang nyaris wajib ada di hantaran (paket hadiah pernikahan dari pengantin pria kepada pengantin wanita) dalam budaya pernikahan Melayu Sambas. Mungkin karena kesan benang emas yang mewah, kain ini hanya digunakan pada acara spesial atau diberikan untuk orang spesial saja.

Dulu kain sambas hanya berupa kain yang dijahit menjadi sarung, digunakan oleh para wanita sebagai bawahan kebaya atau baju kurung. Biasanya ada pasangannya berupa selendang besar berpola dan berwarna sama untuk disampirkan di bahu. Para pria juga menggunakan kain sambas, yaitu sebagai sabok atau kain pelengkap pakaian telo' belanga' (pakaian tradisional Melayu). Karena inilah ukuran kain untuk wanita dan kain untuk pria berbeda (cmiiw). Kain untuk wanita lebih lebar daripada kain untuk pria, tapi saya kurang tahu ukuran pastinya. Semoga lain kali bisa bertanya lebih lanjut secara langsung ke pembuat kain sambas.

Sekadar info, harga kain sambas sesuai dengan kesan yang diberikan: berkelas. Beberapa tahun lalu saja, sebelum saya menikah (tahun 2010 an), sehelai dihargai minimal 500 ribu-an untuk motif sederhana atau benang emas tidak penuh dan warna dasar 1 warna. Harga ini bervariasi untuk tiap kain tenun karena disesuaikan dengan kerumitan pola, ukuran kain, dan jumlah warna dasar kain. Saya kurang tahu harga sekarang berapa, soalnya belum punya budget untuk beli lagi walaupun ingin (curcol, hhihi). Yang jelas sudah dapat bayangan kan berkelasnya kain ini?

Eh, tapi kalau dipikir-pikir, harganya sepadan kok, karena selain terkesan mewah oleh benang emas, kain sambas memakai benang yang tebal (tahan lama jika dirawat dengan baik). Selain itu juga ini sebagai bentuk apresiasi atas nilai budaya, keahlian, ketelatenan, dan kesabaran pengrajin kain sambas. Soalnya sepengetahuan saya, kain ini masih dibuat dengan mesin tenun biasa, jadi untuk membuat 1 kain cantik diperlukan waktu, tenaga, dan ketelitian tinggi. Satu kain saja pengerjaannya bisa berbulan-bulan. Duh..

Mungkin karena harganya itu, sekarang kain sambas banyak diaplikasikan sebagai aksen agar lebih terjangkau semua kalangan. Ada baju koko, selendang kecil, songkok atau peci, sajadah, hiasan dinding, dan lain sebagainya. Harganya tentu lebih tinggi daripada baju koko, selendang, songkok, atau sajadah biasa, tapi pasti jauh lebih terjangkau jika dibandingkan dengan harga kainnya.

Berminat dengan kain sambas? Hubungi saya via email yaa. Siapa tahu saya bisa membantu. ;)  Bye!


Read more…

6.15.2015

Yang Terdengar Dua Kali

Saya ingat, saat itu pertengahan bulan Ramadhan. Malam hari, kami sekeluarga bertolak dari Pontianak menuju Sambas. Bukan hendak pulang kampung untuk merayakan idul fitri, tapi karena ada sepupu Mama berpulang ke rahmatullah..

Yang Terdengar Dua Kali
(credit: Nikos Koutoulas/flickr)


Read more…

1.29.2015

Geratak Sabbo', Sambas

Ade urang beceritte
Sungai Sambas Kebanjeran
Tujoh ari tujoh malam
Nak bejalan kepayahan

Geratak Sabbo' bepatahan
Dilanggar lanting dari Simbarang
Urang Sabbo' kebabbangan
Nak nyimbarang kepayahan

Yoo, ngape tang gaiye jikku be
Yoo, ngape tang banjer jikku be
Barang jak oi, takder Tuhan

Geratak Sabbo' Sambas Kalimantan Barat
Geratak Sabbo' Tahun 2012

Read more…