Tampilkan postingan dengan label Reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reflection. Tampilkan semua postingan

10.17.2026

Ujian dan Konsekuensi

 Menyambung postingan sebelumnya..

Menggunakan logika "saya sudah kuliah 4 tahun, maka saya layak lulus sidang skripsi ini" adalah sama konyolnya dengan logika "saya sudah hidup puluhan tahun, maka saya layak masuk surga".

Read more…

Kelayakan

Kemarin saya membuka instagram dan menemukan satu video menarik. Video tersebut adalah video wawancara singkat yang dilakukan acak oleh si pemilik akun kepada orang-orang yang ia temui di jalan. 

Tangkapan layar dari video tersebut.

Read more…

5.18.2026

Peniru Profesional

Anak-anak itu peniru. 

Saat kita berdalih dengan perkataan "namanya juga anak-anak", kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa ketika anak-anak "bertingkah", bisa jadi mereka sedang dalam mode meniru perilaku orang-orang terdekatnya, yaitu ibu dan ayah mereka. Bisa juga orang-orang yang paling sering berinteraksi dengan mereka atau orang-orang yang pernah mereka temui.

Jika itu perilaku salah, maka selayaknya ibu dan ayah segera introspeksi dan memperbaiki diri. Jangan denial. Tenangkan pikiran. Kita semua sedang belajar. 

Jangan salahkan anak-anak karena meniru. Salahkan orang dewasa yang gagal memberi teladan yang baik dan orang dewasa yang gagal memberikan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Sadari kesalahan itu, dan PERBAIKI.

Ini reminder bersama, demi masa depan yang lebih baik. 

NB:
Iya, Chia hari ini di-bully anak orang (tidak kenal sebelumnya, ketemu di taman). Semoga setelah ditegur, orang tua dari anak pembully itu sadar dan memperbaiki diri, agar anaknya bersikap lebih baik karena meniru orang tuanya memperbaiki diri. Aamiin.

Read more…

4.15.2024

Tentang Jomblo

Dari dulu, saya termasuk orang yang ngerasa risih dengar joke tentang jomblo (istilah dari kondisi single atau belum memiliki pasangan)

Maksud saya, apa sih lucunya? Malah jatoh-jatohnya merundung atau bully.

Ngebully orang jomblo, alasannya, supaya mereka terdorong untuk cepat nikah? Yakin niatnya gitu? Atau ini malah tentang ketakaburan diri, yang mentang-mentang udah punya pasangan jadi ngerasa punya hak untuk ngerendahin orang lain yang belum punya pasangan?

Karena sejauh pengalaman, yang terlihat adalah para pembully ini _ngerasa_ kondisinya "lebih" daripada yg dibully. Lebih apanya? Ya lebih dari segi udah nikah atau udah punya pasangan. Kalau masalah lain mah belum tentu lebih. ((Tapi justru karena tidak punya kelebihan lain lah makanya pembully sukak banget kayaknya membanggakan kondisi lebihnya itu. Dalam kata lain, karena tidak punya kelebihan lain, makanya fokusnya cuma itu aja. Serius. Rasanya tidak pernah liat jomblo ngebully tentang kejombloan org lain. Adapun jomblo ngebully jomblo itu biasanya tentang hal lain selain kejombloannya. Wong kondisi sama, nggak tau diri namanya kalau ngebully juga. Kecuali orang itu ......))

Lagipula, kalau memang mau para jomblo cepat menikah, kan cara etisnya lebih banyak. Kenalin sama orang baik, didoain diam-diam, diajak (atau dibayarin sekalian!!) kegiatan positif seperti seminar persiapan pernikahan, kelas masak, pelatihan keuangan keluarga, kelas parenting, dll. Kayaknya itu lebih ngefek deh, daripada ngeledek atau bikin kondisi mereka sebagai bahan ketawaan orang. 

Ledekan, menurut saya justru bahaya. Sangat mungkin dan banyak kejadian, karena ingin menghindari ledekan nggak mutu itu, para jomblo akhirnya menurunkan standarnya. Dalam artian, yang awalnya maunya nikah dengan yang punya visi misi hidup yang sama atau searah, akhirnya jadi mau nikah asal ada yang mau aja, tidak peduli visi misi hidup bertolak belakang atau bahkan oke saja sama yang tidak punya visi misi sama sekali. Demi tidak dibully, terutama di hari besar, di acara kumpul-kumpul yang katanya untuk mempererat silaturahim. Pret.

Ih kok sewot amat sih. Emang pernah ngalamin ya?

FYI. Saya nikah di usia pada umumnya, jadi ndak sampai ngalamin bully brutal tentang jomblo, alhamdulillah. Paling pas single aja dulu, pernah dikatain "nggak laku". Sempat khawatir juga dulu, bertanya dalam hati, "saya bakalan nikah ndak ya". Alhamdulillah ujian saya bukan di situ. Ujian saya di yang lain. 

Ujian saya, yang sejauh ini punya dampak besar dalam hidup adalah tentang anak. Kami lama dikaruniai anak. Nikah 1,5 tahun ditanyain terus udah isi belum. Dah hamil, dikomen. Pas anak pertama meninggal, dikomen juga, ada yang bahkan mensyukuri. Tujuh tahun setelah itu baru dapat anak kedua, alhamdulillah. Tapi ujian dari mulut orang tentu tak berhenti, dan selama durasi penantian ulang 7 tahun itu luar biasa menguras air mata. Untungnya sejak anak pertama meninggal, saya belajar dengan keras untuk tidak terlalu peduli sama omongan orang. Sangat berat, terutama karena hampir sepanjang hidup saya diajari untuk "dengerin dan peduli kata orang", jadi omongan orang pasti ada efeknya. Tapi sekarang tambah umur udah tambah bisa memisahkan mana yang perlu didengar mana yang dikamehameha aja. Toh kebanyakan --kalau diperhatikan-- yang banyak negatif itu cuma orang-orang yang hidupnya lebih merana dan memprihatinkan. Cuma mungkin mereka ingin menghibur hati, ngerasa mumpung punya hal lebih yang bisa dibanggakan, akhirnya ngejatohin orang lain yang kesulitan. Sebagaimana energi positif, energi negatif juga menyebar. Semacam itulah.

Iya, saya sengaja bubuhkan kata "mumpung", karena memang ndak ada yang abadi kan, di dunia ini.. termasuk apapun itu, yang dibangga-banggakan dan menjadi modal para pembully untuk membully orang lain 

Pengalaman hidup itu yang mungkin bikin saya lebih peka --walaupun dari dulu memang tidak suka-- dengan joke jomblo.

Katanya sih, "cuma becanda supaya santai". Iya yang nanya yang santai. Yang ditanyain, santai tidak? Pernah nanya? 

"Yaela, baper amat". Eh biarin! Supaya kita tuh tahu batasan, mana yang bisa dijadikan lelucon mana yang tidak. Itu etika, kompas moral.

"Pengen mancing aja, siapa tau sebenarnya dia udah punya calon". Ooh kepo gitu ya? Kepo pengen tahu urusan pribadi orang, jadi dibully aja gitu supaya tidak ketahuan keponya? Duh, daripada dibully, tanya aja langsung dengan sopan, "ada kabar bahagia kah dalam waktu dekat ini?". Kalau orangnya jawab, mau nikah, ikutlah berbahagia. Kalau jawabannya ke hal selain pernikahan, ya mungkin emang kebahagian dia di hal-hal itu. Kasih ucapan doa dengan tulus. Anggaplah kalaupun dia nutup-nutupin kabar, ya hargai aja, itukan privasi dia. Siapa kita? Kalau khawatir tidak "sedekat itu", jangan nanya sekalian. Toh kalaupun dikasih tahu, belum tentu juga mau ngasih kado spesial kan, cuma kepo aja. Udahlah..

Intinya, hargai orang lain. Ada orang mau nikah, alhamdulillah, didoakan yang baik-baik. Kalaupun ada yang belum juga kunjung menikah, doakan juga yang baik-baik. Sebenarnya bikin jokes tentang jomblo tuh jauh lebih susah daripada mendoakan orang lain supaya segera dapat jodoh, tapi herannya, kok...

Ah sudahlah.

Untuk sodara-sodariku yang lagi di fase jomblo, tetap semangat. Isi masa ini dengan hal-hal positif membangun, ikut seminar-seminar, baca buku, atau berdiskusi. InsyaAllah tidak rugi. Justru itu mungkin jadi bekal berharga kalau sudah tidak lagi di fase tsb. Yang rugi itu kalau dengarin semua kata orang di luar sana, yang peduli pun tidak ketika kita kesulitan. 

Semua fase ada ujiannya. Semoga kita semua --apapun fase yang sedang ditakdirkan Allah untuk kita jalani saat-- bisa mengantarkan keberkahan dari Allah SWT. Semoga kita lulus ujian dengan paripurna, aamiin yaa rabbal alamin..

Read more…

11.29.2023

Siapa Siapa

Selama kamu bukan siapa-siapa, kamu tidak akan didengarkan oleh orang lain, kecuali oleh secuil.

Maka jadilah "siapa-siapa". Tanpa itu, senyaring apapun tak ada gunanya.

Kalau kamu cukup tebal muka, mungkin kamu akan mendapatkan popularitas sebagai "siapa-siapa", meskipun bisa jadi dalam konteks yang agak negatif. Bertahanlah jika itu keinginanmu.

Tapi jika belum bisa jadi "siapa-siapa" dan kamu juga tidak kuat bertebal muka, maka kamu harus kuat bertahan jika besok-besok kamu diperlakukan layaknya orang yang bukan siapa-siapa lagi. Tidak masalah. Suaramu masih bisa terdengar kok, mungkin dengan media lain. Jalani saja.

Begitulah kehidupan di dunia. Jangan terlalu pusing karenanya.

Read more…

11.24.2023

"Kamu Jahat"

Baru-baru ini, saya dikatain jahat. Hmm.. Udah biasa disalahpahami, sih. Jadi ndak ngaruh!

Eh eh, tapi kalau ndak ngaruh kenapa sampai bikin postingan blog segala? Haha. Emm.. Iya juga sih ya. Ada ngaruh, dikit, yaitu bikin gatal pengen ngomong sesuatu. Tapi kan percuma ngomong ke orang yang udah punya prasangka buruk tentang kita. Jadi daripada panjang lebar mendebat dan membela diri ke orang yang kadung melabeli saya sebagai orang jahat, mending saya ngisi blog saya ajedah. Hehe

Ngomongin tentang "jahat", mungkin saya emang jahat meskipun sedikitpun tak berniat. 

Saya tipe orang yang tidak mudah mengungkapkan semua hal, apalagi masalah yang sedang dihadapi, ke orang lain --terutama kepada orang yang secara track record di masa lalu seringkali menyakiti dengan kata-katanya. Saya lebih suka masalahnya lewat dulu, diendapkan, baru diceritakan hikmahnya untuk pembelajaran ke depan. Itupun biasanya lewat blog, lewat tulisan, supaya sempat mikir. Kalaupun saya cerita ke orang, biasanya karena orang itu adalah orang yang benar-benar dipercaya (walaupun pada akhirnya tidak semua orang kepercayaan layak dipercayai). Sampai di sini, rasanya normal. Banyak orang seperti itu.

Menurut saya, ya ngapain juga curhat sama orang yang jelas-jelas dirasa nggak cocok sama kita. Kalau udah tau (berdasarkan pengalaman sebelumnya) bakalan dikerasin, dikatain, disalahin, atau dijatuhin; bagi saya, mending simpan sendiri, beresin sendiri. Kalau bercerita adalah nambah perkara, mending kurangin perkaranya. Capek hidup banyak drama..

Nah, masalahnya, itu kan opini saya. Opini orang lain bisa jadi beda. Dan itulah yang menjadikan saya jahat bagi sebagian orang. 

Apakah dikatai jahat membuat saya sedih? Sedikit. Siapa lah yang mau jadi orang jahat, kan. Ini jadi bahan instrospeksi saya pribadi. 

Tapi kemudian, apakah dikatai jahat membuat saya menurunkan nilai diri sendiri? Saya rasa (dan saya harap) tidak, karena itu tadi: tiap orang punya alasan, tiap sisi punya persepsi. Saya punya alasan kuat yang didapatkan dari pengalaman pribadi yang tidak dirasakan oleh orang lain. Label buruk dari eksternal tidak seharusnya mempengaruhi bagaimana kita menilai diri kita, kecuali jika kita mengizinkan. Cukupkan diri mendengarkan label buruk dari orang yang bahkan tidak ingin mengenal kita dengan baik. Saya sudah belajar dengan harga mahal tentang ini.

Intinya, saya tidak ingin menjadi jahat maupun dilabeli jahat. Tapi jika memiliki pendapat dan bertahan pada pendapat itu membuat saya dianggap jahat, tidak apa.

Jika sifat tertutup seseorang membuat orang lain tidak nyaman, maka seharusnya bukan hanya satu pihak saja yang mengintrospeksi diri, melainkan pihak lainnya juga..

Dah. Gitu deh curhat kali ini. Bye

Read more…

11.03.2022

Kekuatan Orang Dalam

Sejak semester lalu, entah sudah beberapa kali saya dipaparkan dengan kasus tentang the power of insider alias kekuatan orang dalam. Mulai dari mahasiswa semester akhir yang nulis kutipan "kunci kesuksesan adalah orang dalam" di halaman motto di draft skripsinya; sampai dengan mahasiswa yang sepertinya ingin menguji saya dengan sengaja nyontek di kelas saya lalu minta perlindungan atasan saya. 

Untuk kejadian yang saya sebutkan pertama di atas, alhamdulillah anaknya dengan kesadaran sendiri mengganti isi halaman motto dengan kutipan lain yang lebih berkualitas dan memotivasi di skripsi finalnya. Halaman motto memang terserah mahasiswa tapi ini cukup memberikan gambaran kepada saya betapa insecure-nya anak-anak kami dengan hal tersebut sampai kepikiran bikin halaman motto dengan kalimat tersebut. Bukankah apa yang dikeluarkan adalah hasil dari apa yang masuk ke dalamnya? Sudah sangat bisa dipastikan bahwa anak tersebut terpapar begitu banyak kasus kesuksesan atas andil "kekuatan orang dalam" dalam hidupnya sampai dengan begitu yakin menganggap itu adalah hal yang inspiratif dan keren untuk dituliskan di halaman motto hidup penulis. Terus terang, sedih menyadari ini.

Untuk kasus yang saya sebutkan belakangan, terus terang masalahnya belum selesai sampai saya menulis postingan ini. Untungnya atasan saya normal, jadi tidak ikut campur. Tentang kasus ini sebenarnya saya sudah punya firasat kurang baik mengenai mahasiswa ybs. Selama perkuliahan sikapnya seringkali terlihat tidak respek: main hp saat saya menjelaskan, selalu berlama-lama saat izin keluar, beberapa kali ketangkap memutar mata (eye-rolling behavior).. Cuma selama setengah semester itu saya males nanggapinnya. Saya suka mengajar, jadi rasanya sayang kalau sampai mengorbankan mood baik untuk 1 kelas gegara 1 anak menyebalkan kayak gitu. Toh menurut saya, dia sendiri yang rugi karena sengaja meninggalkan ilmu.

Tindakan tidak respeknya yang terakhir, ya, pas nyontek itu. Padahal udah jelas-jelas diingatkan berkali-kali, sejak dari kontrak perkuliahan sampai sesaat sebelum ujian berlangsung. Yes, just before the exam!! Jadi bohong banget ketika dia ngaku ke atasan saya kalau dia tidak sengaja. Dan ini juga makin menunjukkan sikap tidak respeknya selama ini: melangkahi saya. Bikin masalah dengan saya, tapi minta pembelaan dari atasan saya. Dia tahan nunggu berjam-jam untuk ketemu sama atasan saya yang sibuk, tapi baru ngirim permintaan maaf (yang belum saya yakini ketulusannya) 5 hari pasca kejadian. Itupun di hari libur. Benar-benar ngerusak mood. Seremeh itu perlakuannya kepada saya. Tapi biasanya tetap kualat sih, anak kayak gitu.

Selain dua cerita di atas sebenarnya ada beberapa kejadian lain yang menggelitik otak saya buat mikir. Salah satunya ketika saya ditanyai mahasiswa tentang tanggapan saya terkait kekuatan orang dalam ini. Di semester ini, pertanyaan sekitar masalah tsb setidaknya sudah saya dapatkan dari 3 kelas yang berbeda. Saya senang mereka bertanya sehingga saya berkesempatan menyampaikan pendapat saya, yang semoga membukakan mata mereka. Namun di sisi lain, saya merasa sedih dan miris, karena ini menandakan betapa mereka merasa begitu tidak aman dengan masa depan mereka akibat faktor "orang dalam" ini. Terlebih faktor ini sangat nyata terjadi di sekitar kami sehari-hari. Faktor yang sangat tidak bisa diabaikan namun menjadi rahasia umum yang pantang dibuka kecuali sudah siap dengan gejolak sosial yang mengerikan. Sungguh menyedihkan.

Contoh lain sepertinya tidak perlu disebutkan. Terlalu banyak.

***

Malam ini saya terdorong untuk menulis ini, gegara baca sebuah surat dan melihat fenomena², membaur jadi satu. Tadi sempat mikir gini, "kenapa ya hidup ini begitu tidak adil?". Banyak kasus orang kompeten yang kalah saing dengan orang yang tidak kompeten tapi punya privilege orang dalam (yang entah didapat dari hubungan keluarga ataupun karena keahlian menjilat). Why? Just why???

Ini cukup mengganggu karena saya melihat generasi muda jadi malah berlomba mencapai/ mendapatkan sesuatu yang bersifat superfisial (tapi dianggap bisa jadi modal untuk mendapatkan kunci kesuksesan: "kekuatan orang dalam"), bukannya berlomba meningkatkan mutu diri dan mengaplikasikan ilmu yang berharga untuk dunia maupun akhirat nanti..

Ah, akhirat. Kata ini mengingatkan saya. Kehidupan dunia memang bisa jadi sangat tidak adil, tapi Allah Maha Adil. Kekuatan-orang-dalam tidak akan ada apa-apanya dengan kekuatan Yang Maha Kuat, Maha Perkasa, dan Maha Kuasa. Jadi lakukan saja yang terbaik yang bisa dilakukan untuk akhirat, minta tolong sama Allah. Jangan terlalu pusing mikirin dunia (tapi nulis gini perlu juga buat healing mengurai pening. Heuheu)

Dah dulu deh. Ngantuk 👋

Read more…

5.19.2022

Syukur

Bersyukurlah atas segala yang kita miliki meski terasa tidak sempurna..

Di luar sana, ada yang dalam diam berusaha kuat, mengumpulkan tenaga dan semangat, tak henti berdoa, sambil tetap tersenyum. Begitu senyap sehingga ketika mereka bercerita kepada kita tentang kesulitan yang mereka hadapi, kita akan kaget karena tak pernah menyangka.. 

Betapa tegarnya mereka, dan betapa beruntungnya kita..

Read more…

11.05.2020

"Aku Tahu Siapa Yang Perlu Ini.."

Beberapa waktu lalu, mata saya ditakdirkan untuk membaca postingan nasihat di instagram berikut. Sengaja saya screenshot. Terutama karena pengen nyentil beberapa orang yang rasanya perlu disentil..



Jadi ceritanya, saya masih merasa geram dengan beberapa orang yang lisannya senang menghasut dan menggangu ketentraman hati. Rasanya pengen saya kirimkan ss ini ke orang-orang tsb buat ngingatin. Sayangnya (atau "untungnya"(?)) Saya terlalu pengecut untuk berkonfrontasi langsung seperti itu. Terutama karena dulu pernah mencoba, eh, yang disentil gagal menangkap maksudnya (atau pura-pura kurang cerdas, saya juga kurang paham), kan jadi kesal sendiri, wkwk. Sementara itu, mau dijadikan status WA, ah nanti malah orang lain yang tak kena-mengena urusan yang tersinggung. Apalagi bisa dipastikan, orang-orang yang dituju malah sudah tidak pernah melihat status WA saya belakangan ini. Kalau FB sih memang sudah jarang buka. Ya mungkin karena "berteman" dengan orang-orang tersebut, jadi males. Jadilah foto-foto ss ini hanya tersimpan di memori hp..

***

Takdir. Beberapa hari lalu, saya menonton salah satu video Mufti Menk. Judulnya, I Know Someone Who Need This. Rasanya tersentak karena dapat pemahaman itu. Ilmu yang sebenarnya sudah lama "diketahui", tapi karena baru relevan dengan hidup, jadi baru meninggalkan pemahaman yang berkesan.


Begitulah. Kadang kita pikir ada orang lain yang perlu sebuah nasihat atau teguran atau sindiran, lalu melupakan bahwa sebenarnya kitalah yang memerlukannya. Ya, mungkin orang lain juga memerlukan ini, termasuk orang-orang yang terlintas di benak kita sebelumnya, tapi yang pasti, Allah mengirimkan sentilan tersebut spesial untuk kita. Mungkin supaya kita ingat untuk tidak menjadi seperti orang yang sifatnya tidak kita sukai, naudzubillah. Kadang kan gitu ya. Kita tidak suka sikapnya si A, tapi tanpa sadar kita malah bertingkah seperti itu juga. Naudzubillah..

Memang berat dan sulit untuk tidak terbawa perasaan, apalagi kalau sampai sempat depresi dan trauma karena sikap dan lisan orang-orang toxic. Tapi biarlah, insyaAllah saya akan belajar pelan-pelan. Seperti kata suami, biarkan orang lain berkata dan berasumsi semaunya tentang kita. Yang penting kita jangan seperti itu..

Mengenai masalah sharing/berbagi, harus selalu meluruskan niat. Berbagi bukan untuk semata-mata mengingatkan apalagi menyentil orang lain, melainkan untuk diri sendiri dulu. Berbagi adalah tentang memberikan semampunya. Kalaupun misal yang menerima tersentuh, alhamdulillah, mudah-mudahan jadi amal, aamin.. 

Saatnya fokus untuk perbaikan diri sendiri. Kalau masih disakiti, minta tolong sama Allah saja. :)

Read more…

10.28.2020

Overweight (?)

Beberapa waktu belakangan ini, saya merasa lebih berat dari seharusnya. Beberapa kali saya pernah mengungkapkan ini kepada beberapa orang. Kebanyakan responnya, "Nanti setelah melahirkan juga turun lagi kok. Kan bisa diet." 

Masalahnya, saat ini bukan badan saya yang saya khawatirkan, melainkan risikonya. Setelah melahirkan, kalau menjaga makan dan rajin olahraga, insyaAllah bb bisa mengikuti sehat. Saya yakin itu. Istilahnya, no pain no gain lah. Selama mau berusaha, insyaAllah bisa. Yang mengganggu pikiran saat ini, kalau sampai overweight, ada beberapa risiko yang "mungkin" mengiringinya bagi bayi maupun ibu. Saya takkan menyebutkannya. Memikirkan persalinan saja membuat saya tegang, ditambah memikirkan masalah ini, tambah tegang, heuheu..

Ah.. Mungkin karena saya masih belum hidup di "saat ini". Terlalu sibuk menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Padahal hidup adalah saat ini. Sekali lagi, SAAT INI. Harusnya momen ini dinikmati dan dihayati sebaik mungkin. Senang alhamdulillah, susah pun alhamdulillah karena masih diberikan kewarasan. Toh senang dan susah beriringan, insyaAllah setelah kesulitan ada kemudahan. InsyaAllah..

Hmm. Baiklah. Ada bagusnya juga nulis di sini, hehe. Jadi sekalian merenung. Awalnya sih mau share ringan, siapa tahu ada pembaca yang suka langsung nge-judge bumil yang mengkhawatirkan bb nya naik tinggi itu sebagai wanita yang egois karena mikirin bb nya doang. Yah, mungkin-mungkin saja, karena niat dan motif tiap orang berbeda. Tapi tolong jangan langsung dipukul rata, karena ada juga yang justru lebih mikirin anaknya daripada dirinya sendiri. 

Saya bersyukur juga sih, ada yang komentar seperti yang saya sebutkan di atas. Ini membuka mata, walaupun sempat juga menimbulkan efek nyalahin diri sendiri (karena merasa "ih aku kok egois banget ya"). Tapi ambil hikmahnya, saya yakin seyakin-yakinnya, mereka begitu karena peduli. Sejauh ini belum ada yang menyakitkan hati karena nada dalam komentar tsb cenderung netral. Soalnya beda kan kalau orang yang nge-judge, biasanya nadanya nggak enak bet, shay! Mungkin karena sekarang kalau cerita, saya lebih selektif. Yang toxic parah, ya lewat. Daripada hatiku hancur mengenang dikau, yekan.. hehe

Read more…

9.02.2020

Mengubah Mindset dan Belajar Menerima

Seharusnya saya memosting ini semalam, tapi karena ngantuk berat, saya tidur lebih awal daripada biasanya. Hehe..

Jadi, ceritanya, kemarin sepertinya tema belajar saya adalah tentang syukur (lagi!). Mulai dari instagram sampai youtube, saya terpapar dengan sentilan tentang pentingnya bersyukur. Padahal yang sengaja saya buka rasanya (pada awalnya) tidak nyambung dengan hal ini. Tapi ujungnya bermuara di topik tersebut.

Read more…

8.31.2020

Saat Dilanda Cemas..

Beberapa waktu belakangan ini, saya sering diliputi rasa khawatir yang bisa dikategorikan agak berlebihan. Akibatnya, sering nangis. Mulai dari mikirin corona, kerjaan, keluarga, kehamilan, dan terbaru kemarin, teringat kepergian anak pertama kami dulu. Yang terakhir disebutkan ini karena faktor kangen sih. Pas tanggal 29 Agustus lalu ultahnya juga, pas kangennya ini waktu suami lagi perjalanan dinas luar kota. Udah deh, nangis lagi. Meskipun nangisnya positif --bukan ratapan, mengehujat Allah, atau perasaan negatif lain-- tapi efeknya ternyata tetap kurang baik bagi saya yang sedang tirah baring. Dan ini bikin saya agak panik lagi.

Read more…

6.29.2019

Review Tengah Tahun

Tak terasa sudah 6 bulan berlalu dari euforia pergantian tahun masehi. Selama 26 pekan atau sekitar 181 hari, pasti banyak kisah yang terjadi pada rentang waktu tersebut. Dapatkah kita mengambil pelajaran dari pengalaman hidup yang telah dilalui?

Untuk menjawab ini, tentu kita perlu merenungkan beberapa hal. Nah, berhubung saya baru bikin lay out untuk halaman review tengah tahun (mid year review page) di bullet journal, saya share sedikit ya..

Read more…

3.25.2019

Bintang

Pasti bukan kebetulan. Pagi ini di kelas online, saya dkk dapat materi berjudul "Semua Anak Adalah Bintang". Intinya, semua anak yang terlahir ke dunia (termasuk saya dan kamu yang membaca ini) pasti memiliki bekal khusus yang diberikan Allah. Kita menyebutnya bakat. Masalahnya, tidak semua orang "beruntung" dapat mengasah bakalnya dengan maksimal sampai menjadi maestro di bidangnya masing-masing.

(Maaf, bukan foto bintang 🤭)

Read more…

3.19.2019

Bibir Tergigit (Mitos dan Tips)

Makan malam kali ini ada tragedi berdarah. Bibir saya tergigit keras pas mengunyah. Kepala sampe mental ke belakang saking kagetnya. Pas dilihat, bagian yang tergigit berdarah, aduduh segitunya. Padahal rasanya biasa aja deh ngunyahnya. Proses memasukkan makanan ke mulut terpaksa dihentikan sejenak. Luka diseka pakai tisu kering. Lumayan juga darahnya, hhihi. 

Read more…

3.11.2019

Standar Kebahagiaan

Sebenarnya seperti apa sih bahagia itu? Dan kenapa kita bisa merasa kurang atau tidak bahagia?

Haha, tiba-tiba ngomongin yang begini ya.. 🤭 anggap saja ini untuk menyalurkan energi negatif setelah beberapa hari lalu ada yang bilang kalau kebahagiaan keluarga saya kurang lengkap karena ini dan itu.. 😄 mau bilang orangnya sotoy lu, kok kayak kurang sopan. Tapi tidak diungkapkan, tidak baik buat kesehatan mental, hhihi. Jadi ya saya tulis saja di sini. Lagipula, menulis di blog bagi saya adalah salah satu terapi yang baik sekaligus buat ngisi blog yang sudah lama lumutan 🤭 untung-untung kalau ada yang baca. Eh tapi belakangan ini saya malah ngarapin yang baca blog ini sedikit. Mungkin aneh, tapi jujur tekanannya terlalu besar. Mungkin karena motivasinya memang beda dengan teman-teman blogger kebanyakan sih. Kangen ngeblog kayak dulu sebelum gabung di komunitas-komunitas blog. Bebas. Bukan berarti tidak suka atau menyesal karena ikut komunitas, malah senang sekali berkesempatan berkenalan dan berkomunikasi dengan para blogger berprestasi dan keren-keren. Cuma untuk niche blog pribadi yang isinya remeh temeh kayak blog saya ini, entah kenapa jadi terasa timpang. Jadi gitu deh..

Hmm, cukup untuk intro. Kali ini saya mau berbagi sedikit tentang perenungan belakangan ini. Tentang tuntutan orang, tentang kebahagiaan, dan tentang kehidupan. 

Read more…

2.25.2019

Tak Sampai, Tak Apa

Hari ini saya dan suami mencari informasi terkait salah satu kebutuhan sekaligus keinginan besar kami saat ini. Sayang disayang, sepertinya belum bisa diwujudkan sesuai keinginan dalam waktu dekat. Bahkan rasanya mustahil. Saya merasa kecewa dan sedih karena harus menyingkirkan mimpi itu untuk sementara waktu, tapi insyaAllah masih dalam taraf wajar sih.

Cuma ya itu lah, rasanya tidak enaaaak sekali.


Read more…

10.09.2018

Basa-Basi yang Basi

Gak tau yaa. Mungkin karena dalam beberapa waktu belakangan ini ditanyain tentang anak melulu, saya jadi agak terpicyu buat nulis ini. Tsaaah.. terpicyu beb.. XD

Read more…

8.21.2018

Hikmah Hari Raya

Takbir hari raya Idul Adha berkumandang bersahutan malam ini. Alhamdulillah, masih dikasih umur untuk merasakan malam ini bersama orang-orang kesayangan.

Btw, beberapa hari belakangan ini baru kepikiran. Hari raya Islam (Idul Fitri dan Idul Adha) itu keren. Di hari raya Idul Fitri, semua muslim yang mampu diwajibkan membayar zakat fitrah. Bentuknya jaman sekarang boleh berupa uang tapi lebih afdhal berupa bahan makanan pokok daerah setempat. Di hari raya Idul Adha, muslim yang mampu disunnahkan untuk berkurban berupa hewan ternak yang memenuhi kriteria. Benang merah dari keduanya adalah berbagi.

Dengan berbagi di lebaran puasa, masyarakat yang kurang mampu bisa tetap bersuka cita merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa karena mendapat jatah bahan makanan pokok (jadi uang yang ada bisa dimanfaatkan untuk membuat lauk/sayur). Sementara di lebaran haji, mereka tetap bisa melengkapi kebutuhan gizi dari bahan makanan yang sulit dijangkau sehari-hari, yaitu daging. Berbagi di hari bahagia menyebarkan suka cita sebagaimana seharusnya hari raya. Di satu sisi, si pemberi dilatih jiwa berbagi dan menyayangi sesama, terutama kepada yang membutuhkan. Di sisi lain, si penerima tetap terjaga kehormatannya. Indah yaa..

Read more…

5.24.2018

Kecanduan Gadget (lagi!) | Renungan Ramadhan 1439 H

Beberapa hari belakangan, rasanya perhatian saya terlalu tersedot ke layar kecil di genggaman saya saat menulis ini. Entahlah mungkin karena faktor "baru nemu" aplikasi blogging via smartphone yang enak dipakai (saya pakai apk blogger user panel) plus barusan "cuti"  yang bikin merasa tidak masalah tidur telat dari biasanya (jam 11-an malam), jadwal harian saya jadi berantakan. Kebiasaan keasyikan main hp kumat lagi.


Read more…