10.19.2026

Siapa Suruh Jadi Dosen?

Dosen Indonesia beberapa waktu belakangan melakukan tuntutan terkait kesejahteraan. Respon masyarakat terbelah, ada yang pro, ada yang kontra. Namun ada yang menggelitik dan ingin saya tanggapi.

Ilustrasi ruang kelas.
Foto oleh fudowakira0 

 ðŸ‘¤: Siapa suruh jadi dosen! Kalau ndak puas jadi dosen, kenapa ndak berhenti/resign aja? Bersyukur! Banyak yang nyari kerja. Kamu yang udah kerja malah ngedumel, ngomel, protes..

Komentar senada ini pernah saya dapati sebagian di dunia nyata maupun baca di dunia maya. Ini membuat saya berpikir dan merenung, dan ini lah yang bisa saya pikirkan saat ini..

Pertama, menjadi pendidik adalah panggilan hati saya (dan mungkin sebagian besar dosen lain). Jadi, siapa Anda (yang ngomong begini) yang berani-beraninya menyuruh kami berhenti mengikuti panggilan hati kami?

Kedua, menyampaikan kenyataan --mungkin ada nuansa keluhan-- tapi kalau itu adalah masalah ketidakadilan, apakah salah untuk disampaikan? Tolong otaknya dipakai untuk berpikir. Jika masalahnya sistemik, yang harusnya didukung itu pihak yang dizolimin, bukan malah belain pihak zalim yang mengatur sistemnya. Plis ya, plis. PLIS, otaknya jangan disia-siakan. Hatinya juga tolong dipakai. Kalau sudah tahu diri bodoh, jangan jahat.

Ketiga, Anda pikir jadi dosen (dan pekerjaan lain) itu tidak pakai syarat, ujian, tes? Dengan bangga saya sampaikan bahwa, alhamdulillah, saya jadi dosen dengan kemampuan sendiri. Saya dan teman-teman seangkatan lolos administrasi, lulus CAT, lulus wawancara. Ini berlapis-lapis lho! Harusnya diapresiasi, bukan malah ditekan, dihinakan, dicap gila hormat. 

Giliran pejabat --yang tidak ada tesnya, yang kosong, yang ngawur, yang naik bukan karena kemampuan dan kompetensi tapi koneksi-- dicium tangannya, meskipun tangannya kotor habis makan duit publik atau kotor oleh darah orang. Tak apa, yang penting orang kaya! Aduhai aduhai. Jika pencapaian kesuksesan hanya diukur dari kekayaan, harusnya Qarun jadi nabi. Tapi ndak kan? 

Begitulah tanggapan saya. Tidak sependapat tidak apa.