Tampilkan postingan dengan label Pontianak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pontianak. Tampilkan semua postingan

2.26.2019

Jalan Pagi di Taman A Yani Pontianak

Pagi ini, saya dan suami menyempatkan diri berolahraga. Berhubung sudah lama tidak meluangkan waktu khusus untuk olah raga bersama, kali ini kami hanya jalan santai saja. Pemanasan otot. Pas baru beberapa hari lalu dari luar kota juga, jadi ya santai sajalah.

Btw, ini jalan-jalan hari Selasa, emang nggak kerja? 😷



Read more…

5.20.2017

Catatan 20 Mei 2017

Hari ini peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Bertepatan dengan itu, Kota Pontianak saya tercinta tercatat menjadi lokasi 2 kegiatan besar bersamaan yaitu acara aksi damai Bela Ulama 205 dan pembukaan Gawai Dayak 2017. Sebagai warga dari wilayah yang pernah mengalami konflik horizontal terkait isu SARA, terus terang ada rasa khawatir di hati ini. Saya tahu saya tidak sendiri..

(credit: Christian Holmer @ flickr.com)


Read more…

4.13.2017

Pertama Kali Bermain Kano di Sungai Kapuas

Selasa sore lalu, saya diajak Kakak bermain kano. Katanya sih sekarang ini sudah banyak tempat penyewaan kano di pinggir Sungai Kapuas. Berhubung sempat dan diizinkan Kanda, saya mau saja. Saya pergi bersama Kakak, Abang, dan Isna. Dari kami berempat, hanya saya yang belum pernah naik kano. Ketiganya dulu pernah naik kano di Sambas (tapi belum pernah di Pontianak), kalau saya belum pernah sama sekali.

Pertama Kali Bermain Kano di Sungai Kapuas
Bermain kano, seru!
*Di foto ini saya tidak menggunakan life jacket karena sudah mau pulang (ini di tepi, dekat tempat naik). Mohon tidak ditiru ya. Tetap utamakan keselamatan.


Read more…

4.08.2016

Pameran Ikan Hias dan Aquascape Pontianak 2016

Waktu Kanda mengajak saya jalan-jalan sebentar mencari makan, tanpa rencana kami singgah sebentar di pameran ikan hias dan aquascape di Pontianak Convention Center (PCC). Asyik.
*jadi ingat jaman kami kuliah dulu, suka sekali jalan-jalan lihat pameran ramai-ramai bersama teman-teman sekelas, hehe

photobooth
Foto berdua di photobooth, ihiy..

Read more…

3.21.2016

Equinox di Kota Khatulistiwa (+Random Tips)

Sudah beberapa hari belakangan ini, cuaca terasa panas bedengkang. Em, itu istilah bahasa Pontianak yang artinya panas pake banget.

Awalnya saya pikir hanya saya yang merasakannya, tapi kalau dengar komentar orang di rumah dan teman-teman sekota di medsos sih, semuanya juga merasakan hal yang saya rasakan: Panas, mamen..

(credit: Momo/flickr)

Read more…

1.27.2016

Langit Biru

Dalam perjalanan keluar kota hari ini, saya menikmati langit yang biru, cerah tanpa awan.


Memang belakangan ini langit di tempat kami cepat berubah. Kadang cerah, lalu hujan. Biasanya sih hujan lokal. Setelah itu panas lagi. Kalau sudah mau hujan, gerahnya luar biasa, malah bisa terasa lebih gerah daripada kalau cuaca sedang terang alias cerah. Kalau kata kenalan yang alumni kimia sih, kondisi gerah yang kita rasakan di saat mendung-nyaris-hujan itu disebabkan oleh proses perubahan dari uap air (gas) menjadi air (cair), alias pengembunan atau kondensasi. Kondensasi merupakan kebalikan dari penguapan. Kalau penguapan memerlukan kalor atau energi panas untuk mengubah air (cair) menjadi uap air (gas), kondensasi justru melepas energi panas. Makanya jadi gerah. Fenomena alam ini yang mungkin mendasari orang-orang tua jaman dulu bisa memperkirakan cuaca secara tradisional: kalau merasa gerah berarti hari akan segera hujan. Semakin gerah, semakin lebat. Begitulah.

Oh ya. Ngomong-ngomong tentang langit yang biru cerah sepanjang jalan tadi, saya jadi teringat beberapa bulan lalu, waktu musim kemarau dengan kabut asap tebal (haze) melanda pulau kami. Waktu itu udara pekat oleh asap dan polutan berbahaya lain. Jangankan untuk melihat langit biru, untuk melihat beberapa meter ke depan saja sangat susah. Makanya waktu itu banyak yang rindu langit biru, termasuk saya.

Sekarang musim kabut asap tebal dan gila-gilaan sudah berlalu, alhamdulillah. Sayangnya, seperti perkiraan banyak orang, pihak yang harusnya bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh kabut asap itu justru dibebaskan oleh hakim di negeri ini, dengan alasan yang konyol. Tapi ya sudahlah, balasan tidak hanya dirasakan saat hidup.

Hari ini saya ingin mengingatkan diri sendiri untuk lebih ingat bersyukur atas nikmat yang dimiliki. Hal-hal yang seringkali kita lupakan atau abaikan atau kita anggap sepele, bisa jadi sangat diharapkan oleh orang lain. Seperti langit biru hari ini, atau cuaca Kota Khatulistiwa yang cenderung gerah di musim hujan dan panas di musim kemarau, atau waktu hujan turun deras agak lama yang membuat udara super duper sejuk untuk tubuh-tubuh yang terlalu terbiasa dengan suasana khatulistiwa yang panas dan gerah. Boleh cerita, komentar, atau mengeluh sedikit, tapi jangan berlebihan..

Semoga kita selalu ingat untuk bersyukur atas hal-hal sederhana yang bisa bikin bahagia. Bahagia itu memang sederhana, kan teman-teman? ;)


Read more…

1.26.2016

Curcol Pelanggan PLN Pontianak

Malam ini seperti malam kemarin, mati lampu. Aktivitas ngeblog yang biasa saya lakukan di malam hari sebelum tidur pun jadi kacau balau.


Di kompleks kami, PLN emang nggak asik. Kalau padam suka lama, berjam-jam. Sehari bisa dua kali. Kalau padam tengah malam biasanya kelap-kelip. Saya pernah upload videonya di instagram saya, kalau tidak percaya. Tapi itu di komplek perumahan kami sih. Saya kurang tahu di sudut kota lainnya. Kalau memang hanya di tempat kami, artinya PLN Pontianak benar-benar pilih kasih sama pelanggan, dan itu buruk. Padahal kami kan juga bayar.

Kalau sudah begini, saya cuma bisa melakukan apa yang sudah menjadi hak orang yang terzolimi: BERDOA. Yah, pasti bakal ada yang komentar, lebih baik nyalakan lilin daripada merutuki kegelapan. Benar sih. Saya tidak menyalahkan, tapi tidak menyetujui sepenuhnya. Kita bisa saja mengatur hati dan perilaku kita, tapi kita tidak bisa memaksakan orang lain. Sama seperti kami para konsumen, juga seperti PLN yang bisa seenaknya memadamkan listrik begitu saja.

Jadi, PLN, terima saja doa dari kami yah..


Read more…

10.31.2015

Expo Taman Nasional Danau Sentarum 2015

Sabtu sore, Kanda mengajak saya jalan-jalan sore. Kami sengaja ke A Yani Mega Mall karena ada pameran di sana. Sudah lama tidak jalan-jalan berduaan melihat expo, hehe. Dengan senang hati saya ikut serta.


Tema expo ini menarik, yaitu tentang Eksotisme Ekosistem Lahan Basah di Taman Nasional Danau Sentarum. Expo diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Danau Sentarum dan didukung oleh beberapa LSM yaitu WWF, PRCF, Riak Bumi, Canopy, ADDB, dan Yok Kita Jelajah.

Tadi pas kami datang, ada diskusi terbuka oleh pembicara dari WWF mengenai orang utan. Di akhir diskusi tersebut ada sesi kuis berhadiah merchandise untuk peserta diskusi lho. Saya dengar selain tentang orang utan, akan ada juga diskusi tentang tema lain, tapi saya tidak tahu detail waktunya.


Selain diskusi, yang utama adalah pamerannya. Ada pameran foto dan produk dari Taman Nasional Danau Sentarum. Fotonya bagus-bagus. Pengunjung bisa tahu tentang kekayaan alam dan keberagaman budaya yang ada di sana. Sementara itu produk yang dipamerkan antara lain kain tenun ikat buatan masyarakat di sekitar taman nasional, madu hutan, paket perjalanan wisata, dan lain sebagainya.


Buat teman-teman di Pontianak yang mungkin bingung mau weekend di mana, expo ini bisa dijadikan pilihan tujuan sambil menambah pengetahuan, lho. Lokasinya di depan Gramedia. Expo ini hanya berlangsung 2 hari, yaitu dari tanggal 31 Oktober sampai 1 November 2015. Jadi segera kunjungi yaa!



Read more…

10.30.2015

Dingin

Tidak seperti biasanya. Kemarin suhu udara Pontianak sejuk menusuk tulang. Padahal kota kelahiran saya ini terletak di dataran rendah, datar jauh dari gunung, hanya beberapa meter dari atas permukaan laut, di delta kapuas, tepat di garis khatulistiwa pula. Panas. Apalagi pas di tengah hari. Bedengkang, budak..


Hujan lebat dan lama. Itulah yang terjadi kemarin. Warga Pontianak sudah terbiasa cuaca panas khas Pontianak. Tapi mungkin, justru karena terbiasa dengan cuaca panas itu lah, ketika suhu udara turun sedikit dalam waktu yang singkat, rasanya jadi terlalu dingin. Walaupun tidak sesejuk kawasan pegunungan atau subtropis, tetap saja dingin buat kami yang biasa kepanasan. Brrr..

Hari ini cuaca masih sejuk. Sisa dingin dari hujan yang seharian kemarin sepertinya tertinggal di udara. Tak apa. Ini jauuh lebih baik daripada diliput udara berkabut asap sisa kebakaran lahan gambut yang bikin nafas sesak, mata perih, dan hati sakit. Tambah sakit pas ada yang komentar tanpa simpati. ~Ah sudahlah.

Hari ini udara lebih baik. Cuma ya itu, dinginnya nggak nahan, bung! Bagi yang sedang kurang fit, bisa pilek juga lho. Jadi harus jaga kesehatan dan pakai baju tebal, yaa. *ngomong sama cermin

Saya tidak tahu sampai kapan cuaca sejuk dan udara bersih ini akan bertahan. Apakah besok kabut asap akan kembali walaupun setelah hujan (seperti beberapa waktu lalu), atau sampai siklus musim kemarau tahun berikutnya tiba (dan kabut asap nge-tren lagi, naudzubillah). Entahlah. Yang pasti saya menyukuri keadaan hari ini, saat musim hujan sepertinya mulai datang.

Walaupun sebenarnya agak terlambat dari tahun-tahun sebelumnya, semoga hujan-hujan yang turun nanti membawa keberkahan yang berlimpah dan tidak bermudharat. Aamiin.


Read more…

10.23.2015

Hari Jadi 244 tahun Kote Pontianak

"Heeei sampan laju
Sampan laju dari ilir sampai ke ulu
Sungai Kapuas sunggoh panjang dari dolo' membelah kote

Heeei tak disangke
Tak disangke dolo' utan menjadi kote
Ramai pendudoknye
Pontianak name kotenye.."


Hari ini, 23 Oktober 2015, kota kelahiran saya tercinta, Pontianak, genap berusia 244 tahun.

Harapan saya agak banyak tapi rasanya tidak berlebihan. Semoga kabut asap segera hilang dari langit khatulistiwa. Semoga air leding tidak asin-asin lagi di musim kemarau yang akan datang dan aliran air lancar agar tidak ada lagi genangan air kotor yang mengganggu keamanan dan kenyamanan di musim hujan yang segera menjelang. Semoga listrik tidak lagi byar pret sekehendak hati yang bikin perabot elektronik rusak. Semoga pelayanan umum semakin baik. Dan tak kalah penting, semoga masyarakatnya (termasuk saya) lebih tertib dan lebih bangga dengan kota khatulistiwa tercinta ini. Aamiin.. ^_*

Akhir kata. Selamat hari jadi, Kote Pontianak tecinte! Jaye teros yee.. ^^


Read more…

9.06.2015

Kabut Bikin Ribut

Tadi siang waktu di bandara, ada sedikit insiden kecil. Ribut-ribut di gate yang akan kami masuki. Uwih, ada apakah gerangan?


Sebelumnya, kami bertemu dengan seorang teman kuliah yang akan pelatihan ke Jakarta. Maskapai kami sama. Teman kami itu seharusnya naik pesawat pagi tapi sampai tengah hari belum juga bertolak karena pesawatnya belum mendarat, sementara kami yang penerbangan siang sudah dipanggil ke gate tanda akan segera berangkat.

Aneh sih, tapi sebagai penumpang yang tidak tahu apa-apa, ya kami ikut saja, langsung menuju gate yang ditentukan. Gate masih ramai, riuh rendah malah. Padahal saya sekeluarga sudah telat beberapa menit karena saya dan Kanda singgah ke kamar kecil dulu. Saya yang memegang tiket segera mengantri di kerumunan depan gate.

Ternyata penumpang pesawat pagi melakukan protes kepada petugas bandara, meminta didahulukan. Alasannya karena mereka memesan pesawat pagi, harusnya didahulukan. Sementara itu petugas menjelaskan kondisinya bahwa pesawat yang harusnya datang pagi tidak dapat mendarat. Penumpang pesawat siang dipanggil duluan karena pesawat kode tersebut sudah duluan sampai. Kira-kira begitu.

Kalau saja saya berada di posisi penumpang pagi yang sudah lelah menunggu selama kurang lebih 5 jam, mungkin saya juga bisa bete. Dan bete itu memang bisa menular dengan mengerikan. Walaupun masih banyak juga sih yang terlihat sabar.

Yang membuat runyam adalah karena adanya oknum penumpang pagi yang memprovokasi suasana dengan berteriak-teriak kepada petugas bandara dan memaksa masuk ke pesawat siang apapun keadaannya. Ada juga oknum penumpang pesawat pagi yang malah bertengkar dan marah-marah dengan penumpang siang, padahal kami kan tidak tahu apa-apa. Bingung deh. Keterlambatan semacam ini kan termasuk dalam keadaan memaksa atau force majeure karena kabut asap tebal yang menutupi langit khatulistiwa. Bisa jadi kalau pilot pesawat pagi memaksa mendarat sesuai jadwal, keadaan malah tambah runyam. Tidak perlu saya sebutkan kemungkinannya karena terlalu mengerikan untuk dibayangkan. :(  Untungnya tidak, alhamdulillah. :)

Memang sih kabut asap hasil kerjaan manusia juga, kerjaannya orang-orang yang membakar lahan secara serampangan. Jadi kalau mau marah, saya pikir pihak tidak bertanggung jawab yang membakar lahan itulah yang harusnya diprotes keras. Iya nggak sih?

Kalau kata pepatah lama sih, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hanya karena segelintir orang membakar lahan, orang se-provinsi yang harus menanggung akibatnya. Atau bahkan lebih luas. Di cerita ini, contohnya adalah para penumpang pesawat pagi yang delay sampai 5 jam, petugas bandara, juga kami para penumpang pesawat siang yang dimarahi. Semua adalah korban. Belum ditambah penduduk yang mengalami ispa akibat kabut asap yang semakin tebal.

FYI. Saya pernah baca, kabut asap justru makin tebal di pagi hari. Jadi di musim kabut seperti ini, kalau tidak mendesak sebaiknya pilih penerbangan siang saja. Hanya saran.

Pelajaran lain dari cerita ini, marah itu wajar tapi cara dan kepada siapa melampiaskannya juga perlu jadi perhatian.

Semoga hujan segera turun dan kabut asap di kota kami dan kota-kota lain yang terdampak segera hilang, udara jadi bersih kembali, dan kejadian kabut asap tidak berulang lagi di tahun depan. Aamiin..


Read more…

7.20.2015

Malam Takbiran di Kota Pontianak

Alhamdulillah, lebaran tahun ini saya lalui di kota kelahiran, Pontianak. Di kota khatulistiwa ini, sebenarnya ada tradisi unik setiap jelang bulan syawal. Konon ini ada hubungannya dengan sejarah kota.


Sekadar info bagi yang belum pernah berkunjung atau kurang tahu tentang sejarah kota Pontianak, tradisi unik kota kami setiap jelang idul fitri adalah festival meriam karbit. Sebelumnya sih tidak pakai festival, tapi untuk lebih menertibkan pelaksanaan dan menarik minat wisatawan, maka tradisi lama masyarakat pinggir sungai pun diorganisir.

Seingat saya, dulu meriam karbit sering dinyalakan tanpa jadwal yang jelas dan biasanya tengah malam. Suara yang menggelegar dari meriam bisa terdengar jauh. Dari rumah orang tua saya yang tidak dekat dengan sungai saja bisa terdengar, apalagi dari rumah masyarakat yang tinggal di riparian sungai kapuas. Uwih. Saya jadi ingat cerita salah seorang teman yang rumahnya di salah satu gang yang rutin setiap tahun ber-meriam karbit ria. Katanya, selain suara yang membuat kaget (apalagi dinyalakan di malam hari), kaca rumah pun kadang retak atau pecah karena getarannya.

Ah, saya hampir lupa. Sebenarnya tidak hanya teman saya yang berkata demikian. Kedua orang tua saya juga pernah berkata demikian. Itu karena pengalaman sewaktu masih tinggal di rumah pinggir sungai selama beberapa tahun sebelum menempati rumah kami yang sekarang. Cuma karena saya terlalu kecil untuk mengingat hal tersebut, jadi saya hanya dengar ceritanya saja. :D  Tidak ingat sama sekali dengan sensasinya, walaupun penasaran.

Nah, mungkin karena itu juga, saya oke-oke saja ketika Kanda mengajak saya menyaksikan festival meriam karbit yang diadakan di sepanjang Sungai Kapuas di Kota Pontianak saat malam takbiran di penghujung bulan suci ramadhan tahun ini. Saya ingin membuktikan sendiri. Hihihi. Telat sih, karena ini adalah pertama kalinya dari seumur hidup saya, sengaja menyaksikan kemeriahan meriam karbit di lokasinya langsung. Maklum, selama ini kan hanya mendengar dari kejauhan, sedangkan memori tentang itu waktu kecil dulu, sudah hilang. Jadi harus deh. Sebagai orang yang lahir dan besar di Pontianak, lucu juga rasanya mengingat saya tidak pernah lihat penyulutan meriam karbit. Kebetulan karena tahun ini lebaran di Pontianak, plus ada mahram yang ngajak, jadi saya pun mengiyakan walaupun awalnya agak malas-malasan karena harus melakukan 2 hal yang kurang saya sukai (keluar malam dan berada di keramaian). :p

Sekitar pukul 9 malam, kami dan beberapa teman suami (Agri, Kojay, Pian) berkumpul sekalian bersilaturahmi karena sudah lama tidak berjumpa. Apalagi dua orang dari teman Kanda tersebut pernah membantu saya waktu penelitian skripsi di Gunung Passi dulu. Seru saja. Sayangnya hanya Agri yang membawa istri ikut serta.

Sekitar pukul 10 malam kami menuju ke Gang Kamboja, salah satu gang yang jadi pintu masuk ke pinggiran sungai. Sebenarnya ada banyak lagi gang lain, tapi berhubung yang pernah nonton mengajak lewat gang tersebut, jadi ya begitu.

Benar perkiraan saya, gertak di gang-gang pinggir sungai sudah padat dipenuhi orang-orang yang sama dengan kami. Sebenarnya di jalan raya pun sudah terlihat. Untuk standar jam istirahat seperti itu, kemacetan adalah suatu hal yang tidak terlalu lumrah di kota ini. Kecuali di persimpangan lampu merah atau sekolah saat jam masuk kerja dan sekolah.

Setelah masuk gang, yang bagian ujung dekat sungainya bersambungan dengan gang lain oleh gertak yang sejajar sungai, suasana seru mulai terasa. Degum meriam makin kuat, beriringan dengan kumandang takbir kemenangan. Sayangnya, banyak juga saya lihat sendiri pemandangan kurang baik, seperti anak-anak muda yang berpakaian dugem (tahu kan maksudnya?) masuk ke cafe kayu pinggir sungai yang lampunya remang dan kelap-kelip mirip lampu disko. Ada juga yang memutar lagu house music ala diskotik, mengalahkan suara takbir di masjid seberang. Miris, apalagi ini terhitung masih ramadhan (hanya saja sudah sangat di penghujung) dengan takbir mengantar kepergiannya. :|  Untungnya banyak juga yang normal. Hanya tempat makan tanpa musik. Kami sendiri memilih singgah di salah satu perahu galaherang yang masih tertambat namun sudah siap berangkat. Tak menunggu lama, perahu galaherang yang sudah penuh penumpang pun berangkat, mengantarkan kami menyusuri sungai kapuas yang meriah dengan takbir kemenangan dan meriam yang bersahutan. Sungai malam terlihat gelap, misterius, dan hanya terlihat riaknya. Jujur, saya sempat khawatir. Alhamdulillah, sampai kembali ke lokasi awal di dekat gang kamboja, tiada kurang apapun kecuali 15 ribu per orang dan telinga yang agak nguing~nguing karena "ditembak " beberapa jejer meriam karbit yang dilewati. Benar-benar pengalaman yang mengesankan. ^^

Saking serunya, saya tidak bisa mengambil gambar dengan cukup baik, selain karena keterbatasan kamera dan gelapnya sungai.

Setelah turun dari perahu, kami ke salah satu jejeran meriam karbit terdekat, ke arah jembatan kapuas. Saya kurang tahu itu di muara gang apa. Yang jelas di situ lebih ramai lagi. Rupanya orang banyak yang mengantri ingin menyulut meriam karbit. Agri yang awalnya ingin mencoba, urung. Jadinya kami hanya menikmati suasana di dekat situ.

Sekadar info, hanya menonton pun seru lho! Suara meriam karbit dari dekat memiliki sensasi yang luaaar biasa. Belum dihitung angin yang berhembus dengan kencang yang dihasilkan ledakan karbit. Karena ini, tiba-tiba saya teringat dengan saudara-saudara muslim di Palestina yang ditembaki bom dan peluru. Apa kabar mereka ya? :'


Read more…

7.15.2015

Ngopi di Warung Kopi

Sebagian besar orang mungkin menganggap menikmati secangkir kopi di warung kopi adalah hal yang sangat biasa. Apalagi kalau tinggal di kota yang memang banyak warkop nya, seperti di kota Pontianak atau kota lain di Kalimantan Barat. Menikmati kopi dalam kehidupan sehari-hari telah menjadi budaya masyarakat. Namun buat saya, yang memang bukan pencinta minuman hitam berbau wangi itu, menikmati secangkir kopi (ngopi) di warkop adalah sesuatu yang mengesankan.





Terus terang saja, sampai seusia sekarang. Baru satu kali (beberapa hari lalu, lupa tanggal), saya menyempatkan diri khusus untuk mencoba ngopi di warkop. Sebelumnya pernah sih singgah di warkop, tapi itu sebatas singgah waktu di perjalanan. Di provinsi kami tidak ada yang namanya tempat istirahat khusus pemudik (rest area), jadi kalau mudik ya singgahnya di resto atau warung kopi yang tersedia di sepanjang jalan menuju kota tujuan. Asyik kan..

Keluarga saya sering singgah di warkop untuk beristirahat saat perjalanan ke luar kota. Tapi buat saya walaupun namanya warkop, saya selalu pesan teh hangat dan sebutir telur setengah matang. Nyam! Dulu kecil juga suka dibelikan camilan, tapi biasanya harganya lebih mahal daripada kalau bekal, jadinya sekarang lebih suka bawa sendiri dari rumah, kalai sempat..

Nah, beberapa hari lalu itu, saya dan Kanda diajak Kakak dan Abang ipar untuk mencicip nuansa ngopi di salah satu warkop besar di Pontianak. Kanda sih senang saja karena memang suka kopi. Pun sudah biasa ngopi bersama teman-temannya. Sedang saya, diantara berempat itu hanya saya yang lebih memilih susu coklat atau air jahe atau teh, daripada kopi. Hehehe

Sebenarnya di warkop yang kami kunjungi itu menyediakan minuman lain juga, menurut Kakak dan Abang. Tapi, demi menghayati nuansa warkop, saya coba pesan kopi susu. Selama tidak berlebihan dan jarang-jarang, saya rasa tidak masalah. Tidak asal anti ini itu. Be moderat, prinsip yang coba saya terapkan saat ini. Insya Allah itu yang diajarkan Rasul kan.. ;)

Nah, lucunya, karena saya sudah bertahun-tahun tidak minum kopi, ternyata ada juga pengaruhnya. Walaupun saya menikmati aroma dan rasa kopinya, tapi efek kopi yang membuat mata terjaga cukup menyiksa karena subuh hari harus bangun sahur. :D  Rupanya tidak hanya saya yang terpengaruh kopi. Kanda dan Kakak juga mengalami hal serupa. Mungkin karena sudah lama tidak ngopi di rumah. Sedang Bang Pari, abang ipar saya, tidak terlalu terpengaruh karena sudah biasa ngopi. Tapi karena sebulan belakangan ia kebiasaan tidur malam, jadi ya gitu deh. Kami berempat terjaga sepanjang malam. Sampai di rumah sekitar pukul 11 malam, kami lanjut bertukar cerita sampai tak terasa pukul 1 malam. Masuk kamar sekitar jam 1, saya pribadi tidak bisa langsung tidur dan itu cukup menyiksa.

Memang luar biasa ya, efek kopi itu. Jadi saya rasa sebaiknya efek ini dimanfaatkan hanya pada saat diperlukan saja, tidak setiap hari. Dan untuk para wanita juga sebaiknya dibatasi karena menurut penelitian, kopi dapat menyerap kalsium dan secara tidak langsung menjadi pendorong osteoporosis. Gitu deh. Intinya, konsumsi secara moderat.

Yang pasti, saya sangat menikmati waktu kami ke warkop kemarin. Waktu tertawa bersama sambil menyeruput kopi susu dan mengunyah burger yang gratisan dari Kakak dan Abang. Sweet moment should be remembered, right? ^^


Read more…

3.25.2015

Antara Sotong dan Cumi

Tahukah teman, orang Pontianak (seperti saya) mungkin akan berkata bahwa duku itu (cenderung) asam dan langsat itu (cenderung) manis. Padahal menurut kebanyakan orang di Indonesia, duku lah yang (cenderung) manis. dan justru langsat yang (cenderung) masam. Ternyata, langsat-nya Pontianak adalah duku-nya Indonesia, sedangkan duku-nya Pontianak adalah langsat-nya Indonesia. Sama halnya dengan cerita sotong dan cumi. Di Pontianak, "sotong" adalah binatang yang oleh kebanyakan orang Indonesia disebut "cumi", sedangkan "cumi" (Indonesia) dinamai "sotong kodok" oleh orang Pontianak.

Singkatnya:
Langsat (Indonesia) = duku (Pontianak)
Duku (Indonesia) = langsat (Pontianak)
Squid (Inggris) = cumi (Indonesia) = sotong (Pontianak)
Cuttlefish (Inggris) = sotong (Indonesia) = sotong kodok (Pontianak)

Nah loh. Pusing? :D



Read more…

3.23.2015

Banjir Pontianak dan Alternatif Solusi

Abaikan judulnya yang terlalu serius. hehe Intinya saya mau cuap-cuap. :v

Banjir adalah fenomena alam yang rutin terjadi di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Kota Pontianak. Fenomena alam berdampak negatif ini membuat saya berpikir lebih jauh, apakah dulu di Pontianak juga kerap banjir? Yah, tidak mustahil sih, karena Kota Pontianak terletak di delta yang notabene rawan banjir (istilahnya, dataran banjir). Tapi, apakah dulu banjir terjadi sesering sekarang, sedalam sekarang, dan secepat sekarang?

Banjir Pontianak dan Alternatif Solusi

Read more…

9.23.2014

Pontianak Punya (Banyak) Cerita

Arrrgggh... Sebeeeeel sekali. Setiap kali googling tentang kota Pontianak tercinta, selaluuu saja muncul gambar wanita kucel-berambut hitam pekat panjang sepinggang-berbaju putih-dengan senyum menyeringai itu. heuheu..

No need to mention. -_-

Read more…

10.23.2013

Selamat Ulang Tahun, Pontianak!

Kemarin sepupu datang ke rumah untuk meminjam baju telo' belanga' milik Bapak, untuk dipakai oleh anaknya ke sekolah hari ini. Menurut keterangan dari sepupu saya itu, dalam rangka memperingati ulang tahun kota Pontianak ke-242 hari ini, para siswa dan guru dihimbau untuk menggunakan pakaian adat Melayu, baju telo' belanga' bagi para pria dan baju kurung bagi para wanita. Wah... :D

Read more…

10.19.2013

Janjian di Alun-Alun Kapuas [Foto]

Foto-foto ini diambil saat jalan-jalan malam hari bersama keluarga di Alun-Alun Kapuas Kota Pontianak (depan korem), hari Rabu tanggal 16 Oktober 2013. :)

Read more…

9.19.2013

Pilwako Pontianak 2013

Hari ini hari yang cukup bersejarah pada tahun ini, bagi kota Pontianak. Itu karena Pilwako alias Pemilihan Walikota dimana pada hari ini masyarakat kota diberikan kesempatan memilih pemimpinnya. Kata orang, ini pesta demokrasi...

Dari enam pasang itu, entah siapa nanti yang akan menjadi walikota. Maklum saya tidak bisa mereka-reka kekuatan politik dan kebetulan tidak juga terlalu tertarik dengan politik. Meskipun begitu, untuk pemilihan kali ini saya memutuskan tidak golput. Ada salah satu calon yang oke di hati. Nomor berapa? Rahasia.

Read more…

10.23.2012

Dirgahayu Pontianak!

Apa yang telah berubah dari Pontianak? Masih kah dengan kekhasan daerahnya, atau telah digerus oleh kekhasan modernisasi dan globalisasi? Masih panas dan gerah ala khatulistiwa, atau tambah panas dan gerah karena sumpek dan polusi?

Jika sekarang sedang tren pakaian-pakaian korea atau batik motif jawa di etalase-etalase toko, saya membayangkan beberapa tahun ke depan akan ada tren dari kain motif sirip insang dan teluk belanga.
Jika sekarang dunkin donuts atau 7co merajai dunia cemilan anak muda, saya membayangkan beberapa tahun ke depan akan ada tren gaul dari bingke berendam, berbagai kreasi air tebu, putu buloh kaya rasa, atau kopi pancong.
Jika sekarang bahasa korea menjadi tren di lingkungan muda, saya membayangkan akan ada pula tren orang korea yang belajar bahasa kita.
~Hehehehe, siapa tau, kan?

Akan ada masa dimana para anak muda bangga dengan budaya daerahnya. Selama budaya itu baik, saya dukung sepenuhnya.. :) Menjadi tuan rumah di tanah sendiri!

Dirgahayu Pontianak!

Read more…