Tampilkan postingan dengan label Reminder. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reminder. Tampilkan semua postingan

5.18.2026

Peniru Profesional

Anak-anak itu peniru. 

Saat kita berdalih dengan perkataan "namanya juga anak-anak", kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa ketika anak-anak "bertingkah", bisa jadi mereka sedang dalam mode meniru perilaku orang-orang terdekatnya, yaitu ibu dan ayah mereka. Bisa juga orang-orang yang paling sering berinteraksi dengan mereka atau orang-orang yang pernah mereka temui.

Jika itu perilaku salah, maka selayaknya ibu dan ayah segera introspeksi dan memperbaiki diri. Jangan denial. Tenangkan pikiran. Kita semua sedang belajar. 

Jangan salahkan anak-anak karena meniru. Salahkan orang dewasa yang gagal memberi teladan yang baik dan orang dewasa yang gagal memberikan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Sadari kesalahan itu, dan PERBAIKI.

Ini reminder bersama, demi masa depan yang lebih baik. 

NB:
Iya, Chia hari ini di-bully anak orang (tidak kenal sebelumnya, ketemu di taman). Semoga setelah ditegur, orang tua dari anak pembully itu sadar dan memperbaiki diri, agar anaknya bersikap lebih baik karena meniru orang tuanya memperbaiki diri. Aamiin.

Read more…

1.26.2023

"Baik Bu, Terima Kasih"

Disclaimer: tulisan ini terinspirasi kisah nyata dari interaksi dengan oknum mahasiswa saya yang memang agak "ajaib". Tidak ada tujuan menjelekkan orangnya karena sama sekali tidak menyinggung nama ybs. Saya cuma merasa perlu menceritakan dan berharap tidak berulang di masa depan. 

***

Pas diingatkan untuk segera mengerjakan, jawabannya "baik bu, terima kasih", tapi entah apakah dia mengerti arti kata segera.

Pas udah janjian ketemu, jawabannya "baik bu, terima kasih" tapi kemudian tidak hadir dan tanpa kabar. Ya ngabarin sih, tapi setelah berniat mau ketemu lagi, ahai.

Pas akhirnya jadwal ulang ketemuan, datangnya telat sejam dari janji. Dia yang perlu, dia yang menyuruh nunggu.

Pas diingatkan "jangan ulangi ya", "jangan menghilang lagi ya", "segera dikerjain ya", jawabannya sungguh merdu di telinga, "baik bu, terima kasih" tapi ternyata, yaa gitu deh. Diulang lagi, menghilang lagi, berlama-lama lagi.

Dan sekarang, jadwal orang lain udah move on, dianya (tentu saja) belum bisa move on. Sakitnya, jadi ganggu jadwal orang lain. Entahlah dia pernah mikirin ini atau tidak, karena tiada maaf pernah terucap.

Waktu mepet, maunya ketemuan lagi. Pas dijawab, "boleh, saya bisa hari ini", lah dianya malah balas jawab, "oh saya tidak bisa hari ini". (--__--) Ya Allah, cobaan, tapi ya sudahlah, "Ok kalau begitu cetak saja, letakkan di atas meja saya". Jawabannya, you guess it right, "baik bu, terima kasih", tapi sampai sepekan tidak ada kabar sama sekali.

Udah dibilangin sebelumnya, "memori saya penuh, jadi jangan kirim soft file ya, hard copy saja. Print pake kertas bekas juga ndak papa, hitam putih saja". Tentu dijawabnya "baik bu, terima kasih" tapi kemudian menghubungi lagi dan menyatakan maunya kirim screenshot saja. "Perbaikan saya ndak banyak kok", tambahnya lagi. Deuh, emangnya dia pikir saya buta atau apa ya, karena faktanya, hasil kerjaannya adalah salah satu yang terminim yang pernah saya baca. Begitu over estimate sekali dia sama kerjaannya. Akhirnya saya cuekin. Capek kalau harus ngerespon yang model begitu. Dikasih hati malah nambah mintanya: jantung, empedu, usus, sama kantung kemih sekalian, heuheu.. :'/

Meskipun kata-katanya (kayak) santun banget: "baik bu, terima kasih", tapi kalau tanpa tindakan selaras ujungnya malah jadi niradab. Naudzubillahi min dzalik. 

Semoga di masa depan tidak ketemu model seperti ini maupun yang lebih parah. Dan yang paling utama, semoga saya (dan yang membaca ini sampai habis) juga tidak terjerumus dalam akhlak buruk sedemikian, aamiin


Kota Terigas, 26 Januari 2023

Read more…

1.25.2023

LAPORAN YANG MENGGANGGU!!

Seperti biasa, akhir semester adalah saatnya bagi para dosen mengoreksi banyak hal, termasuk laporan-laporan dari para mahasiswa tercinta. Tak terkecuali laporan magang. FYI, di pendidikan vokasi (politeknik), magang dilakukan lebih banyak porsinya daripada pendidikan akademik (universitas). Di prodi tempat saya mengabdi, magang dilakukan sebanyak 2 kali, jadi di akhir semester genap menguji laporan magang fase 1 dan di akhir semester ganjil menguji laporan magang fase 2.

Sayangnya, tahun ini saya mengetahui sesuatu yang cukup miris. Di bagian saran salah satu mahasiswa magang (bukan bimbingan saya), tertulis sebuah saran yang spektakuler: saran menghapuskan kewajiban magang fase ke-2 karena menurutnya pembuatan laporan magang adalah hal yang sia-sia dan mengganggu waktu penyusunan proposal penelitiannya yang waktunya begitu sedikit. Waktu mengetahui hal ini, reaksi pertama saya adalah: Wow.. just wow. haha. Sementara rekan saya yang lainnya berkata "mungkin skripsi sebaiknya dihapus juga, karena mengganggu masa hidup yang sangat pendek". Analogi yang sungguh mengena dan setara dengan pernyataan mahasiswa yang bersangkutan (ybs), namun di saat yang sama sangat membagongkan. Saya semakin tertawa. 

Ingin saya mengatakan kepada mahasiswa-mahasiswi kami tercinta:
"Membuat laporan, sayang, adalah salah satu skill mendasar yang membedakan kamu dan orang yang tidak mengecap pendidikan. Mereka bisa saja pandai bekerja, tapi membuat laporan, belum tentu. Karena jelas sekali, menulis adalah hal yang sulit, dan untuk menguasai ini maka ia perlu diasah, dilatih, dan diulang-ulang, terus-menerus tanpa bosan, tanpa malu saat diberi masukan. Menulis memerlukan keluasan dan keterbukaan pikiran. Inilah yang diasah di bangku perkuliahan.

Bahkan, sayang, skill menulis laporan amat sangat penting dan berguna saat sudah bekerja nanti. Pekerja tidak akan pernah lepas dari yang namanya laporan, di manapun ia bekerja: swasta kek, negeri kek, wirausaha kek. Kamu bilang mau jadi bos? Maka kamu harus tahu seperti apa dan bagaimana cara membuat laporan yang baik itu. Omong kosong menjadi bos jika otak kosong melompong. 

Kita hanya bisa mengukur keberhasilan pencapaian target dari menunjukkan laporan, yang selaras dengan hasil di lapangan, tentunya. Tidak ada pekerja yang lepas tanggung jawab dari menulis laporan, karena laporan tertulis bersifat dapat dibaca berulang sehingga bisa dicek kebenarannya. Beda dengan laporan lisan, yang sangat mungkin indah penuh dengan bunga, padahal banyak comberannya. Jadi laporan adalah bukti sikap bertanggung jawab. 

Maka, berusahalah belajar menulis meskipun sulit, meskipun banyak revisi. Inilah saatnya belajar, karena saat bekerja nanti akan lebih sulit untuk belajar."

Btw, berhubung saya tahu mahasiswa ybs malas-malasan saat magangnya, saya hanya tersenyum tipis. Benar lah bahwa hanya orang yang bekerja lah yang mampu melaporkan hasil. 

Ini pengingat juga untuk saya. 

With love
Kota Terigas, 25 Januari 2023

Read more…

5.05.2022

Sangka

Aku tidaklah sebaik yang aku sangkakan pada diriku sendiri
Demikian pula kamu, tidaklah sebaik yang kamu sangkakan pada dirimu
Kita semua sama
Kita memiliki kecenderungan untuk merasa benar
Setidaknya dari satu sudut pandang: kita sendiri

Kita mengatakan hal yang tidak seharusnya
Melakukan hal yang tidak sepatutnya
Atau mungkin sebaliknya, 
Tidak melakukan yang sepatutnya dilakukan
Tidak mengatakan yang seharusnya dikatakan

Tapi seringkali kita lupa
Hanya mengingat betapa buruknya perlakuan orang lain kepada kita, tanpa mengingat awal segalanya bermula
Merendahkan manusia, tanpa takut kondisi yang sama menanti di muka

Itulah manusia
Pelaku dari khilaf, salah, dan lupa
Kalau kamu lupa tentang itu, semoga ingat membaca ini lagi

#sebuah self-reminder
4 Syawal 1443 H

Read more…